Keadaan Kesehatan, Pola Konsumsi dan Status Gizi Balita pada Keluarga Pengungsi Korban Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo

Lailatul Muniroh, SKM and Astri Diah Anggraeni, SKM (2007) Keadaan Kesehatan, Pola Konsumsi dan Status Gizi Balita pada Keluarga Pengungsi Korban Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo. Laporan Penelitian. LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS AIRLANGGA, SURABAYA. (Unpublished)

[img] Text (FULLTEXT)
KKC KK LP 31-09 Mun k 3.pdf

Download (3MB)
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Bencana yang diikuti dengan pengungsian menimbulkan masalah kesehatan Yang cukup kompleks, apalagi jika hal tersebut dibarengi dengan kurangnya air bersih, buruknya sanitasi lingkungan dan persediaan pangan yang tidak cukup. Dalam pengungsian, tempat tinggal (shelter) yang ada sering tidak memenuhi syarat kesehata, sehingga secara langsung maupun tidak langsung akan menurunkan daya tahan tubuh dan bila tidak segera ditanggulangi akan menimbulkan masalah di bidang kesehatan dan gizi. Akibat bencana pula akhirnya banyak keluarga yang kehilangan mata pencahariannya, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mengandalkan bantuan dari pihak-pihak yang memberikan bantuan. Bencana lumpur Lapindo yang hingga saat ini belum bisa terselesaikan membawa permasalahan. Disamping permasalahan ekonomi karena kehilangan rumah dan mata pencaharian, masalah psikologis karena trauma pasca bencana, juga menimbulkan masalah kesehatan dan gizi. Pengungsi tinggal di lokasi penampungan korban bencana yang kurang memadai, sehingga menjadi jalur masuk (port d' entry) penyakit-penyakit infeksi seperti diare, ISPA, dan lain-lain, serta kurangnya pangan menimbulkan kurang gizi terutama pada balita keluarga para pengungsi yang memang sangat rentan terhadap masalah kesehatan. Walaupun berada dalam penampungan, aspek kesehatan terutama kesehatan balita harus menjadi perhatian, karena balita rawan terhadap penyakit akibat lingkungan dan sanitasi yang kurang memadai. Balita juga rawan mengalami kekurangan gizi karena makanan yang tidak cukup. Oleh karena itu kegiatan pemantauan tumbuh kembang balita yang biasa dilakukan melalui posyandu harus tetap aksanakan. Penelitian ini merupakan penelitian survey, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun, 1989). Penelitian ini juga merupakan penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu kejadian secara objektif dengan melakukan observasi lingkungan. Apabila ditinjau dari waktu pelaksanaan, penelitian ini termasuk penelitian cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita dan keluarga pengungsi korban lumputr lapindo Sidoarjo. Berdasarkan rumus besar sampel, didapatkan sampel sebanyak 109 balita hasil random terhadap populasi. Data ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian sebagai berikut : sebagian besar balita berjenis kelamin perempuan (61%). Pada balita laki-laki dan perempuan, sebagian besar berusia 12-24 bulan yaitu masing-masing sebesar 46,2% dan 31,1%, dengan rata-rata usia 33,44±5,7 bulan. Sebagian besar balita (87%) telah menerima imunisasi secara lengkap . Namun hanya 11% balita yang dulunya menerima ASI eksklusif. Pendidikan ayah dan ibu sebagian besar tamat SD, masing-masing sebesar 37% dan 36%. Pekerjaan ayah sebagian besar (31%) adalah buruh, sedangkan ibu sebagian besar (59%) adalah tidak bekerja. Pendapatan keluarga per bulan sebagian besar (57%) sebesar Rp.500.000-<Rp.1.000.000. Pengeluaran untuk makan sebagian besar (43%) tp.300 000-<Rp.600.000. Namun ada juga keluarga yang pengeluaran untuk makan lebih besar dari pendapatannya. Jumlah anggota keluarga sebagian besar (64%) berjumlah ≤4. Keadaan kesehatan balita sebagian besar (80%) mengalami sakit dalam bulan terakhir. Ada hubungan antara sakit dalam 1 bulan terakhir dengan status gizi indikator BB/U dengan p=0,035. Sumber air bersih sebagian besar berasal dari sumur 94%). Sedangkan sumber air minum sebagian besar adalah PAM (73%). Tingkat konsumsi energi sebagian besar terkategori buruk, yaitu sebesar 45%. Tingkat konsumi protein sebagian besar terkategori baik yaitu sebesar 61%. Sebagian besar satus gizi balita indikator BB/U terkategori baik (48%). Tidak ada hubungan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi balita indikator BB/U dengan p-0,273. Begitu juga dengan tingkat konsumsi protein tidak ada hubungan dengan status gizi balita ind ikator BB/U dengan nilai p=0,314. Diharapkan pemerintah makin memperhatikan keadaan kesehatan dan sanitasi pengungsi di lokasi pengungsian. Terlebih lagi balita sangat rentan terhadap penyakit, sehingga hal-hal yang dapat menyebabkan balita sakit, seperti buruknya sanitasi, urangnya persediaan air bersih, dan aspek kebersihan lingkungan, dapat diminimalisir

Item Type: Monograph (Laporan Penelitian)
Additional Information: KKC KK LP 31/09 Mun k-3
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine > RA565-600 Environmental health
Divisions: 10. Fakultas Kesehatan Masyarakat > Gizi Kesehatan
Creators:
CreatorsNIM
Lailatul Muniroh, SKMUNSPECIFIED
Astri Diah Anggraeni, SKMUNSPECIFIED
Depositing User: Sulistiorini
Date Deposited: 10 May 2022 01:00
Last Modified: 10 May 2022 01:00
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/116161
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item