PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PROSES FERMENTASI DENGAN RAGI ROTI (Saccharomyces cerevsiae) MENGGUNAKAN AIR BIBIT DAN TANPA MENGGUNAKAN AIR BIBIT DALAM MENGHASILKAN MINYAK KELAPA DARI Cocos nucifera L.

Indrawan Adi Putra, FF (2009) PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PROSES FERMENTASI DENGAN RAGI ROTI (Saccharomyces cerevsiae) MENGGUNAKAN AIR BIBIT DAN TANPA MENGGUNAKAN AIR BIBIT DALAM MENGHASILKAN MINYAK KELAPA DARI Cocos nucifera L. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2011-putraindra-14547-kkbkk-2-p.pdf

Download (909kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Umumnya proses pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan berbagai macam metode, salah satunya adalah dengan metode fermentasi. Metode fermentasi dibagi menjadi dua cars yaitu fermentasi tanpa air bibit dan dengan air bibit. Metode ini merupakan proses pengolahan yang menggunakan mikroba penghasil enzim. Pada penelitian ini digunakan mikroba Saccharomyces cerevisiae yang terdapat dalam ragi roti karena mudah didapat di masyarakat dan ekonomis. Rumusan masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimanakah perbandingan efektivitc: pros°f fermentasi dengan ragi roti menggunakan air bibit dan proses fermentasi tanpa menggunakan air bibit dalam menghasilkan minyak kelapa berdasar aspek daya dan waktu urai, serta prosen minyak kelapa yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan efektivitas dalam hal daya urai, waktu urai, dan prosentase volume minyak kelapa yang dihasilkan. Dalam penelitian ini daya urai ialah kemampuan Bari ragi roti untuk menghasilkan minyak kelapa per satuan waktu, dan waktu urai ialah waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan minyak kelapa yang maksimal. Pada proses fermentasi tanpa air bibit, ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) yang digunakan dalam penelitian ini dicampur dengan kepala santan atau krim santan. Sedangkan untuk cam yang kedua yaitu fermentasi dengan air bibit, dibuat dulu media air bibitnya dengan cars mencampurkan skim santan atau anak santan dengan air kelapa, lalu dicampur dengan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) dan diinkubasi selama 24 jam. Kemudian barn dicampur dengan krim santan atau kepala santan. Untuk prinsip kerja dari ragi roti (Saccharomyces cerevisiae), mikroba tersebut akan memecah karbohidrat menjadi alkohol, lalu alkohol diubah menjadi asam. Asam menyebabkan protein terdenaturasi dan menggumpal sehingga air dan minyak memisah. Karena terdapat perbedaan tahap pencampuran antara kepala santan dengan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) pads proses fermentasi dengan air bibit dan tanpa air bibit, diduga ada perbedaan dalam efektivitas dan karakteristik fisika kimia dari kedua minyak kelapa yang dihasilkan. Kadar ragi roti yang digunakan ditentukan dari besarnya daya urai yaitu keefektivan ragi untuk menghasillcan minyak dari berbagai kadar ragi roti yaitu kadar 0,10% b/v; 0,20% b/v; 0,30% b/v; 0,40% b/v, 0,50% b/v; 0,60% b/v. Kadar yang terpilih untuk digunakan pada percobaan adalah kadar 0,50% b/v. Efektivitas ditentukan dengan menggunakan kadar ragi 0,5% untuk menghasilkan minyak selama ±30 jam atau sampai volume minyak yang dihasilkan konstan. Data dicatat dan kemudian dibuat profit waktu terhadap prosen volume minyak kelapa. Profit yang didapat dianalisis untuk mengetahui perbandingan efektivitas antara air bibit dan tanpa air bibit dalam menghasilkan minyak kelapa tiap waktu. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan efektivitas pemanfaatan air bibit dan tanpa air bibit dalam pembuatan minyak kelapa secara fermentasi dengan prosen volume minyak yang didapatkan masing – masing adalah 15,33% dan 14,67% dalam waktu 30 jam. Dari penentuan waktu urai didapat, proses tanpa air bibit lebih cepat mencapai volume maksimal (jam ke-22 sampai jam ke-30) daripada proses dengan air bibit (jam ke-30 sampai jam ke-34) dengan prosen volume maksimal masing – masing adalah 15,33% dan 14,67%. Untuk penentuan daya urai, proses tanpa air bibit lebih baik daripada proses air bibit yaitu sebesar 0,60% per jam untuk proses fermentasi tanpa air bibit dan 0,50% per jam untuk proses fermentasi dengan air bibit. Dan minyak kelapa yang dihasilkan dari kedua proses fermentasi tersebut, karalcteristik fisika kimia memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpiilkan bahwa ada perbedaan efektivitas proses fermentasi tanpa air bibit dan air bibit dalam menghasilkan minyak kelapa dalam hal daya urai, waktu urai, prosentase volume minyak yang dihasilkan. Dari penelitian ini disarankan perlu diinformasikan kepada masyarakat bahwa dipandang dari segi efektivitas daya urai, waktu urai, dan prosentase volume minyak kelapa yang dihasilkan pembuatan minyak kelapa melalui proses fermentasi tanpa air bibit dengan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) memberikan basil yang lebih baik daripada minyak kelapa basil olahan melalui proses fermentasi menggunakan air bibit dengan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 103-10 Put p (Fulltext tidak tersedia/Fulltext not available)
Uncontrolled Keywords: MEDICINAL PLANTS; NEEM
Subjects: Q Science
Q Science > QD Chemistry
Q Science > QD Chemistry > QD1-999 Chemistry
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Kimia Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
Indrawan Adi Putra, FFUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorH. Purwanto, Prof. Dr., Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: Unnamed user with email okta@lib.unair.ac.id
Date Deposited: 30 Mar 2011 12:00
Last Modified: 01 Aug 2016 04:25
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/9878
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item