PENGARUH JUMLAH TRIPOLIFOSFAT TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK SERTA PROFIL PELEPASAN MIKROPARTIKEL TEOFILIN-CHITOSAN (Dibuat dengan metode orifice ionic gelation)

Tri Anita Sari, FF (2008) PENGARUH JUMLAH TRIPOLIFOSFAT TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK SERTA PROFIL PELEPASAN MIKROPARTIKEL TEOFILIN-CHITOSAN (Dibuat dengan metode orifice ionic gelation). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2011-saritriani-14724-kkbkk-2-p.pdf

Download (824kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Teofilin merupakan turunan xanthin yang memiliki sifat bronkodilator dengan merelaksasi otot polos bronkial. Mekanismenya meliputi inhibisi fosfodiesterase untuk meningkatkan kadar cAMP intraseluler. Teofilin memiliki waktu paruh 3-9 jam. Absorbsi teofilin dapat tertunda, tapi pada umumnya tidak berkurang, dengan adanya makanan pada saluran cerna. Pada rute per oral, kadar puncak dicapai dalam 1-2 jam setelah pemberian. Efek samping yang umum terjadi adalah takikardi, mual, muntah, tremor dan dapat meningkatkan sekresi asam lambung. Mikropartikel teofilin-chitosan dibuat dengan metode orifice ionic gelation dengan perbedaan jumlah tripolifosfat sebesar 10% (Fl), 12,5% (F2), 15% (F3) dan 20% (F4). Pembuatan mikropartikel teofilin-chitosan dengan cara chitosan ditimbang sebanyak 450 mg kemudian dilarutkan dalam asam asetat 4% sebanyak 6 ml. Teofilin diayak terlebih dahulu dengan menggunakan mesh No.140 dan ditimbang sebanyak 450 mg, kemudian didispersikan ke dalam larutan chitosan sehingga membentuk dispersi yang halus. Hasil pendispersian tersebut kemudian diteteskan kedalam larutan tripolifosfat pH 5 dengan jumlah tertentu (sesuai dengan formula) tetes demi tetes dengan menggunakan syringe dengan jarum berukuran no. 23G. Tetesan-tetesan tersebut dibiarkan selama 30 menit agar terjadi reaksi yang sempurna dan menghasilkan mikropartikel yang sferis dan kompak. Mikropartikel yang terbentuk kemudian disaring, dicuci berkali-kali dengan aquades dingin lalu dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 45°C selama 3 jam. Pemeriksaan distribusi ukuran partikel menunjukkan bahwa mikropartikel yang dihasilkan memiliki rentang ukuran antara 1055 µm – 2479,33 µm. Ukuran mikropartikel pada masing – masing formula dengan persentase paling besar terdapat pada interval antara 1317,52 µm – 1529,77 µm untuk F1; 1529,78 – 1688,03 p.m untuk F2; 1688,04 – 1846,29 µm untuk F3; dan 1846,30 – 2004,55 p.m untuk F4. Hasil pemeriksaan morfologi mikropartikel yang dilakukan dengan mengunakan mikroskop optik memperlihatkan bentuk mikropartikel yang sferis atau hampir sferis karena terdapat cekungan pada bagian tengah mikropartikel. Hasil tersebut sesuai dengan yang diharapkan pada pembuatan mikropartikel dengan metode orifice-ionic gelation. Adanya mikropartikel yang tidak atau kurang sferis karena adanya fenomena transfer panas. Pemeriksaan kandungan teofilin dalam mikropartikel dilakukan dengan pelarut aqua bebas CO2. Dari pemeriksaan yang dilakukan pada masing – masing formula, kandungan teofilin dalam mikropartikel yang terukur menurun dari F 1, F2, F3 dan F4, yaitu dengan % kadar teofilin: 26,24% f 0,14; 25,19% ± 0,13; 24,69% ± 0,18; dan 24,06% + 0,08. Dari basil analisis statistik data kandungan bahan obat dengan metode ANAVA satu arah diketahui terdapat perbedaan yang bermakna, kemudian dilanjutkan dengan uji HSD (Honestly Significant Difference Test) yang menunjukkan perbedaan yang bermakna antar formula dari semua formula. Dari hasil uji pelepasan diketahui bahwa profil pelepasan teofilin pada keempat formula berada dibawah kontrol. Hal tersebut dapat dilihat dari persen terlarut teofilin pada menit ke 60': Fl = 50,59% ± 3,69; F2 = 37,58% ± 0,43; F3 = 54,30% ± 0,27% dan F4 = 43,76% * 1,96 sedangkan pada kontrol sebesar 89,56% ± 8,29. Dari profil pelepasan mikropartikel teofilin-chitosan dan didukung dengan data Efisiensi Disolusi (ED) diketahui bahwa F2 memiliki profil pelepasan paling lambat diikuti F4, F1 dan F3. Hal ini disebabkan karena dengan meningkatnya jumlah tripolifosfat, ion fosfat yang berinteraksi dengan gugus RNH3+ dari chitosan akan semakin meningkat, sehingga menurunkan kristalinitas chitosan yang akibatnya akan meningkatkan hidrofilitas chitosan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan meningkatnya jumlah tripolifosfat yang ditambahkan ukuran partikel yang dihasilkan semakin besar dengan morfologi yang semakin kurang sferis serta kandungan bahan obat teofilin yang semakin menurun.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 90-10 Sar p (Fultext tidak tersedia/Fulltext not available)
Uncontrolled Keywords: GALLIC ACID; CHITOSAN
Subjects: R Medicine
R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology
R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology > RM300-666 Drugs and their actions
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmastika
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Tri Anita Sari, FFUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorRetno Sari, Dra., M.Sc., Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: Unnamed user with email okta@lib.unair.ac.id
Date Deposited: 31 Mar 2011 12:00
Last Modified: 03 Aug 2016 07:55
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/9917
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item