Syiyam Fitrianingsih
(2023)
Restorasi Splint Crown Porcelain Fused To Metal Dengan Kasus Gigitan Edge To Edge Gigi 11 Dan 21.
Tugas Akhir D3 thesis, Universitas Airlangga.
![[img]](https://repository.unair.ac.id/style/images/fileicons/text.png) |
Text (Fulltext)
152010513006_hIlppKNRcWYj2_XtTMxafZJKPCYGB7.pdf
Download (1MB)
|
Abstract
Keberhasilan dalam pembuatan restorasi splint crown dengan kasus gigitan edge to edge, harus memperhatikan oklusi dengan gigi antagonis, desain restorasi yang akan dibuat dan jenis bahan metal maupun keramik. Dengan mengetahui keberhasilan tersebut dapat dijadikan pedoman terkait prosedur pembuatan restorasi splint crown porcelain fused to metal dan mengetahui faktor apa yang perlu dipertimbangkan dalam membuat desain restorasi splint crown porcelain fused to metal. Laboratorium menerima model kerja rahang atas dan bawah, pada rahang atas gigi 11 dan 21 mengalami gigitan edge to edge. Sehingga dokter gigi minta dibuatkan restorasi splint crown porcelain fused to metal. Edge to edge merupakan salah satu jenis kelainan oklusi (maloklusi) pada gigi dengan tipe maloklusi gigi kelas 3, dimana antara gigi seri atas dan bawah mengalami kontak langsung di sisi ujungnya. Pada gigitan edge to edge paling sering ditemukan di daerah anterior. Splinting biasanya digunakan untuk menghubungkan gigi agar meningkatkan dukungan saat gigi digunakan sebagai abutment untuk restorasi gigi tiruan cekat. Setiap jenis splint harus melibatkan gigi yang stabil sebanyak mungkin untuk mengurangi tekanan, menahan gigi dengan kuat, tidak menghalangi oklusi sehingga ketidakharmonisan oklusi yang harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum pemasangan splint. Teknik pembuatan restorasi splint crown porcelain fused to metal dengan kasus gigitan edge to edge gigi 11 dan 21, meliputi pembuatan model kerja, pembuatan dan penyelesaian koping, aplikasi lapisan keramik meliputi opaque, dentin, enamel, dan translucent, glazing serta dilanjutkan proses penyelesaian metal bagian palatal.
Actions (login required)
 |
View Item |