OPTIMASI DAN VALIDASI METODE ANALISIS NATRIUM SITIKOLIN DALAM SEDIAAN INJEKSI INCELIN DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FAKULTAS

GALIH RIDHO RAMADHAN, 051011092 (2014) OPTIMASI DAN VALIDASI METODE ANALISIS NATRIUM SITIKOLIN DALAM SEDIAAN INJEKSI INCELIN DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FAKULTAS. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2016-ramadhanga-40037-3.ringka-f.pdf

Download (298kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
OPTIMASI DAN VALIDASI METODE ANALISIS NATRIUM SITIKOLIN DALAM SEDIAAN INJEKSI INCELIN.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Untuk menjamin kualitas sediaan obat yang beredar di masyarakat, maka perlu dilakukan pengawasan secara intensif terhadap bahan aktif yang terkandung di dalam sediaan obat. Upaya tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan pada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimum, tanpa mengabaikan mutu pelayanan dalam hal ini termasuk pengadaan dan pengawasan mutu obat – obatan (Direktorat jendral pengawasan obat dan makanan, 1985). Natrium sitikolin merupakan serbuk putih yang mudah larut dalam air, namun tidak larut dalam aseton, etanol, dan kloroform. natrium sitikolin tidak stabil terhadap kondisi asam, oksidatif, dan alkali. Namun natrium sitikolin tahan terhadap panas dan cahaya (Jimmi A. Patel, Jul-Sep 2011). Natrium sitikolin merupakan derivat dari cytidine dan choline (Surani, 2000). Metode yang dapat digunakan untuk analisis natrium sitikolin antara lain spektrofotometri (Minakshi M. Dhoru, 2012). Metode KCKT merupakan metode pemisahan, sehingga lebih selektif dibandingkan dengan metode spektrofotometri. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dapat digunakan untuk determinasi natrium sitikolin dalam bentuk sediaan injeksi, oral drops, dan tablet (Surani, 2000). Adapun kelebihan dari metode kromatografi cair kinerja tinggi adalah lebih cepat, lebih teliti, lebih murah, dan lebih tepat (Sonali O. Uttarwar, 2010). Metode eluasi yang dilakukan oleh (Argal, 2013) adalah metode eluasi dengan fase gerak buffer TBAHS dan methanol (95 : 5 v/v), menggunakan kolom Nucleosil (250mm x 4.60mm), laju alir 1,00 mL/menit, dan waktu yang dibutuhkan untuk satu kali eluasi adalah 10 menit. Walaupun waktu retensi yang didapat relatif cepat, namun untuk industri farmasi dibutuhkan waktu retensi yang lebih cepat lagi sehingga dapat menghemat biaya dan waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimal dan mendapatkan metode yang valid untuk analisis natrium sitikolin dalam sedian injeksi incelin secara KCKT. Pada awal penelitian ini, dilakukan penentuan panjang gelombang optimal yang terpilih dari natrium sitikolin dengan detektor DAD pada KCKT pada rentang panjang gelombang 200 - 400 nm. Diperoleh panjang gelombang terpilih pada 276 nm. Optimasi kondisi KCKT dilakukan untuk mendapatkan hasil waktu retensi yang lebih cepat dari penelitian yang dilakukan oleh Argal (Argal, 2013). Dilakukan optimasi terhadap komposisi fase gerak dan laju alir. Dari hasil percobaan optimasi kondisi, didapatkan kondisi optimal dimana komposisi fase gerak yang digunakan adalah dapar fosfat pH 5,5 – metanol (95:5) dan kecepatan laju alir 1,5 mL/menit. Pengujian kondisi KCKT dengan komposisi fase gerak dan kecepatan alir yang akan digunakan untuk analisis dengan menggunakan kondisi KCKT yang telah terpilih. Setelah dilakukan pengujian dan pertimbangan beberapa faktor dalam memilih komposisi fase gerak terpilih yaitu, harga resolusi (Rs), asymmetry factor, theoritical plate (N), dan waktu retensi, maka didapatkan bahwa kondisi tersebut dapat digunakan untuk menganalisis natrium sitikolin dalan sediaan injeksi incelin. Karena pada kondisi tersebut, harga Rs masing-masing peak tidak terlalu mendekati, namun juga tidak terlalu jauh dari batas minimum (Rs > 1,5) sehingga tetap efisien waktu dan biaya. Selain itu, pada kondisi tersebut memiliki asymmetry factor < 1,5, theoritical plate > 2000, dan waktu retensi juga relatif lebih cepat. Kriteria penerimaan metode analisis berdasarkan USP (2009): asymmetry factor < 1,5; theoritical plate > 2000., dan waktu retensi juga relatif lebih cepat. Untuk mengetahui selektivitas suatu metode yang digunakan, dapat dilihat dari daya keterpisahan (resolusi) kedua puncak dan puncak yang dihasilkan harus murni. Pada kromatogram kondisi terpilih, terlihat puncak natrium sitikolin dengan waktu retensi 3.162 menit