Mochamad Ferdyan Nasrullah, - (2022) Peran Modal Sosial Dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Di Dusun Ringinsari, Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA,.
|
Text (HALAMAN JUDUL)
071711733049_HALAMAN JUDUL.pdf Download (546kB) |
|
|
Text (BAB I)
071711733049_BAB I.pdf Download (533kB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
071711733049_FULLTEXT.pdf Restricted to Registered users only Download (3MB) | Request a copy |
Abstract
Pembangunan merupakan upaya untuk menciptakan sebuah perubahan terencana dari yang sederhana menjadi lebih berkembang. Di Indonesia, selain pembangunan infrastruktur, sumber daya manusia juga menjadi fokus pembangunan secara masif. Orientasinya adalah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perkembangan zaman. Program pemberdayaan masyarakat kemudian menjadi salah satu solusi dengan melibatkan para stakeholder di dalamnya. Untuk memaksimalkan upaya pemberdayaan, dibutuhkan penguatan modal sosial suatu masyarakat. Hal ini dikarenakan modal sosial mampu menciptakan kohesi sosial dalam masyarakat yang memudahkan untuk pencapaian tujuan secara kolektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk modal sosial yang dikaitkan dengan program pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori modal sosial dari Robert Putnam yang kemudian dianalisis dengan temuan di lapangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus. Lokasi penelitian dilakukan di Dusun Ringinsari, Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara purposive yang disesuaikan dengan kriteria peneliti. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, modal sosial di Dusun Ringinsari sangat berpengaruh dalam efektifitas program pemberdayaan masyarakat. Modal sosial yang dapat diidentifikasi antara lain bonding social capital, bridging social capital, linking social capital, dan hybrid social capital. Keempatnya dikaitkan dengan proses dan hasil (outcome) dari pemberdayaan masyarakat yang dimaksudkan sebagai social capital building atau capacity building. Kendala yang muncul mulai dari kurangnya pemasaran produk keripik pisang, pengajuan program PNPM yang terhambat, kecemburuan sosial, konflik kepentingan, dan tidak adanya Ketua RW. Namun, kendala tersebut dapat terselesaikan dengan cara pemanfaatan relasi warga untuk pemasaran keripik pisang, melakukan inisiatif pengajuan program ke pengembang lain, menghadirkan Kepala Desa untuk mediator konflik, dan dilakukannya rangkap jabatan oleh BPD menjadi Ketua RW.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KK KKB S.FISIP. A. 04-22 Moc p | ||||||
| Uncontrolled Keywords: | Bonding social capital, bridging social capital, linking social capital, hybrid social capital, pemberdayaan masyarakat, stakeholder | ||||||
| Subjects: | G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM711-806 Groups and organizations > HM756-781 Community |
||||||
| Divisions: | 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Antropologi | ||||||
| Creators: |
|
||||||
| Contributors: |
|
||||||
| Depositing User: | sugiati | ||||||
| Date Deposited: | 17 Jun 2026 01:34 | ||||||
| Last Modified: | 17 Jun 2026 01:34 | ||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/142530 | ||||||
| Sosial Share: | |||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


