Tuti Budirahayu, - (2024) MENGGAGAS REFORMASI PENDIDIKAN DI INDONESIA: TINJAUAN KRITIS SOSIOLOGI PENDIDIKAN. [Pidato Guru Besar] (Unpublished)
|
Text
Gubes Tuti_Budirahayu_17-12-2024.pdf Download (2MB) |
Abstract
Pokok-pokok pemikiran tentang gagasan reformasi pendidikan dari tinjauan kritis sosiologi pendidikan sekaligus sebagai rekomendasi bagi para pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Pertama, reformasi pendidikan harus kembali kepada tujuan dasar atau landasan perjuangannya, yaitu menegakkan nilainilai pancasila dalam filosofi pendidikannya. Filosofi pendidikan tersebut sejatinya sudah dibangun sedemikian rupa oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, sehingga semua elemen masyarakat, termasuk para elit politik dan penyusun kebijakan di bidang pendidikan, harus memperkuat fondasi dan mengembangkannya sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Godaan-godaan untuk berpaling dari filosofi pendidikan khas Indonesia, seringkali mengacaukan arah dan panduan pendidikan, termasuk dalam pembaruan kurikulum Kedua, undang-undang pendidikan sebagai payung dari berbagai kebijakan pendidikan seharusnya juga dirancang dan dibangun sedemikian rupa sesuai filosofi pendidikan Indonesia yang memiliki jangka waktu (lifetime) panjang, sebagai sebuah blue print pendidikan Indonesia yang handal dan dapat digunakan selama beberapa periode pemerintahan. Tidak sekadar ganti presiden, ganti menteri dan kemudian ganti kebijakan yang terlepas satu sama lain. Di Cina, blue print pendidikannya bisa digunakan untuk seratus tahun. Ketiga, reformasi pendidikan juga harus memperjuangkan nasib masyarakat Indonesia yang tidak beruntung, masyarakat yang mengalami kemiskinan struktural dan kultural, masyarakat minoritas dan berkebutuhan khusus. Termasuk juga memperjuangkan wilayah-wilayah yang tertinggal di mana akses pendidikan serta sarana-prasarana pendidikan, termasuk akses jalan menuju ke sekolah, sangat sulit untuk didapat. Dengan memberikan perhatian yang lebih besar kepada kelompokkelompok masyarakat tersebut, maka persoalan kesenjangan dan ketidakadilan sosial dapat sedikit demi sedikit dikurangi. Keempat, reformasi pendidikan juga harus menyentuh kepentingan terbaik bagi siswa dan para guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan. Interaksi antar aktor di sekolah, baik dalam proses pembelajaran, maupun dalam aktivitas sosial lain yang melibatkan orang tua dan masyarakat, dapat dikembangkan sedemikian rupa dengan menguatkan sisi-sisi humanis dan penghargaan terhadap kemanusian yang adil dan beradab. Berbagai persoalan pendidikan yang berkaitan dengan kekerasan di sekolah, menjadi alarm yang mengkhawatirkan tentang hilangnya rasa kemanusiaan dan keadaban di sekolah. Untuk itu, kebijakan pendidikan seharusnya memberi ruang bagi insan pendidikan untuk mengembangkan cipta, rasa, dan karsa yang lebih mengedapkan sisi-sisi kemanusiaan, tidak dengan mengontrolnya melalui berbagai beban administrasi dan aplikasi yang sangat mekanistis dan antihumanis.
| Item Type: | Pidato Guru Besar | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Subjects: | H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM706 Social structure H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM826 Social institutions |
||||
| Divisions: | Pidato Guru Besar > 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik | ||||
| Creators: |
|
||||
| Depositing User: | Dewi Puspita | ||||
| Date Deposited: | 24 Apr 2025 03:50 | ||||
| Last Modified: | 24 Apr 2025 03:50 | ||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/137012 | ||||
| Sosial Share: | |||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