terpisah dari puncak pengotor dengan waktu retensi 5.233 menit dengan nilai Rs = 8.228 sesuai persyaratan untuk nilai resolusi yaitu > 1,5 (Hamilton & Sewell, 1978). Dapat disimpulkan bahwa metode ini tergolong selektif dalam menganalisis natrium sitikolin dalam sediaan injeksi incelin. Penentuan linieritas diperlukan untuk mengetahui apakah metode yang digunakan mampu untuk mendapatkan hasil analisis yang proporsional dengan konsentrasi analit dalam sampel pada range yang diberikan (Harmita, 2004). Setelah didapatkan area pada kromatogram, kemudian dibuat kurva kalibrasi sehingga diperoleh persamaan regresi y = 5991.27x+76214.9 dengan r hitung = 0,9990. Hal ini menunjukan bahwa ada hubungan linier antara konsentrasi natrium sitikolin pada rentang konsentrasi 173.920-325.730 ppm terhadap area natrium sitikolin. Parameter adanya hubungan linier dinyatakan dengan koefisien korelasi, dan suatu metode analisis yang valid mempunyai harga koefisien korelasi lebih dari 0,999 (Snyder et al., 1997). Pada penentuan akurasi yaitu kedekatan antara konsentrasi rata-rata analit yang terukur dengan konsentrasi analit yang sebenarnya yang dinyatakan dalam % recovery. Pada penelitian ini diperoleh harga rata-rata persen perolehan kembali sebesar 99.05%-101,09% dimana diketahui persyaratan persen perolehan kembali sebesar 98% - 102% (USP Medicines Compendium, 2013) sehingga dapat dikatakan bahwa akurasi pada penelitian ini memenuhi persyaratan validasi Presisi dilakukan terhadap satu sampel natrium sitikolin dalam sediaan injeksi incelin dengan kondisi yang sama. Sampel dianalisis dengan replikasi sebanyak 6 kali. Dari penentuan ini didapatkan hasil yaitu diperoleh harga RSD = 0,53%. Harga RSD area dan waktu retensi sesuai dengan kriteria penerimaan dimana nilai RSD untuk studi penetapan pada produk akhir adalah ≤ 2% (keterulangan; n ≥ 6) atau ≤ 3% (presisi antara ≥ 6 ) (Yuwono dan Indrayanto, 2005). Untuk penentuan robustness dilakukan perubahan laju alir (+0.2 mL/menit), perubahan suhu (+5 oC), perubahan komposisi fase gerak (+ 2 %), dan perubahan pH fase gerak (+ 0.5) dari kondisi awal. Ada 3 parameter yang perlu diperhatikan pada penentuan robustness, yaitu harga T (tailing factor), N (Theoretical Plate) dan RSD area. Pada kondisi yang standar didapatkan harga T=0.97; sedangkan harga N=3436.91; untuk RSD area didapatkan 0.12. Untuk perubahan laju alir 1.3 mL/min didapatkan harga T=0.89; sedangkan harga N=2841.22; untuk RSD area didapatkan 0.27. Untuk perubahan laju alir 1.7 mL/min didapatkan harga T=0.91; sedangkan harga N=2317.92; untuk RSD area didapatkan 0,10. Untuk perubahan suhu 30oC didapatkan harga T=1.60; sedangkan harga N=2666.32; untuk RSD area didapatkan 0,16. Untuk perubahan komposisi fase gerak (organik 7%) didapatkan harga T=0.93; sedangkan harga N=3423.67; untuk RSD area didapatkan 0,05. Untuk perubahan komposisi fase gerak (organik 3%) didapatkan harga T=1.02; sedangkan harga N=3949.51; untuk RSD area didapatkan 0.24. Untuk perubahan pH fase gerak (5,0) didapatkan harga T=1.13; sedangkan harga N=3459.77; untuk RSD area didapatkan 1.76. Untuk perubahan pH fase gerak (6,0) didapatkan harga T=0.97; sedangkan harga N=3722.67; untuk RSD area didapatkan 0.04. Uji robustness dipersyaratkan harga T < 2.0, N >1000, dan RSD area < 2.0. Jadi dapat dikatakan memenuhi persyaratan dari (USP Medicines Compendium, 2013). Namun untuk perubahan kondisi suhu menjadi 20 oC, tidak bisa dilakukan penelitian dikarenakan oven yang digunakan tidak mampu mencapai suhu yang diinginkan. Dari hasil validasi metode analisis yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah valid dan dapat digunakan untuk metode uji analisis natrium sitikolin dalam sediaan injeksi incelin secara KCKT

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF KF 10/15 Ram o
Uncontrolled Keywords: citicoline sodium, HPLC, injection, validation, mobile phase, flow rate.
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS200-201 Pharmaceutical dosage forms
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Kimia Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
GALIH RIDHO RAMADHAN, 051011092UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorM. Yuwono, Prof. Dr. rer. nat., MS.,AptUNSPECIFIED
Depositing User: Ani Sistarina
Date Deposited: 29 Jan 2016 12:00
Last Modified: 27 Jul 2016 05:21
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/8789
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item