PENGARUH JUMLAH KARBOKSIMETIL KITOSAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK NANOPARTIKEL ARTESUNAT-KARBOKSIMETIL KITOSAN (Dibuat Dengan Metode Gelasi Ionik-Pengering Semprot)

OKKI FAJRIN DHISIATI, 051011029 (2014) PENGARUH JUMLAH KARBOKSIMETIL KITOSAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK NANOPARTIKEL ARTESUNAT-KARBOKSIMETIL KITOSAN (Dibuat Dengan Metode Gelasi Ionik-Pengering Semprot). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2015-dhisiatiok-35320-6.ringk-n.pdf

Download (338kB) | Preview
[img] Text (FULL TEXT)
FF. F. 44-14 Dhi p.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian dan pengembangan nanopartikel sebagai sistem penghantar obat baru telah dilakukan secara luas bersamaan dengan berkembangnya ilmu farmasetika. Nanopartikel merupakan partikel yang berukuran 10-1000 nm yang dapat dibuat dengan matriks berupa polimer alam atau polimer sintesis. Dalam pembuatan nanopartikel membutuhkan adanya matriks berupa polimer. Polimer yang digunakan dalam penelitian ini adalah karboksimetil kitosan (CM kitosan) yang merupakan salah satu polimer alam turunan kitosan yang diperoleh melalui penggantian gugus karboksimetil pada gugus NH3+ dan OH- kitosan. CM kitosan memiliki keunggulan berupa larut dalam air pada berbagai pH, bersifat non-toksik, biodegradable, dan biocompatible. CaCl2 merupakan salah satu contoh penyambung silang monovalen. Kation Ca2+ dari kalsium klorida (CaCl2) akan berikatan dengan gugus karboksil dari CM kitosan dan membentuk nanopartikel. Sebagai model bahan obat digunakan artesunat yang merupakan turunan artemisinin. Artesunat memiliki kelemahan berupa waktu sirkulasinya pendek, sangat hidrofob, dan metabolismenya cepat. Oleh karena itu, dibuat nanopartikel artesunat yang diharapkan dapat memperbaiki profil farmakokinetiknya. Dalam pembuatan nanopartikel, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ukuran dan bentuk nanopartikel, diantaranya rasio bahan obat dengan jenis polimer, jenis dan jumlah polimer, serta konsentrasi penyambung silang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah CM kitosan terhadap karakteristik fisik nanopartikel artesunat-CM kitosan yang dibuat dengan metode gelasi ionik dan dikeringkan dengan pengeringan semprot. Penelitian ini menggunakan jumlah CM kitosan yang berbeda yaitu 150 mg (KMK 1), 200 mg (KMK 2), 250 mg (KMK 3), serta 300 mg (KMK 4) dengan CaCl2 sebagai penyambung silang. Proses pembuatannya menggunakan metode gelasi ionik dan dikeringkan dengan pengering semprot pada kondisi suhu inlet 100°C, laju pompa 6,05 mL/menit serta diameter lubang nozzle 1 mm untuk menghasilkan nanopartikel kering. kering yang dihasilkan kemudian diperiksa karakteristik fisik (ukuran, morfologi, spektrum inframerah dan jarak lebur) dan efisiensi penjerapannya. Hasil pemeriksaan morfologi nanopartikel dengan SEM menunjukkan bahwa masih banyak partikel yang berongga pada semua formula. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah polimer, rongga pada nanopartikel semakin berkurang. Hal ini disebabkan jumlah polimer yang berlebih dan ikatan sambung silang yang terbentuk belum sempurna. Pada pemeriksaan ukuran partikel, semua fomula memiliki ukuran partikel yang heterogen yaitu ada yang berukuran kurang dari 1000 nm dan ada yang lebih dari 1000 nm. Partikel terbesar berukuran 3,514 μm dan partikel terkecil berukuran 781,9 nm. Dari pemeriksaan spektrum inframerah, terlihat adanya pergeseran bilangan gelombang yang menunjukkan gugus -OH dan -NH bergeser menjadi 3428,3 cm-1, serapan yang menunjukkan gugus -COO simetrik dan gugus -COO asimetrik bergeser menjadi 1425 cm-1 dan 1654 cm-1. Hal ini menunjukkan bahwa gugus -COO (karboksil), -NH (amino), dan -OH (hidroksil) berpartisipasi dalam interaksi ikatan CM Kitosan dan CaCl2. Dalam pemeriksaan termogram DTA, terjadi pergeseran titik lebur yang menunjukkan bahwa bahan obat sudah terjerap dalam sistem nanopartikel. KMK 2 memiliki ikatan paling kuat dibandingkan dengan formula lain karena memiliki termogram yang paling curam. Pada pemeriksaan efisiensi penjerapan artesunat, formula dengan jumlah CM kitosan lebih banyak (300mg) mendapatkan efisiensi penjerapan (87,65%) paling besar dibandingkan dengan penjerapan formula dengan jumlah CM kitosan yang lebih sedikit (KMK 1 66,81%; KMK 2 82,04%; dan KMK 3 87,65%). Selanjutnya hasil tersebut dianalisis secara statistik dengan ANOVA satu arah. Berdasarkan hasil ANOVA diperoleh harga F hitung (19,499) lebih besar dari F tabel (4,07). Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna pada formula. Untuk mengetahui formula mana yang berbeda, dilakukan uji HSD. Dari uji HSD diketahui bahwa formula dengan jumlah polimer terkecil berbeda bermakna terhadap formula lainnya dengan jumlah polimer lebih besar. Hal ini ditunjukkan dengan nilai sig KMK 1 dengan KMK 2, KMK 3 dan KMK 4 lebih kecil dari 0,05. Peningkatan jumlah polimer pada formula lainnya tidak berbeda bermakna satu sama lain yang ditujukkan dengan harga sig lebih besar dari 0,05. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa jumlah CM kitosan berpengaruh terhadap karakteristik fisik nanopartikel. Namun, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan nanopartikel dengan ukuran yang homogen dan berbentuk sferis.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB. KK-2 FF. F. 44/14 Dhi p
Uncontrolled Keywords: NANOPARTICLE; IONIC GELATION; CHITOSAN; CALSIUM CHLORIDE
Subjects: R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmastika
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
OKKI FAJRIN DHISIATI, 051011029UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorRetno Sari, Dra. , M.Sc, AptUNSPECIFIED
ContributorDwi Setyawan, Dr. , SSi., M.Si., Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: sukartini sukartini
Date Deposited: 02 Feb 2015 12:00
Last Modified: 01 Aug 2016 03:58
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/9519
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item