KEPUASAN PASIEN TERHADAP PEMBERIAN INFORMASI OBAT PADA PELAYANAN SWAMEDIKASI DI BEBERAPA APOTEK DI WILAYAH SURABAYA BARAT

RATNA KURNIA ILLAHI, 050212539 (2006) KEPUASAN PASIEN TERHADAP PEMBERIAN INFORMASI OBAT PADA PELAYANAN SWAMEDIKASI DI BEBERAPA APOTEK DI WILAYAH SURABAYA BARAT. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
gdlhub-gdl-s1-2007-illahiratn-4382-ff6007-k.pdf

Download (464kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-illahiratn-4382-ff6007-min.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pengobatan sendiri (swamedikasi) merupakan bagian dari upaya masyarakat menjaga kesehatannya sendiri (Sukasediati, 1999). Data di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 60% masyarakat memilih swamedikasi dengan obat modern sebagai tindakan pertama bila sakit (Suryawati, 1997). Swamedikasi didefinisikan sebagai pemilihan dan penggunaan obat modern, herbal, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit atau gejala penyakit (WHO, 1998). Beberapa faktor yang mendasari mengapa seseorang melakukan swamedikasi adalah tingkat pendidikan yang cukup tinggi (PAHO, 2004), faktor sosio-ekonomi, kemudahan akses pada produk obat, manajemen penyakit dan rehabilitasi, demografi dan epidemiologi, reformasi pada sektor kesehatan dan juga ketersediaan produk-produk baru yang mudah digunakan (WHO, 1998). Farmasis memiliki peran yang penting dalam swamedikasi. Peran farmasis ini didasarkan pada filosofi Pharmaceutical Care. Secara lebih spesifik, peran dan tanggung jawab farmasis dalam swamedikasi menurut WHO adalah sebagai komuni-kator (communicator), yaitu dengan memberikan informasi yang obyektif tentang obat kepada pasien agar pasien dapat menggunakan obat secara rasional (WHO, 1998). Tanggung jawab ini akan dinilai oleh masyarakat dalam bentuk kepuasan, sekaligus sebagai salah satu bentuk evaluasi terhadap Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (Depkes RI, 2004). Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana kepuasan pasien terhadap pemberian informasi obat pada pelayanan swamedikasi di beberapa apotek di wilayah Surabaya Barat. Teknik penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan metode sampling nonprobabilitas, yaitu purposive sampling (cara keputusan), dengan kriteria apotek diantaranya apotek yang cukup banyak didatangi pasien yang melakukan swamedikasi, dan kriteria pasien yaitu pasien yang datang sendiri ke apotek untuk melakukan swamedikasi. Dari kriteria tersebut, terpilih 9 sampel apotek dengan jumlah pasien sebanyak 80 orang yang tersebar di 9 apotek tersebut. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, yang telah diuji validitas muka dan uji validitas isi, serta uji realibilitas dengan metode Cronbach 's Alpha. Data demografi yang didapat dari kuesioner dianalisis secara deskriptif untuk melihat distribusi sampel pasien, meliputi distribusi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Sampel terbanyak berada pada rentang usia 26 sampai 35 tahun yaitu sebanyak 40%, jenis kelamin pria sebanyak 62,5%, tingkat pendidikan SMA sebanyak 52,5%, dan pekerjaan sebagai karyawan swasta sebanyak 42,5%. Analisis tingkat kepuasan pasien dilakukan dengan menggunakan matriks tingkat kepentingan dan kinerja. Dengan metode ini, tingkat kepentingan pasien dikaitkan dengan tingkat kinerja yang dirasakan oleh pasien pada sebuah diagram kartesius. Kuadran pertama berisi faktor-faktor yang dianggap penting oleh pasien namun kinerjanya dirasakan kurang baik. Variabel yang berada dalam kuadran ini sebanyak 22,72% dari keseluruhan variabel, yaitu kehandalan (reliability) dalam memberikan informasi tentang efek samping obat (6d), cara penyimpanan obat (6g), obat lain yang harus