Sarkawi B. Husain, - (2024) SURABAYA: KOTA PERGERAKAN, KOTA REVOLUSI, DAN AMNESIA SEJARAH. [Pidato Guru Besar] (Unpublished)
|
Text
42. SARKAWI.pdf Download (2MB) |
Abstract
Surabaya adalah kota tempat bersemainya benih-benih nasionalisme dan tempat kemerdekaan Indonesia dipertaruhkan. Hal tersebut tidak lepas dari karakter kota Surabaya yang sangat kosmopolit dan dinamis. Surabaya pada abad ke-19, melalui pelabuhan alamnya kata Howard Dick (2002: xvii; Hageman, 1860: 2) telah berkembang menjadi kota besar. Pembangunan berbagai infrastruktur seperti reI kereta api, galangan kapal, dan industri, serta penggunaan tenaga uap untuk menggiling tebu, membuat Surabaya menjadi salah satu kota pelabuhan modern terbesar di Asia, sejajar dengan Calcutta (Kolkata), Rangon (Yangon), Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Shanghai. Lebih kurang satu abad kemudian, Surabaya menjadi temp at terjadinya peristiwa yang sangat heroik, yakni pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan yang menelan puluhan ribu korban. Pertempuran yang menyebabkan istri kehilangan suaminya, anak kehilangan ayahnya, dan ibu yang kehilangan putra tersayangnya. Oleh karena itu, tidak salah jika pemerintah kemudian menetapkan Pertempuran Surabaya 10 November 1945 sebagai Hari Pahlawan. Sayang sekali, alih-alih menjadi pelajaran untuk kehidupan yang lebih baik, kita lebih sering terjebak pada rutinitas peringatan atas hari-hari bersejarah seperti yang sebulan lalu kita memperingatinya dengan serangkaian upacara bendera. Sebagai bangsa dengan penuh heroik merebut dan mempertahankan kemerdekaan, peringatan tersebut tentu memiliki tujuan mulia untuk mengenang jasa-jasa pahlawan kita. Ibarat sebuah kalimat, kita butuh koma untuk berhenti sejenak mengambil nafas sebelum mengakhirinya dengan titik. Salah satu pelajaran penting dari sejarah adalah bagaimana menghargai proses. Hal ini penting mengingat kehidupan dewasa ini selalu mengajarkan agar melihat hasil. Akibatnya adalah menghalalkan segala carapun tidak sungkan-sungkan untuk dilakukan. Kita butuh waktu untuk merenung dan mengevaluasi sudah sejauh mana langkah kaki kita berjalan membangun negeri ini. Persoalannya adalah peringatan hari bersejarah cenderung menjadi aktivitas seremonial, sehingga makna dibaliknya menjadi hilang dan hambar. Satu hal misalnya yang perlu mendapat perhatian serius termasuk perguruan tinggi adalah nasib para veteran pejuang dan keluarganya. Perbaikan nasib para veteran tentu menjadi tanggung jawab pemerintah, namun masyarakat termasuk perguruan tinggi harus mengambil peran untuk membantu hidup yang layak bagi para pejuang dan keluarganya. Apakah perguruan tinggi di Indonesia misalnya, termasuk Universitas Airlangga yang kita cintai ini mau memfasilitasi anak atau cucu para veteran - dengan syarat-syarat tertentu - untuk menikmati pendidikan tinggi.
| Item Type: | Pidato Guru Besar | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | HISTORY | ||||
| Subjects: | D History General and Old World > D History (General) | ||||
| Divisions: | Pidato Guru Besar > 12. Fakultas Ilmu Budaya | ||||
| Creators: |
|
||||
| Depositing User: | Dewi Puspita | ||||
| Date Deposited: | 19 Sep 2025 02:43 | ||||
| Last Modified: | 19 Sep 2025 02:43 | ||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/138172 | ||||
| Sosial Share: | |||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


