PROFIL OBAT YANG DIGUNAKAN LANJUT USIA ANGGOTA POSYANDU LANSIA KEDUNGTARUKAN KECAMATAN TAMBAKSARI SURABAYA

ERNITHA CYNTHIA DEWI, 050810084 (2013) PROFIL OBAT YANG DIGUNAKAN LANJUT USIA ANGGOTA POSYANDU LANSIA KEDUNGTARUKAN KECAMATAN TAMBAKSARI SURABAYA. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2013-dewiernith-27652-6.ring-n.pdf

Download (236kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2013-dewiernith-27652-1.FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (889kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pada seseorang yang telah lanjut usia akan terjadi berbagai perubahan sistem tubuh. Pada lansia jumlah sel, cairan intraselular, begitu pula proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati akan berkurang. Lansia akan mengalami gangguan seperti gangguan pada persarafan, sistem kardiovaskular, pengaturan suhu tubuh dan gangguan lainnya (Efendi & Makhfudli, 2009). Lansia adalah konsumen terbesar obat dengan resep dokter dan tanpa resep, serta suplemen makanan, akan tetapi informasi keamanan obat yang diperoleh sangat terbatas. Sebagai pengguna obat utama dalam masyarakat, lansia lebih banyak terkena efek dari terapi jangka panjang dan jumlah obat yang berlebihan. (Mendes-Netto et al. 2011). Seperti yang disebutkan oleh Kaufman et al. (2002) bahwa dari hasil survei di Amerika Serikat, diantara 2.590 responden yang berusia minimal 18 tahun, prevalensi penggunaan obat tertinggi adalah perempuan yang berusia 65 tahun ke atas, dimana 12% diantaranya menggunakan setidaknya 10 jenis obat-obatan dan 23% menggunakan minimal 5 obat resep. Vitamin/mineral juga sering digunakan untuk alasan kesehatan (35%), dan 16% herbal/suplemen juga paling sering digunakan untuk menjaga kesehatan. Penggunaan berbagai macam obat, sering disebut polifarmasi, diakui sebagai masalah yang semakin serius dalam sistem kesehatan. Prevalensi pengguna po lifarmasi merupakan indikator kualitas obat resep dan pelayanan kesehatan. Polifarmasi memperumit terapi obat pasien, meningkatkan biaya, dan merupakan tantangan bagi lembaga kesehatan (Mendes -Netto et al. 2011). Penggunaan obat secara polifarmasi secara bersamaan dan dengan regimentasi yang bermacam-macam akan beresiko mengalami Drug Related Problems (DRPs). DRPs adalah pengalaman pasien yang tidak diinginkan yang melibatkan terapi obat dan berpotensi mengganggu penyembuhan pasien (Strand et al. 1990). Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan adanya 8,8% kejadian Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi pada 93% pasien (Cipolle, Strand & Morley, 1998). Di Indonesia sendiri didapat hasil penelitian di Rumah Sakit Pendidikan Dr. Sardjito Yogyakarta yang menunjukkan bahwa interaksi obat terjadi pada 59% pasien rawat inap dan 69% pasien rawat jalan (Rahmawati & Handayani, 2006). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil obat yang digunakan lanjut usia anggota Posyandu Lansia Kedungtarukan Kecamatan Tambaksari Surabaya. Profil obat meliputi obat yang digunakan, cara mempe roleh berdasarkan resep dan tanpa resep, melihat jumlah macam obat, dan adanya potensi interaksi obat. Untuk mendapatkan profil obat, maka analisis penelitian dilakukan secara de skriptif dengan diolah menggunakan program SPSS dan Microsoft Office Excel . Penelitian dilakukan dengan metode wawancara kepada 58 anggota Posyandu Lansia Kedungtarukan yang memenuhi kriteria sebagai responden. Hasil yang diperoleh adalah, bahwa total obat yang digunakan responden yaitu 194 obat. Jumlah obat modern yang digunakan berdasarkan cara memperoleh dengan resep berjumlah 128 obat modern dan tanpa resep 22 obat modern, obat bahan alam yang diperoleh berdasarkan tanpa resep berjumlah 7 dan suplemen makanan berdasarkan resep berjumlah 28 serta tanpa resep berjumlah 9. Selain itu didapat 24 obat yang diperoleh dengan resep dan 1 obat yang diperoleh dengan non resep termasuk golongan obat tidak dapat diidentifikasi. Sebanyak 91,4% responden, paling tidak menggunakan sebanyak 1 macam obat dan 39,5% responden menggunakan 5 atau lebih macam obat. Terdapat 3 5 potens i interaksi yang terjadi pada 15 responden, yaitu terdiri dari 32 potensi interaksi tingkat moderate (91,4%) dan 3 potensi interaksi tingkat major (8,6 %). Dengan obat modern yang paling banyak digunakan adalah kaptopril, metampiron+diazepam, kombinasi vit. B 1 +vit. B 6 +vit. B 12 , nifedipin dan calcium lactate. Untuk obat bahan alam yang digunakan meliputi jamu akar dewa, madu, diapet, tolak angin dan j inten hitam. Sedangkan untuk suplemen m akanan yang digunakan adalah fitbon, gingkan, liquid chlorophyll, neurovit E, oste forte, redoxon, sakatonik liver, tonikum bayer, vit.B kompleks, vit.B1, vit.B12, vit.B6 dan vit.C. Dari penelitian ini disarankan untuk diadakannya penyuluhan oleh tenaga kesehatan tentang kepatuhan penggunaan obat untuk penyakit jangka panjang, agar masyarakat terutama bagi keluarga lansia lebih paham mengenai penggunaan obat yang baik dan benar. Apoteker harus selalu memastikan obat-obatan yang sedang digunakan oleh pasien sehingga dapat mengurangi terjadinya interaksi antar obat dan mencegah terjadinya duplikasi obat dapat dengan dibuat PMR untuk masing-masing pasien. Selain itu dapat dilakukan monitoring pada penggunaan obat berupa home care. Dan dengan adanya potensi interaksi untuk obat-obatan tertentu, maka dapat dijadikan pertimbangan dalam pemberian obat pada pasien.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF.KOM.29/13 Dew p
Uncontrolled Keywords: DRUGS INTERACTION
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmasi Komunitas
Creators:
CreatorsEmail
ERNITHA CYNTHIA DEWI, 050810084UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorYunita Nita, SSi.,MPharm.,AptUNSPECIFIED
Depositing User: mrs hoeroestijati beta
Date Deposited: 24 Oct 2013 12:00
Last Modified: 16 Aug 2016 06:38
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/9253
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item