Pola Intervensi Gangguan Pendengaran dan Ketulian pada Pasien Tuli Kongenital di Poli Neurotologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Rizky Aprilianti, - (2022) Pola Intervensi Gangguan Pendengaran dan Ketulian pada Pasien Tuli Kongenital di Poli Neurotologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA,.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
011411131064_HALAMAN JUDUL.pdf

Download (926kB)
[img] Text (BAB I)
011411131064_BAB I.pdf

Download (720kB)
[img] Text (FULLTEXT)
011411131064_FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/

Abstract

Tuli kongenital pada bayi dan anak merupakan masalah yang tidak saja dirasakan oleh anak tetapi juga oleh orang tua dan keluarga. Angka kekerapan terjadinya tuli kongenital dibeberapa negara berkisar 1-3/1000 kelahiran. Pendengaran merupakan salah satu indera pada manusia yang berhubungan erat dengan kemampuan berbicara sehingga dengan ada kelainan pendengaran pada bayi atau anak yang terjadi sejak lahir akan menyebabkan gangguan kemampuan berbicara dan berbahasa dan lebih luas lagi akan berdampak pada kemampuan kognitif, sosial dan, akademik. Jumlah kasus gangguan pendengaran pada bayi baru lahir di Indonesia cukup banyak, tetapi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dan memahami skrining yang harus dilakukan sesegera mungkin, sehingga banyak yang terlambat di diagnosis. Penelitian dengan judul “Pola Intervensi Gangguan Pendengaran dan Ketulian pada Pasien Tuli Kongenital di Poli Neurotologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya” ini merupakan penelitian dengan rancangan cross-sectional untuk mengetahui prosentase tuli kongenital berdasarkan umur pertama kali di lakukan pemeriksaan dan intervensinya dengan metode total sampling dalam proses pengambilan sampelnya. Dari jumlah sampel, didapatkan kelompok terbanyak dalam skrining tuli kongenital yaitu pada umur lebih atau sama dengan 60 bulan yaitu sebanyak 12 pasien (27,3%) dan kelompok paling sedikit yaitu pada umur kurang dari 12 bulan sebanyak 2 pasien (4,5%). Kelompok terbanyak yang menjalani intervensi adalah pasien yang menjalani terapi wicara saja yaitu sebanyak 22 pasien (50%) dan yang paling sedikit adalah pengguna implan koklea yaitu sebanyak 2 pasien (4,5%). Dan, kelompok terbanyak dalam intervensi berupa terapi wicara yaitu pada x kelompok umur lebih dari 60 bulan yaitu sebanyak 16 pasien (36,4%) dan kelompok paling sedikit yaitu pada umur 12-24 bulan sama dengan kelompok umur 48-60 bulan yaitu sebanyak 4 pasien (9,1%). Umur pada saat di lakukan skrining pada pasien tuli kongenital masih banyak yang lebih dari atau sama dengan 60 bulan, hal itu dikarenakan terlambatnya kesadaran orang tua dalam hal melakukan pemeriksaan terhadap anak tersebut sehingga dimulainya intervensi juga akan terlambat karena dalam diagnosis tersebut dibutuhkan waktu yang relatif lama. Sedangkan intervensi berupa alat bantu dengar ataupun implan koklea tidak dapat dilakukan kepada seluruh pasien dikarenakan biaya yang relatif mahal dan tidak adanya bantuan dari pemerintah untuk penggunaan alat bantu dengar dan pemakaian implan koklea.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKA KK S.FK.D.144_22 Riz p
Uncontrolled Keywords: Pattern of intervention, Hearing loss, Congenital deafness
Subjects: H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV697-3024 Special classes > HV1551-3024 People with disabilities
Divisions: 01. Fakultas Kedokteran > S1 Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM
Rizky Aprilianti, -NIM011411131064
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorNYILO PURNAMI, -NIDN8811900016
Thesis advisorDWIYANTI PUSPITASARI, -NIDN0016107404
Depositing User: sugiati
Date Deposited: 20 May 2026 02:20
Last Modified: 20 May 2026 02:20
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/141154
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item