PENGARUH PEMAKAIAN SIMETIDIN TERHADAP METABOLISME SIPROFLOKSASIN PADA KELINCI

Ni Wayan Desi M.S., FF (2008) PENGARUH PEMAKAIAN SIMETIDIN TERHADAP METABOLISME SIPROFLOKSASIN PADA KELINCI. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2011-niwayandes-14666-kkbkk-2-p.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Infeksi masih merupakan salah satu penyakit dengan angka morbiditas paling tinggi di Indonesia dan negara berkembang (Suryawidjaja, 2007). Fluorokuinolon merupakan antibiotika bare yang secara Iuas diresepkan untuk sejumlah infeksi bakteri (Stein, 1991). Siprofloksasin merupakan salah satu obat golongan fluorokuinolon yang mempunyai aktivitas bakterisidal, mekanisme aksinya dengan menghambat kerja enzim topoisomerase II sub unit A (ADN Girase) sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan replikasi, transkripsi, reparasi, rekombinasi dan transposisi dari bakteri (McEvoy, 2002). Pengobatan dengan beberapa obat sekaligus (polifarmasi) yang umumnya diresepkan oleh para klinisi atau yang dilakukan oleh pasien sendiri di luar kendali klinisi dapat memudahkan terjadinya interaksi obat. Mekanisme interaksi obat dapat dibedakan atas tiga mekanisme yaitu interaksi farmasetik, interaksi farmakokinetik dan interaksi farmakodinamik (Quinn dan Day, 1997). Cukup banyak literatur yang menyebutkan interaksi obat dengan siprofloksasin salah satunya dengan simetidin. Simetidin dimetabolisme di hati dan berikatan dengan sitokrom P450 secara reversibel sehingga dapat menghambat metabolisme obat-obat lain yang juga berikatan dengan reseptor sama, umumnya mengganggu fase I metabolisme akibatnya kadar obat tersebut dapat meningkat dalam darah (Hansten dan Horn, 2001 McEvoy, 2002). Simetidin dan siprofloksasin merupakan inhibitor sitokrom P450 (CYP I A2) sehingga dapat terjadi kompetisi untuk mengikat isoenzim tersebut. Penelitian yang dilakukan Prince et al. (1999) menyebutkan bahwa simetidin 800 mg menurunkan klirens sebanyak 18 % setelah pemakaian bersama siprofloksasin peroral dosis 1 g. Oleh karena itu dalam penelitian ini ingin mengetahui bagaimana pengaruh pemakaian simetidin terhadap metabolisme siprofloksasin dan sebagai hewan coba digunakan kelinci. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah pemakaian simetidin dapat mempengaruhi metabolisme siprofloksasin pada kelinci ?. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan parameter farmakokinetika (K, klirens) siprofloksasin oral sebelum dan sesudah pemakaian simetidin pada kelinci. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross over dimana masing-masing subyek akan mendapatkan dua kali perlakuan (pemberian siprofloksasin tunggal dan pemberian pra perlakuan simetidin kombinasi siprofloksasin) dengan selang waktu perlakuan 14 hari untuk waktu pembersihan obat sehingga obat tereliminasi sempurna dari tubuh. Dosis siprofloksasin HCI 23 mg/kg dan dosis simetidin 37 mg/kg yang diberikan sekali dalam sehari selama 7 hari sebelum bersamaan dengan siprofloksasin HC1. Sampling dilakukan dengan pengambilan cuplikan darah kelinci dari vena marginalis + 1 ml pada menit ke 0, 15, 30, 60, 90, 120, 150, 180, 240, 300, 360, 480 (Hanan et. at, 2000). Plasma dipisahkan dari sampel dan disimpan pada suhu -20°C sampai dilakukan analisis kadarnya. Analisis sampel plasma menggunakan metode spektrofluorometri yang didapatkan panjang gelombang maksimum dari siprofloksasin HCI adalah pada eksitasi 279 nm dan emisi 445 nm. Validasi metode ditunjukkan dengan linieritas kadar baku 0,1 µg/ml 0,5 µg/ml 0,7 µg/ml ., 1,0 µg/ml ; 1,5 µg/ml ; 2,0 µg/ml ; 2,5 µg/ml ; 3,0 µg/ml ; 4,0 µg/ml dan didapatkan persamaan garis regresi y 5,6196x - 0,3866 dan rh,t = 0,998 (rtahel = 0,666 (df = 7 ; a =0,05)). Batas deteksi dan batas kuantitasi yang didapatkan 0,006 µg/ml dan 0,018 µg/ml. Sedangkan % KV dari presisi metode adalah 0,53 + 0,18 %. Persen rekoveri yang didapatkan 81,08 + 14,32 % dengan persamaan garis regresi kurva rekoveri y = 5,1028x - 0,6393 dan rh,t = 0,997 (rtahei = 0,666 (df = 7 ; a = 0,05)). Kadar siprofloksasin dalam plasma ditentukan menurut metode El-Kommos et at. (2003) dengan modifikasi, adapun caranya sebagai berikut : Sebanyak 250 µl masing-masing larutan sampel dimasukkan dalam tabung reaksi kemudian ditambah 500 µl larutan baku kerja siprofloksasin HC1 kadar 1 pg/ml dan divorteks 1 menit. Setelah itu ditambahkan larutan TCA 15 % sebanyak I ml dan divorteks 1,5 menit lalu dipusingkan (4000 rpm, 5 menit). Setelah itu supernatan diambil sebanyak 1 ml dan dipindahkan ke dalam tabung reaksi terkalibrasi 10,0 ml lalu ditambahkan 1 ml larutan ammonium molibdat 7,5 pg/ml dan divorteks 1 menit. Setelah itu ditambahkan buffer asam sitrat - Na2HPO4.2H2O sampai dengan pH 3,5 (+ 3 ml) dan terakhir ditambah metanol hingga 10,0 ml. Pada penetapan kadar siprofloksasin dalam sampel didapatkan rata-rata AUC kelompok kontrol dan kelompok dengan pra perlakuan adalah 282,98 - 594,08 µg/ml.menit dan 331,95 - 808,80 µg/ml.menit. Sedangkan nilai K kelompok kontrol dan kelompok dengan pra perlakuan adalah 0,0005 - 0,0113 menit-1 dan 0,0002 - 0,0021 menif-1 ; nilai t1/2 kelompok kontrol dan kelompok dengan pra perlakuan adalah 61,41 - 1504,56 menit dan 334,35 - 4298,74 menit serta nilai klirens total kelompok kontrol dan kelompok dengan pra perlakuan adalah 0,0238 - 0,0508 L/menit dan 0,0186 - 0,0514 L/rnenit. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa nilai AUC dan ti/2 pada kelompok dengan pra perlakuan meningkat dibandingkan kelompok kontrol serta nilai K dan klirens total pada kelompok dengan pra perlakuan menurun dibandingkan kelompok kontrol. Secara teoritis dapat dijelaskan dengan adanya hambatan metabolisme siprofloksasin oleh simetidin maka efek yang ditimbulkan adalah penurunan klirens total, peningkatan waktu paro obat, peningkatan konsentrasi serum total dan obat bebas (Sellers dan Romach, 1998). Melalui analisis statistik paired - t test dapat dihitung nilai probabilitas AUC, K, t1i2 dan klirens siprofloksasin lebih besar daripada a 0,05 serta t hitung lebih kecil daripada t tabel (3,182) sehingga dinyatakan tidak ada perbedaan bermakna pada nilai AUC, tetapan laju eliminasi (K), waktu paro eliminasi (ti/2) dan klirens antara kelompok kontrol (siprofloksasin tunggal) dan kelompok dengan pra perlakuan (siprofloksasin kombinasi simetidin). Oleh karena itu dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemakaian simetidin tidak mempengaruhi metabolisme siprofloksasin pada kelinci. Dari penelitian ini dapat disarankan perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pra perlakuan simetidin terhadap metabolisme siprofloksasin secara intra vena pada kelinci menggunakan data darah sebagai pembanding pemakaian siprofloksasin secara oral serta perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh siprofloksasin yang juga merupakan inhibitor enzim CYP1A2 terhadap metabolisme obat yang dimetabolisme oleh enzim tersebut (contoh : aminofilin, R-warfarin, propanolol, amitriptilin dan sebagainya).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 43-10 NiW p (Fulltext tidak tersedia/Fulltext not available)
Uncontrolled Keywords: ANTIBIOTICS; DRUG UTILIZATION
Subjects: R Medicine
R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology
R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology > RM300-666 Drugs and their actions
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmasi Klinis
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Ni Wayan Desi M.S., FFUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSuharjono, DR., MS.UNSPECIFIED
Depositing User: Unnamed user with email okta@lib.unair.ac.id
Date Deposited: 31 Mar 2011 12:00
Last Modified: 01 Aug 2016 11:42
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/9890
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item