STUDI FENOMENOLOGIS MENCARI CINTA BAGI PENGGUNA APLIKASI TINDER

SHIKHA SARIBANON SAOMY VENTRY KHOE (2022) STUDI FENOMENOLOGIS MENCARI CINTA BAGI PENGGUNA APLIKASI TINDER. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
071811433062_HALAMAN JUDUL.pdf

Download (3MB)
[img] Text (BAB 1)
071811433062_BAB 1.pdf

Download (8MB)
[img] Text (FULLTEXT)
071811433062_FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (748kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pergeseran cara mencari cinta dari yang semula dilakukan secara konvensional, kemudian beralih dengan menggunakan media sosial secara daring. Dahulu, ketika menjalin suatu hubungan, tiap pihak yang saling tertarik akan berkenalan dengan tatap muka dan menyiapkan penampilan, pembicaraan dan berusaha memberikan kesan yang baik sejak awal dan semua usaha yang dilakukan sejak awal tidak selalu berhasil dan menuntun pada kencan kedua. Oleh karena itu, banyak orang yang mulai menggunakan aplikasi online dating atau kencan daring karena mempermudah individu menjalin hubungan romantis. Sejak hadirnya online dating, kita tidak perlu bertemu tatap muka langsung, cukup mengirim pesan secara daring untuk bisa menghabiskan waktu bersama atau menggunakan fitur telepon ataupun video call, yaitu telepon dengan menyalakan kamera sehingga penggunanya bisa melihat wajah satu sama lain. Penelitian ini memiliki fokus pada mempelajari pengalaman tiap individu yang menggunakan salah satu aplikasi kencan online yaitu Tinder. Tinder merupakan sebuah aplikasi yang mengutamakan foto individu pada profil dan lokasi terdekat mereka dan apabila individu menyukai profil orang lain maka mereka dapat menggeser layar ke kanan untuk ‘menyukai’ dan menggeser layar ke kiri untuk ‘tidak menyukai’. Jika kedua individu saling menyukai profil satu sama lain maka akan muncul hasil ‘cocok’ atau match dan kemudian mereka dapat saling mengirim pesan. Tinder secara positif membantu banyak individu untuk mendapatkan pasangan namun banyak juga hal negatif yang bermunculan dan menghasilkan persoalan-persoalan personal dan sosial, seperti terjadinya pengkhianatan kepercayaan, pelecehan seksual, hingga eksplorasi seksual tanpa komitmen. Adapun fokus dari penelitian ini adalah memahami bagaimana altruistik cinta, makna cinta dan makna kebersamaan yang diberikan oleh pengguna aplikasi Tinder. Perspektif teoritis yang digunakan adalah teori Altruistic Creative Love atau Cinta Altruistik Kreatif oleh Pitirim. A. Sorokin yang memiliki lima komponen yang Sorokin gunakan di dalam teori ini, yang pertama adalah (1) Ketergantungan Cinta: menunjukkan bagaimana hubungan yang dialami oleh kedua belah pihak menghasilkan ketergantungan antara satu sama lain. (2) Berbagi Cinta: menjelaskan bahwa seorang individu tidak hanya mencintai sesama manusia seperti orang tua, teman, pasangan, tetapi juga makhluk hidup lainnya seperti tanaman atau objek benda mati seperti boneka, buku dan barang-barang yang penting bagi individu tersebut.. (3) Waktu Cinta: menjelaskan bagaimana sebuah hubungan yang mengalami banyak kebahagiaan sekaligus masa krisis dan bagaimana mereka bertahan.. (4) Motif Cinta: cinta yang dimotivasi dari hanya cinta, tanpa motif tersembunyi seperti untuk mendapatkan keuntungan, kesenangan, kenikmatan. (5) Pengalaman Cinta: Kecukupan dari tujuan dan dampak dari tindakan cinta tersebut. Kemudian Share-World atau Berbagi Dunia oleh Heidegger Menurut Heidegger, keberadaan manusia di dunia dikarakteristikan dengan menjaga dan peduli dengan orang lain. Apapun yang dilakukan dan dipikirkan seorang individu selalu berhubungan dengan orangtua, teman atau pasangan bahkan ketika sedang tidak bersama atau ketika orang yang bersangkutan telah meninggal dunia. