STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PENDERITA DEMAM TIFOID ANAK - RAWAT INAP DI RUMKITAL Dr. RAMELAN SURABAYA

HUSEIN, BESSE' NURLINDA MUSTARY, NIM. 050212587 (2006) STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PENDERITA DEMAM TIFOID ANAK - RAWAT INAP DI RUMKITAL Dr. RAMELAN SURABAYA. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
ABSTRAK FF. 108_07 Hus s.pdf

Download (254kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-huseinbess-4504-ff10807.compressed.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Demam tifoid adalah penyakit infeksi sisternik akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, dari yang ringan dan tidak memerlukan perawatan khusus sampai dengan yang berat sehingga harus rawat inap di rumah sakit dengan komplikasi yang bermacam–macam. Demam tifoid menyebabkan kondisi patologi pada beberapa organ tubuh antara lain usus, liver, spleen, kandung empedu, tulang, jantung, paru-paru, ginjal dan otak. Oleh karena itu, diperlukan terapi yang saksama untuk mencegah berbagai komplikasi yang ada dan mencegah terjadinya relaps infeksi S. typhi. Untuk itu diperlukan data-data mengenai penggunaan antibiotik yang dapat diperoleh melalui studi penggunaan obat atau Drug Utilization Studies (DUS). Penelitian DUS ini dilakukan secara retrospektif pada pasien demam tifoid anak tanpa penyakit penyerta dan menjalani rawat inap, periode 1 Januari 2005 sampai dengan tanggal 31 Desember 2005 dengan sampel penelitian sebanyak 32 RMK. Hasil penelitian menunjukkan antibiotik pada pasien demam tifoid anak digunakan sebagai antibiotik tunggal (78,13%) dan kombinasi (21,87%). Antibiotik tunggal yaitu kloramfenikol (37,5%), seftriakson (15,63%), ampisilin (625°,%), amoksisilin (3,13%), dan sefiksim (3,13%). Antibiotik kombinasi yaitu ampisilin dengan kloramfenikol atau tiamfenikol, amoksisilin dengan sefotaksim atau tiamfenikol, kloramfenikol dengan seftriakson, sefotaksim dengan tiamfenikol atau kloksasilin, dan sefiksim dengan kloksasilin atau tiamfenikol. Rute pemberian antibiotik dilakukan dengan rute i.v dan per oral baik penggunaan dalam bentuk tunggal maupun kombinasi. Dosis antibiotik yang digunakan (87,5%) sudah sesuai dengan dosis lazim penggunaan. Pemberian antibiotik dilakukan pada pasien selama menjalani rawat inap. Lama rawat inap pada pasien (56,25%) adalah 4 – 5 hari. Terapi lain pada demam tifoid antara lain vitamin, antipiretik, analgesik, antidiare, laksatif, dan obat batuk. Terapi cairan juga diberikan pada 37,5% pasien. Jenis cairan yang digunakan yaitu Infus D5, Infus KA-EN, dan Infus RL. DRP yang ditemukan antara lain penggunaan kloksasilin yang tidak tepat, dosis kloramfenikol yang terlalu rendah, dosis sefiksim yang terlalu tinggi, dan kombinasi ampisilin dengan amoksisilin. Karena penelitian dilakukan secara prospektif, tidak didapatkan data yang kurang lengkap sehingga disarankan dilakukan penelitian lebih lanjut secara prospektif untuk mendapatkan data yang lebih lengkap terhadap tingkat infeksi demam tifoid dan mengamati tingkat keberhasilan terapi antibiotik pada pasien demam tifoid.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF. 108/07 Hus s
Uncontrolled Keywords: DRUG UTILIZATION; TYPHOID FESER; CHILDREN
Subjects: R Medicine > RJ Pediatrics > RJ370-550 Diseases of children and adolescents
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS200-201 Pharmaceutical dosage forms
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
HUSEIN, BESSE' NURLINDA MUSTARY, NIM. 050212587UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorBudi Suprapti, Dra., Apt., M.Si.UNSPECIFIED
Depositing User: Sulistiorini
Date Deposited: 02 May 2007 12:00
Last Modified: 07 Jul 2017 00:09
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/9975
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item