Identitas Hibrida dalam Integrasi Sosial Etnis Tionghoa Muslim di Surabaya

BASTIAN YUNARIONO (2022) Identitas Hibrida dalam Integrasi Sosial Etnis Tionghoa Muslim di Surabaya. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
071717047301_HALAMAN JUDUL.pdf

Download (929kB)
[img] Text (BAB I)
071717047301_BAB I.pdf

Download (706kB)
[img] Text (FULLTEXT)
071717047301_FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Studi ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam identitas dan integrasi sosial etnis Tionghoa Muslim di Kota Surabaya pasca-Reformasi. Perubahan sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis membuka ruang artikulasi etnis Tionghoa Muslim di Kota Surabaya untuk merekonstruksi jati dirinya. Perkembangan lain adalah kemajuan Tiongkok sebagai kekuatan global yang meningkatkan rasa percaya diri etnis Tionghoa Muslim di Kota Surabaya dalam membangun identitasnya. Perubahan tatanan global dan lokal mempengaruhi pembentukan identitas mereka sebagai kelompok etnoreligi yang baru berkembang pasca-Reformasi. Selanjutnya penelitian ini mengkaji secara mendalam upaya etnis Tionghoa Muslim di Kota Surabaya dalam melakukan integrasi sosial dengan menggunakan identitas Tionghoa Muslim yang hibrida. Etnis Tionghoa Muslim di Kota Surabaya, yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCI), secara intensif melakukan upaya harmonisasi antara etnis Tionghoa Muslim dan non-Muslim dengan etnis atau suku lainnya. Etnis Tionghoa Muslim di Kota Surabaya menjadi jembatan budaya diantara dua kelompok dalam masyarakat Surabaya yang multikultur. Untuk menganalisis masalah dalam penelitian ini menggunakan perspektif teori globalisasi dari JN Pieterse yang menjelaskan bahwa globalisasi mengakibatkan terjadinya hibridisasi struktural dan kultural. Hibridisasi struktural merujuk pada terciptanya situs hibriditas sosial dan institusi-institusi baru. Sedangkan hibridisasi kultural atau budaya adalah terjadinya percampuran budaya antar kawasan yang membentuk budaya hibrida. Selanjutnya untuk membahas identitas hibrida sebagai sarana integrasi sosial dalam penelitian ini menggunakan teori yang dikemukakan Ien Ang. Pemikirannya bahwa identitas hibrida diperlukan sebagai politik kebudayaan di negara-negara multikultur yang bertujuan untuk melunakkan perbedaan identitas yang tajam dan saling eksklusif. Studi ini menggunakan pendekatan etnografi sebagai metode penelitian. Sumber data berasal dari observasi dan wawancara mendalam yang melibatkan 45 infoman yang terdiri dari pengurus organisasi Tionghoa Muslim di Kota Surabaya, etnis Tionghoa Muslim yang tidak terlibat aktif dalam organisasi Tionghoa Muslim. Infoman lainnya adalah pengurus organisasi keagamaan di Jawa Timur dan Surabaya seperti MUI, NU dan Muhammadiyah serta masyarakat sekitar Masjid Cheng Hoo. Sumber data lainnya berasal dari buku, jurnal, majalah dan sumber dari internet yang kredibel. Penelitian ini menunjukkan bahwa identitas etnis Tionghoa Muslim di Kota Surabaya merupakan identitas hibrida yang merupakan perpaduan unsur budaya Tionghoa yang berakar dari Tiongkok, Jawa dan Islam. Identitas budaya hibrida termanifestasikan dalam organisasi Tionghoa Muslim, Masjid Cheng Hoo, bahasa dan perayaan Imlek. Dalam tataran praktis identitas hibrida etnis Tionghoa Muslim di Kota Surabaya berfungsi efektif sebagai sarana integrasi sosial. PITI dan YHMCI sebagai organisasi hibrida menjadi jembatan budaya antara etnis Tionghoa Muslim dan non-Muslim dengan etnis atau suku lain yang mayoritas beragama Islam. Makna identitas hibrida sebagai sarana atau instrumen integrasi sosial termanifestasikan melalui simbol-simbol budaya hibrida dalam disain Masjid Cheng Hoo dan praktik-praktik budaya hibrida yang mendukung harmonisasi etnis Tionghoa Muslim dan non-Muslim dengan etnis atau suku lain dalam masyarakat Surabaya yang multikultur. Identitas hibrida dalam simbol-simbol dan praktik-praktik budaya yang hibrida tersebut dapat melunakkan perbedaan identitas dan mengintegrasikan berbagai kelompok di masyarakat. Kontribusi penelitian ini membuktikan pendekatan budaya hibrida menjadi sarana yang efektif dalam membangun harmonisasi diantara etnis atau suku dalam masyarakat multikultur.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 D.FISIP.S 07 - 23 Bas i
Uncontrolled Keywords: Chinese Muslims, PITI-YHMCI, cultural globalization, hybrid identity, social integration.
Subjects: H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform > HN1-995 Social history and conditions. Social problems. Social reform
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Doktor Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsNIM
BASTIAN YUNARIONONIM071717047301
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorBAGONG SUYANTONIDN196609061989031002
Thesis advisorRETNO ANDRIATINIDN196110101986012001
Depositing User: Sulistiorini
Date Deposited: 08 Jul 2026 03:28
Last Modified: 08 Jul 2026 03:28
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/143705
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item