POLA PENGGUNAAN OBAT ISPA ATAS PADA PASIEN ANAK (Penelitian Dilakukan di Instalasi Rawat Jalan SMF/ Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya)

RINI AISAH PUJADARA, 051011271 (2014) POLA PENGGUNAAN OBAT ISPA ATAS PADA PASIEN ANAK (Penelitian Dilakukan di Instalasi Rawat Jalan SMF/ Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2015-pujadarari-35242-6.ringk-n.pdf

Download (295kB) | Preview
[img] Text (FULL TEXT)
FF. FK. 30-14 Puj p.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atas adalah infeksi akut yang melibatkan saluran pernapasan bagian atas, seperti hidung, sinus, dan faring. Penyakit ini dapat terjadi pada berbagai usia, yang disebabkan terutama oleh virus, kemudian bakteri dan jamur. Penularan ISPA atas umumnya terjadi melalui transmisi kontak dan transmisi droplet dari pasien yang terinfeksi. Manifestasi yang umum dari penyakit ini dapat timbul gejala demam, batuk, pilek, dan faring hiperemi. Infeksi saluran pernapasan akut atas merupakan penyakit masyarakat yang mudah menular dan terutama terjadi pada anak-anak yang memberikan konstribusi terhadap peningkatan morbiditas pada anak, sehingga penatalaksanaan terapi ISPA atas perlu diperhatikan dengan cermat. Oleh karena itu, penelitian ini untuk mengetahui pola penggunaan obat ISPA atas pada pasien anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis obat ISPA atas yang digunakan, regimen dosis dan frekuensi terapi pada pasien anak dikaitkan dengan data klinik dan pemeriksaan fisik, serta mengidentifikasi problema obat terkait (DRP), meliputi regimen dosis, efek samping obat dan interaksi obat yang mungkin terjadi. Penelitian dilakukan secara prospektif pada periode Maret-Mei 2014 dan dilaksanakan di Instalasi Rawat Jalan SMF/ Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini telah melalui review dari Komite Etik Penelitian Kesehatan RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sampel penelitian adalah pasien anak dengan diagnosis ISPA atas dengan kriteria inklusi meliputi common cold, faringitis akut, dan tonsilitis akut dengan data lengkap dan yang sudah atau belum melakukan swamedikasi. Teknik sampling sampel adalah Non Random Sampling yang dilakukan dengan metode Purposive Sampling dan jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 76 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak, yaitu 42 pasien (55,3%) dan perempuan sebanyak 34 pasien (44,7%) sedangkan sebaran usia pasien paling banyak berada pada rentang 1-5 tahun sebanyak 40 pasien (52,6%). Jenis ISPA atas pada penelitian ini adalah common cold (80,3%), faringitis akut (15,8%), dan tonsilitis akut (3,9%). Gejala klinik yang paling banyak dialami pasien adalah batuk dan pilek. Terapi obat yang diberikan pada pasien ISPA atas adalah analgesik-antipiretik (33 pasien), dekongestan (69 pasien), antihistamin (63 pasien), kortikosteroid (13 pasien), antitusif (13 pasien), mukolitik (67 pasien), 2 agonis (58 pasien), dan antibiotik (42 pasien). Terapi obat yang paling banyak digunakan pada penelitian ini adalah parasetamol 32 pasien, pseudoefedrin 68 pasien, ambroksol 65 pasien, salbutamol 58 pasien, metilprednisolon 9 pasien, eritromisin 18 pasien, dan antihistamin yang banyak digunakan merupakan produk kombinasi dengan pseudoefedrin dalam bentuk sediaan tablet. Hampir semua pasien mendapatkan terapi kombinasi dalam bentuk puyer dan satu pasien dapat menerima lebih dari satu macam terapi. Dosis dan frekuensi terapi obat yang digunakan pada pasien ISPA atas sesuai dengan dosis pada pustaka (79,2%). Problema obat (DRP) yang ditemui yaitu problema dosis, dugaan efek samping obat, dan interaksi obat potensial. Problema dosis yang terjadi adalah dosis terlalu rendah (12,3%) terjadi pada pemberian terapi parasetamol, pseudoefedrin, salbutamol, dekstrometorfan, cetirizin, amoksisilin-klavulanat, amoksisilin, dan sefadroksil sedangkan dosis terlalu tinggi (4,5%) terjadi pada pemberian pseudoefedrin, ambroksol, dekstrometorfan, dan cetirizin. Oleh karena itu, perlu peningkatan atau penurunan dosis yang sesuai dengan pustaka sehingga mendapatkan outcome yang maksimal. Dugaan efek samping obat, yaitu mengantuk (cetirizin, pseudoefedrin) 17,0%, ekstremitas tangan dan kaki menjadi dingin (pseudoefedrin) 4,2%, dan jantung berdebar (pseudoefedrin) 2,1%. Dugaan efek samping ini didapatkan pada 47 pasien yang berhasil dihubungi oleh peneliti melalui telepon. Interaksi obat potensial pada penelitian ini adalah interaksi eritromisin dengan terfenadin (1,3%) yang dapat menyebabkan resiko aritmia ventrikular.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB. KK-2 FF. FK. 30/14 Puj p
Uncontrolled Keywords: ANTIBIOTICS; RESPIRATORY INFECTIONS
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine > RC705-779 Diseases of the respiratory system
R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmasi Klinis
Creators:
CreatorsEmail
RINI AISAH PUJADARA, 051011271UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorYulistiani, Dra. , M.Si., AptUNSPECIFIED
ContributorRetno Asih Setyoningrum, dr. SpA(K)UNSPECIFIED
ContributorNun Zairina, Dra. Apt., SpFRSUNSPECIFIED
Depositing User: sukartini sukartini
Date Deposited: 02 Feb 2015 12:00
Last Modified: 29 Jul 2016 09:06
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/9497
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item