dihindari selama meminum obat (6i), makanan yang harus dihindari selama meminum obat (6j), dan waktu obat harus dibuang atau tidak digunakan lagi (6k). Kuadran kedua berisi faktor-faktor yang dianggap penting oleh pasien dan kinerjanya dinilai baik. Variabel yang berada dalam kuadran ini sebanyak 40,9% dari keseluruhan variabel, yaitu kehandalan (reliability) dalam memberikan informasi tentang kekuatan obat (6b), kegunaan obat (6c), dan aturan pakai (6e). Selain itu, daya tanggap (responsiveness) dalam menjawab pertanyaan dengan baik (7), empati (empathy) yang berupa kesopanan (9), keramahan (10) dan pemberian informasi dengan bahasa yang mudah dimengerti (11), kepastian/jaminan (assurance) berupa informasi yang dapat dipercaya (12) dan kesempatan untuk bertanya apabila ada hal-hal yang kurang dimengerti (14). Kuadran ketiga berisi faktor-faktor yang dianggap kurang penting oleh pasien dan kinerjanya juga dirasakan kurang baik. Variabel yang berada dalam kuadran ini sebanyak 27,27% dari keseluruhan variabel, yaitu kehandalan (reliability) dalam memberikan informasi tentang cara kerja obat (6f), aktivitas yang hams dikurangi selama meminum obat (6h), dan saran untuk melakukan konsultasi/merujuk kepada dokter (61), daya tanggap (responsiveness) dalam memberikan informasi sebelum pasien bertanya (8), kepastian/jaminan (assurance) berupa upaya untuk mengkonfirmasi kembali kejelasan informasi yang sudah diberikan (13) dan juga bukti langsung (tangibles) yang berupa area untuk memberikan informasi obat (15). Kuadran keempat berisi faktor-faktor yang dianggap kurang penting namun kinerjanya telah dianggap baik. Variabel yang berada dalam kuadran ini sebanyak 9.09% dari keseluruhan variabel, yaitu kehandalan (reliability) dalam memberikan informasi tentang nama obat (6a) dan bukti langsung (tangibles) berupa kerapian berpakaian petugas apotek (16). Tingkat kepuasan pasien terhadap pemberian informasi obat pada pelayanan swamedikasi di apotek diukur dengan cara melihat perbedaan antara tingkat kinerja dengan tingkat kepentingan pasien. Apabila penilaian terhadap kinerja memenuhi harapan maka dianggap puas, dan jika tidak memenuhi dianggap tidak puas. Pasien tidak puas terhadap pemberian informasi obat pada variabel-variabel kehandalan (reliability), jaminan/kepastian (assurance), empati (empathy), daya tanggap (responsiveness), dan pada variabel bukti langsung (tangibles) berupa area pemberian informasi obat. Pasien puas terhadap pemberian informasi obat pada variabel bukti langsung (tangibles) berupa kerapian berpakaian petugas apotek. Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian antara harapan/kepentingan pasien dengan kenyataan/tingkat kinerja pemberian informasi pada pelayanan swamedikasi masih kurang. Sehingga farmasis, sebagai orang yang bertanggung jawab pada pemberian informasi di apotek harus meningkatkan kinerjanya, agar kepuasan pasien meningkat dan sesuai dengan tujuan akhir dari pengobatan, yaitu keluaran terapi yang optimal dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, sesuai dengan filosofi Pharmaceutical Care.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 60/07 Ill k
Uncontrolled Keywords: PATIENT SATISFACTION
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine
R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
RATNA KURNIA ILLAHI, 050212539UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorUMI ATHIJAH, Dra. Hj. M.S ., AptUNSPECIFIED
ContributorYUNITA NITA, S.Si, M. Pharm., AptUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 25 Apr 2007 12:00
Last Modified: 04 Jul 2017 17:10
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/8863
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item