Asmoro Wigati, -
(2004)
Studi Pendahuluan Pemanfaatan Gel Lidah Buaya (Aloe Vera Linn) Sebagai Obat Aphthous Ulcer.
Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
Abstract
Lidah buaya (aloe vera Linn) adalah tanaman yang banyak dimanfaatkan untuk kosmetik dan obat. Gel Aloe vera yang didapat dari daging daun Lidah buaya memiliki kandungan nutrisi yang cukup lengkap yaitu polisakarida (terutama glukomannan), asam-asam amino esensial dan sekunder, enzim oksidase, katalase, lipase, dan enzim-enzim pemecah protein (protease). Enzim protease bekerja sama dengan glukomanan mampu memecah bakteri yang menyerang luka. Selain itu, Aloe vera juga mengandung kompleks antrakuinon dan saponin yang berkhasiat sebagai antibakteri. Saponin bekerja dengan cara menghemolisis sel bakteri sedangkan antrakuinon belum diketahui mekanisme kerjanya. Salah satu enzim dalam Lidah buaya yang disebut bradikininase dapat memecah bradikinin, penyebab rasa nyeri yang terbentuk di luka. Asam krisofan mendorong penyembuhan kulit yang mengalami kerusakan, oleh karena itu gel Lidah buaya bersifat antibakteri sekaligus meredam rasa sakit dan memiliki daya antibakteri karena mengandung kompleks antrakuinon, saponin, dan enzim protease yang dapat membunuh bakteri.
Aphthous ulcer (sariawan) adalah lesi ulseratif pada mukosa oral. Penyebab utama aphthous ulcer hingga saat ini belum diketahui dengan jelas. Aphthous ulcer adalah penyakit sekunder yang muncul menyertai gejala penyakit lain. Invasi bakteri yang ada di dalam rongga mulut ke dalam lesi akan semakin memperparah aphthous ulcer. Flora normal yang banyak terdapat di dalam mulut adalah Staphylococcus sp dan Streptococcus sp. Staphylococcus aureus adalah salah satu flora normal yang hidup di mulut dan saluran pernafasan yang dapat menyerang lesi dan memperparah aphthous ulcer.
Penelitian ini adalah studi pendahuluan tentang pemanfaatan gel Lidah buaya sebagai obat Aphthous ulcer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antibakteri dari gel Lidah buaya terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.
Dalam penelitian ini, gel Lidah buaya didapat dari daging daun Lidah buaya segar. Dari gel tersebut dibuat larutan sampel dengan konsentrasi 100%, 95%, 90%, 80%, 75%, 60%, 55%, 49%, dan 48% dalam air suling steril. Metode yang digunakan untuk menentukan daya antibakterinya adalah metode difusi dengan cara cetak lubang pada media Nutrien agar dan metode dilusi atau seri pengenceran tabung (serial dilution test) dalam media Nutrien cair dilanjutkan dengan penanaman sediaan yang telah diinkubasi selama 18-24 jam pada media Nutrien agar. Metode difusi dilakukan untuk mengetahui adanya daya antibakteri secara kualitatif, sedangkan metode dilusi dilakukan untuk mengetahui Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)nya.
Dalam penelitian ini dilakukan tiga kali replikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kualitatif gel Lidah buaya mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan diameter zona hambatan rata-rata 1,15 mm. Secara kuantitatif, KHM gel Lidah buaya terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 50%.
Actions (login required)
 |
View Item |