Sri Sumarmi, - (2019) GIZI PRAKONSEPSI: MENCEGAH STUNTING SEJAK MENJADI CALON PENGANTIN Disampaikan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Gizi Kesehatan pada fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga di Surabaya pada Hari Sabtu, Tanggal 14 Desember 2019. [Pidato Guru Besar] (Unpublished)
|
Text (PIDATO GURU BESAR)
84. 03.13.PGB.FKM Prof. Dr. Sri Sumarni, S.KM., M.Si.pdf Download (8MB) |
Abstract
Kata prakonsepsi mungkin masih menjadi kata yang asing dan belum dipahami oleh sebagian besar masyarakat, namun kata stunting kini mulai akrab pada telinga masyarakat luas. Pada kesempatan ini, saya akan mencoba mengaitkan keduanya dengan calon pengantin. Prakonsepsi berasal dari kata pra dan konsepsi. Pra artinya 'sebelum', sedangkan konsepsi artinya 'peristiwa bersatunya sel sperma dan sel telur di saluran falopii untuk membuahkan embrio sebagai calon mahkluk hidup baru, yang mengawali terjadinya proses kehamilan'. Oleh karena itu, gizi prakonsepsi membahas tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan zat gizi untuk mempersiapkan kehamilan. Dalam konsep siklus daur kehidupan (life cycle), masih sangat jarang literatur yang membahas tentang gizi prakonsepsi. Sejak tahun 2007 saya mulai tertarik mempelajari gizi prakonsepsi, yang kemudian menjadi bahan penelitian longitudinal yang didanai oleh Indonesian Danone Institute Foundation pada tahun 2010, serta dana pendamping dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Sejak tahun 2013, organisasi kesehatan dunia (WHO) mulai menekankan pentingnya intervensi gizi dan pelayanan Kesehatan pada periode prakonsepsi, yaitu dengan merekomendasikan adanya pelayanan kesehatan prakonsepsi (preconception care) dalam sistem pelayanan kesehatan (WHO, 2013) Di sisi lain, masalah stunting kini menjadi salah salndonesitu fokus perhatian pemerintah dalam upaya penanganan masalah gizi untuk menghasilkan sumberdaya manusia Indonesia yang unggul dan maju. Arti kata stunting dalam bahasa Indonesia saat ini masih diperdebatkan, ada yang menerjemahkan 'pendek', ada pula yang menerjemahkan 'kerdil'. Namun, kini masyarakat luas mulai banyak yang mengetahui bahwa stunting adalah anak yang pendek. Menurut WHO, pengertian stunting adalah kondisi tubuh pendek, yang terjadi karena gagal tumbuh (growth failure), sehingga anak tidak dapat mencapai potensi pertumbuhannya. Mengidentifikasi anak stunting dapat dilakukan dengan mengukur panjang badan atau tinggi badan seorang anak, lalu dibandingkan dengan ukuran panjang badan atau tinggi badan standar pada usianya. Kondisi stunting terjadi apabila panjang atau tinggi badan di bawah ukuran standar tinggi badan menurut WHO (<-2SD atau Z score <-2 SD).
| Item Type: | Pidato Guru Besar | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Gizi Prakonsepsi, Stunting | ||||
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine > RA773-788 Personal health and hygiene | ||||
| Creators: |
|
||||
| Depositing User: | Tatik Poedjijarti | ||||
| Date Deposited: | 20 May 2026 07:40 | ||||
| Last Modified: | 15 Jun 2026 00:45 | ||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/141206 | ||||
| Sosial Share: | |||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


