Heikal Ubaidillah Mardhiyyan, - (2022) Sikap Turki Dalam Merespon Isu Uighur Di Tengah Kedekatannya Dengan Tiongkok Pasca Upaya Kudeta Tahun 2016. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (HALAMAN JUDUL)
071811233043_HALAMAN JUDUL.pdf Download (1MB) |
|
|
Text (BAB I)
071811233043_BAB I.pdf Download (368kB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
071811233043_FULLTEXT.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Di tengah hubungan Turki dengan Tiongkok, terdapat satu permasalahan sensitive yang mengganggu hubungan kedua negara, yaitu permasalahan isu Uighur. Permasalahan ini berdampak pada hubungan politik yang tidak stabil diantara keduanya. Pasca upaya kudeta tahun 2016, Turki berusaha mendekat ke Tiongkok sebagai respon hubungannya dengan Barat yang semakin renggang dengan berusaha membentuk hubungan yang lebih stabil. Adanya kejadian ini kemudian membentuk sikap Turki yang cenderung tidak konsisten dalam merespon isu Uighur. Penelitian ini kemudian berusaha menganalisis sikap Turki dalam merespon isu Uighur di tengah kedekatannya dengan Tiongkok terutama pasca upaya kudeta tahun 2016. Melalui konsep Neoclassical Realism dan Strategi Hedging, penulis berargumen bahwa sikap Turki dalam merespon isu Uighur didorong dua faktor, yaitu domestik dan internasional. Dari hasil temuan penulis, sikap Turki terbentuk karena dua hal. Pertama adanya tekanan publik yang mendukung isu Uighur dengan mendorong Tiongkok untuk menegakkan hak-hak asasi etnis Uighur. Kedua, Turki perlu untuk bungkam terhadap permasalahan Uighur demi memperlancar kerjasama dengan Tiongkok melalui integrasi Middle Corridor Initiative (MCI) dan Belt and Road Initiative (BRI) serta intensi masuk ke dalam Shanghai Cooperation Organization (SCO). Tekanan publik hadir karena sejarah historis antara masyarakat Turki dengan etnis Uighur di Xinjiang dan adanya kesamaan etnis dan agama diantara mereka sehingga Turki perlu melindungi Uighur dengan mengangkat isu ini. Namun, Turki juga memerlukan Tiongkok demi kerjasama infrastruktur antara MCI dengan BRI dan intensi keanggotaan di dalam SCO. Hal ini dilakukan Turki sebagai respon hubungannya yang buruk dengan arat pasca kudeta tahun 2016 sehingga untuk mencapai hal tersebut, Turki perlu untuk tidak merespon isu Uighur.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKB KK-2 S.FISIP.HI.39/22 Hei s | ||||||
| Uncontrolled Keywords: | Turki-Tiongkok, Isu Uighur, Opini Publik, Middle CorridorInitiative, Shanghai Cooperation Organization | ||||||
| Subjects: | J Political Science > JZ International relations > JZ5-6530 International relations | ||||||
| Divisions: | 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional | ||||||
| Creators: |
|
||||||
| Contributors: |
|
||||||
| Depositing User: | sugiati | ||||||
| Date Deposited: | 26 Jun 2026 02:49 | ||||||
| Last Modified: | 26 Jun 2026 02:49 | ||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/143106 | ||||||
| Sosial Share: | |||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


