UJI TOKSISITAS SUBKRONIS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN INGGU (Ruta angustifolia) PADA TIKUS WISTAR JANTAN

ADE SYAMSI KRISTIAJI (2022) UJI TOKSISITAS SUBKRONIS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN INGGU (Ruta angustifolia) PADA TIKUS WISTAR JANTAN. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
051811133143_HALAMAN JUDUL.pdf

Download (404kB)
[img] Text (BAB I)
051811133143_BAB I.pdf

Download (607kB)
[img] Text (FULLTEXT)
051811133143_FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://www.lib.unair.ac.id

Abstract

Indonesia merupakan negara yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia (Konthen dan Sastrowardoyo, 2007). Dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan obat dari bahan alam yaitu obat tradisional. WHO merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional (World Health Organization, 2003). Di Indonesia, Ruta angustifolia L. secara tradisional digunakan untuk gangguan hati dan penyakit kuning dan pada komuniti China di Malaysia dan Singapura digunakan sebagai pengobatan kanker (Richardson, 2016). Ekstrak etanol 70% dari Ruta angustifolia memiliki potensi sebagai anti-HCV dengan senyawa rutin sebagai marker dalam pengembangan obat anti-HCV menunjukkan IC50 2,9 ± 0,8 dan 28,1 ± 5,6 µg/ml (Wahyuni et al, 2021). Ruta angustifolia merupakan salah satu tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Dalam pengembangannya, produk bahan baku harus memenuhi persyaratan mutu dalam efek farmakologi dan keamanan (Wahyuni, et al, 2021). Untuk menjamin ekstrak etanol 70% daun Inggu (Ruta angustifolia) sebagai bahan baku dalam pengembangan obat tradisional yang memenuhi persyaratan mutu keamanan maka perlu dilakukan uji non klinik. Uji non-klinik yang dilakukan adalah uji toksisitas pada hewan coba (Rattus norvegicus galur Wistar) untuk mengetahui keamanan dari suatu bahan uji. Pada penelitian ini dilakukan uji toksisitas subkronis berdasarkan pada PerkaBPOM no.7 tahun 2014 tentang Pedoman Uji Toksisitas Nonklinik Secara In Vivo dan OECD guideline test. Pada penelitian dilakukan uji toksisitas subkronis pada lima kelompok yaitu kelompok dengan dosis 50 mg/kgBB (dosis lazim), 500 mg/kgBB (10x dosis lazim), 1000 mg/kgBB (20x dosis lazim), kontrol negatif dan dosis satelit 1000 mg/kgBB (20x dosis lazim) dengan tujuan mengetahui keamanan penggunaan secara berulang dalam jangka waktu tertentu. Uji toksisitas subkronis dilakukan selama 28 hari dengan perlakuan dan dilanjut 14 hari tanpa perlakuan untuk kelompok satelit. Pengamatan terhadap gejala toksik pada hewan coba dilakukan setiap hari dan dilakukan penimbangan berat badan setiap tiga hari. Setelah melewati masa perlakuan hewan coba dinekropsi dan dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan hematologi (hemoglobin, leukosit, trombosit, eritrosit, eosinofil, basofil, neutrofil dan limfosit) serta biokimia darah (total bilirubin, SGOT, SGPT, BUN, kreatinin dan glukosa). Organ ditimbang dan dihitung berat relatif dan dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologi terhadap organ hati, ginjal, paru-paru dan limfa. Perhitungan berat badan hewan coba, pemeriksaan kimia klinik, pemeriksaan hematologi, analisis organ relatif, dan histopatologi dilakukan analisis two-way ANOVA dan t-test t. Sedangkan pada analisis pemeriksaan kimia klinik, pemeriksaan hematologi, dan organ relatif akan di analisis menggunakan metode one-way ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% (?=0,05). Untuk mengetahui ada tidaknya efek perlakuan antar kelompok, analisis dilanjutkan dengan Post Hoc Test (Uji Tukey). Analisis histopatologi menggunakan analisis statistik non-parametrik Kruskal-Wallis untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan gambaran histopatologi pada organ hati, ginjal, paru-paru dan limfa berdasarkan analisa hasil skoring Berdasarkan hasil analisis menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna pada pemeriksaan berat badan hewan coba, hematologi dan kimia klinis pada masing masing kelompok perlakuan. Namun ditemukan perbedaan bermakna pada organ relatif dan histopatologi yaitu antara kelompok 1000 mg/kgBB dengan kelompok kontrol negatif (P=0,0427) serta pada organ relatif testis antara kelompok 500 mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB dengan kelompok kontrol negatif (P=0,0101; 0,0060). Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan perbedaan bermakna pada organ hati dengan lesi cholangitis, kupffer cells dan portal pain pada kelompok 1000 mg/kgBB dengan kelompok kontrol negatif (P=0,0378; 0,0461; 0,0045) diikuti dengan nilai skoring lesi cholangitis, kupffer cells dan portal pain kelompok 1000 mg/kgBB tertinggi dari seluruh kelompok. Berdasarkan hasil analisis terhadap kelompok 1000 mg/kgBB dengan kelompok satelit 1000 mg/kgBB tidak ditemukan perbedaan bermakna pada perubahan berat badan, organ relatif, kimia klinis dan histopatologi. Namun perbedaan bermakna pada pemeriksaan hematologi dengan parameter trombosit, eosinofil dan limfosit (P= 0,0234; 0,0421; 0,0121 ). Pada parameter trombosit dan limfosit, kelompok satelit 1000 mg/kgBB memiliki nilai yang lebih rendah dari kelompok 1000 mg/kgBB yang menunjukkan bahwa setelah perlakuan ditemukan penurunan kadar trombosit dan limfosit. Pada parameter eosinofil kelompok satelit 1000 mg/kgBB memiliki nilai yang lebih tinggi dari kelompok 1000 mg/kgBB yang menunjukkan bahwa setelah perlakuan ditemukan kenaikan kadar eosinofil. Namun nilai kedua kelompok untuk parameter trombosit, eosinofil dan limfosit masih masuk ke dalam rentang nilai normal. Uji toksisitas subkronis ekstrak etanol 70% daun Inggu (Ruta angustifolia) pada tikus Wistar jantan tidak ditemukan efek toksik pada dosis 50 mg/kgBB dan 500 mg/kgBB sedangkan pada dosis 1000 mg/kgBB menunjukkan adanya efek toksik pada organ relatif hati dan testis serta pada pemeriksaan histopatologi hati. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan makadalam pengembangan ekstrak etanol 70% Ruta angustifolia sebagai bahan baku dalam Obat Herbal Terstandar atau Fitofarmaka perlu diperhatikan dosis yang digunakan khusus1000 mg/kgBB dan penggunaan dalam jangka panjang.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK S.FF 213 - 23 ADE u
Uncontrolled Keywords: Ruta angustifolia, toksisitas subkronis, hematologi, histopatologi
Subjects: R Medicine > RV Botanic, Thomsonian, and eclectic medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Ilmu Kefarmasian
Creators:
CreatorsNIM
ADE SYAMSI KRISTIAJINIM051811133143
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Depositing User: Sulistiorini
Date Deposited: 25 May 2026 07:15
Last Modified: 25 May 2026 07:15
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/141502
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item