PERAN PENAMBAHAN VITAMIN C PADA SUPLEMENTASI FE+ FOLAT TERHADAP PERUBAHAN KADAR FE1UTIN SERUM, SATURASI TRANSFERIN, BESI SERUM, TOTAL IRON BINDING CAPACITY (TIBC) DAN HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI ANEMIA

NANIK DWI ASTUTI, - (2018) PERAN PENAMBAHAN VITAMIN C PADA SUPLEMENTASI FE+ FOLAT TERHADAP PERUBAHAN KADAR FE1UTIN SERUM, SATURASI TRANSFERIN, BESI SERUM, TOTAL IRON BINDING CAPACITY (TIBC) DAN HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI ANEMIA. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text
18. PERAN PENAMBAHAN VITAMIN C PADA SUPLEMENTASI FE+FOLAT, NANIK DWI ASTUTI.pdf

Download (31MB)
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah gizi di Indonesia. Anemia rentan terjadi pada remaja putri karena peningkatan kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan kehilangan darah selarna masa menstruasi. Anemia gizi besi merupakan anemia yang disebabkan oleh cadangan besi tubuh berkurang. Keadaan ini dapat dilihat dengan adanya saturasi transferin menurun, dan kadar feritin atau hemosiderin swnsum tulang yang berkurang. Beberapa diantaranya yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi adalah vitamin C. Vitamin C berperan sebagai enhancer, dimana peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak I 00 mg dapat meningkatkan penyerapan besi sebesar 4 kali. Upaya pencegahan yang dilakukan di Indonesia dengan memberikan Tablet Tambah Darah (TID) pada ibu hamil, ibu nifas dan wanita usia subur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran vitamin C pada suplementasi besi +folat terhadap kadar ferritin serum, saturasi transferrin, besi serum, TIBC dan Hb remaja putri anem1a. Kadar hemoglobin merupakan parameter paling mudah untuk menentukan status anemia pada kelompok masyarakat. Kadar hemoglobin diperoleh dari sintesa heme yang diproduksi pada sumswn tulang. Heme merupakan protein atau porfirin yang mengandung besi yang disintesis dari glisin dan zat besi. Pada saat bersamaan disintesa protein globin yang merupakan protein globular yang akan digabungkan dengan heme untuk membentuk hemoglobin. Transferin adalah protein pengangkut besi, dalam bentuk transferin mukosa dan transferin reseptor. Transferin mukosa mengangkut zat besi dari saluran cema ke dalam sel mukosa dipindahkan ke transferin reseptor, kemudian transferin reseptor mengangkut besi melalui darah dibawa ke sumsum tulang (digunakan untuk membuat hemoglobin) dan semua jaringan tubuh yang membutuhkan, kelebihannya disimpan dalarn bentuk feritin dan hemosiderin di dalarn hati, sumsum tulang belakang dan selebihnya di dalarn limpa dan otot. Absorbsi besi dipengaruhi tingkat konsumsi protein, zat besi dan vitamin C yang diperoleh dari pola konsumsi pangan. Pola pangan seorang remaja putri tergantung pada umur, siklus dan lama menstruasi, pengetahuannya tentang gizi dan pendidikan ibu. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah umur, lama menstruasi, siklus menstruasi, pengetahuan gizi, pendidikan ibu, pola konsumsi, tingkat konsumsi protein, zat besi, vitamin C, feritin serum, saturasi transferin, besi serum, total iron binding capacity (TIBC) dan kadar Hb. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan design penelitian Randomized Pre Post Test Control Group Design, dengan pemberian perlak:uan secara Double Blind. Penelitian ini dilak:ukan bulan April - September 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswi SMPN 3 Ngronggot. Sampel diambil secara acak: sebanyak: 11 siswi kelompok perlakuan dan 11 siswi kelompok kontrol. Data yang digunakan adalah data primer dengan teknik pengurnpulan data menggunakan kuesioner dan pemeriksaan sampel darah di 1aboratorium. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data karakteristik responden yang meliputi umur, siklus dan lama menstruasi, pendidikan ibu dan pengetahuan gizi. Pola dan tingkat konsumsi gizi dikumpulkan dengan menggunakan form Food Frequency dan Food Recall 24 jam. Pemeriksaan laboratorium pada sampel darah untuk mempero1eh kadar ferritin serum, saturasi transferrin, besi serum dan TIBC. Kadar Hb dlperoleh dengan metode pemeriksaan menggunakan hemocue. Umur responden pada penelitian ini berkisar antara 13-15 tahun dengan ratarata 13,64 tahun pada kelompok perlak:uan dan 13,82 pada kelompok kontrol. Ratarata siklus menstruasi 27,91 hari dan pada kelompok kontrol 26,64 hari. Rata-rata lama menstruasi pada kelompok perlakuan 7,09 hari dan pada kelompok kontrol 7 hari. Pendidikan ibu responden dari kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang terbanyak adalah berpendidikan SMP dengan jumlah sama 54,5%. Pada kelompok perlakuan terbanyak memiliki pengetahuan gizi yang kurang sebanyak 54,5% dan pada kelompok kontrol pengetahuan gizi cukup dan kurang sama banyaknya masing- masing 45,5%. Pola konsumsi pada kelompok perlakuan terbanyak adalah makanan pokok + I auk nabati + sayur sebanyak 63, 7%. Sedangkan pada kelompok kontrol terbanyak adalah makanan pokok + lauk hewani + sayur sebanyak 45,5%. Frekuensi makan responden pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sama 2 kali - 3 kali mak:an sehari masing-masing sebanyak 45,5%. Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok perlak:uan dan kelompok kontrol pada variabel kadar ferritin serum, saturasi transferin, besi serum, TIBC dan Hb masing-masing dengan probabilitas yang sama 0,000. Hasil uji statistik dengan menggunakan independent t-test/ menunjukkan ada perbedaan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada sesudah perlakuan untuk variabel kadar ferritin serum dengan probabilitas 0,004 (p < 0,05). Sedangkan pada variabel kadar saturasi transferin, besi serum, TIBC dan kadar Hb tidak ada perbedaan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sesudah perlakuan dengan masing-masing probabilitas 0,078; 0,052; 0,277; 0,177 (p > 0,05). Tetapi jika dilihat dari nilai rata-rata sesudah perlakuan kadar transferin, besi serum, TIBC dan Hb pada kelompok perlakuan lebih tinggi dlbandingkan kelompok kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada perbedaan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sesudah perlakuan pada variabel kadar feritin serum. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan vitamin C menlngkatkan penyerapan zat besi sehingga menlngkatkan pula status besi sampai pada tlngkat penyimpanan besi feritin dalam tubuh. Untuk itu, lebih baik pemberian suplemen besi + folat diberikan bersarna-sama dengan vitamin C.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine
Divisions: 10. Fakultas Kesehatan Masyarakat > Gizi Kesehatan
Creators:
CreatorsNIM
NANIK DWI ASTUTI, -NIM101514153041
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
ContributorMERRYANA ADRIANI, -NIDN0017055904
Depositing User: Agung BK
Date Deposited: 03 Mar 2025 00:42
Last Modified: 03 Mar 2025 00:42
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/136629
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item