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang seorang individu lakukan untuk menunjukkan seberapa peduli individu dengan mereka, karena mereka biasanya sangat memedulikan individu, seperti orangtua ketika anaknya masih kecil, atau teman yang selalu ada ketika dibutuhkan. Kepedulian tersebut juga diekspresikan di masa depan ketika seorang individu telah memiliki anak atau bersikap baik kepada orang yang tidak dikenal, sesederhana karena kita semua adalah manusia dan kemanusiaan merupakan sesuatu yang dibangun oleh kebaikan. Inilah yang Heidegger jelaskan sebagai shared-world atau berbagi dunia. Oleh karena itu, shared-world memberikan kecenderungan terhadap being-with. Being-with atau kebersamaan merupakan relasi dari satu orang dengan yang lain. Hal ini sangat berkorelasi dengan media sosial yang tidak mengharuskan seorang individu untuk selalu ada di samping orang lain untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki sebuah “hubungan” atau “koneksi”.Lalu Interaksionisme Simbolik oleh Herbert Blumer. Pengumpulan informan menggunakan teknik purposive. Jumlah informan yang diteliti sebanyak enam informan yang terdiri atas dua informan yang menjalin hubungan komitmen dan tiga informan yang menjalin hubungan seksual. Blumer membagi interaksionisme simbolik atas tiga premis; Pertama, tindakan sosial didasarkan pada makna. Bagaimana individu memaknai berbagai hal dalam hidupnya seperti objek fisik (bangku, pohon), kategori individu lain (seorang ibu, seorang teman, seorang musuh), institusi (sekolah, gedung pemerintahan), sebuah teladan (independensi atau kejujuran), dan situasi-situasi yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari lainnya. Kedua, makna dibentuk melalui interaksi sosial. Ketiga, makna senantiasa berubah, dimodifikasi, dan dinegosiasikan. Peneliti mendapatkan jawaban atas fokus penelitian yang pertama, yakni bagimana altruistik cinta pada pengguna aplikasi Tinder. Peneliti menemukan bahwasannya altruistik cinta yang ditemukan tidak banyak, karena latar belakang tiap informan untuk menggunakan aplikasi Tinder berbeda-beda, tidak hanya untuk mencari pasangan komitmen tetapi juga ada yang hanya untuk memenuhi kebutuhan seksual, sehingga menunjukkan bahwa motif pengguna tidaklah selalu positif dan tulus. Selain itu, informan juga tidak sepenuhnya memiliki ketergantungan dengan pasangan, ada yang selalu berkomunikasi dengan pasangan meskipun sesibuk apapun tetapi ada pula yang di waktu senggangpun tidak memiliki keinginan untuk menghubungi dan berkomunikasi secara intens dengan pasangan. Kemudian waktu hubungan yang dijalani informan tidak semuanya serius dan berkomitmen karena meskipun ada yang melewati waktu yang lama bersama pasangannya, melewati masa-masa sulit bersama, ada pula yang hanya berlangsung selama beberapa bulan karena dasar hubungannya tidak serius dan hanya ingin bersama di waktu-waktu tertentu saja. Untuk hubungan selain dengan pasangan, informan memiliki cinta yang beragam dari orangtua hingga hewan peliharaan mereka atau barang-barang penting di dalam hidup mereka dan ketika membicarakan tentang pengalaman cinta, informan mengalami percintaan yang cukup baik, namun tetap tidak memungkiri bahwa altruistik cinta tidak ditemukan secara utuh. Peneliti juga mendapatkan jawaban atas fokus penelitian yang kedua, yakni bagaimana pengguna aplikasi Tinder memaknai cinta dan kebersamaan. Dalam perjalanan hubungan romantis masing-masing informan, ditemukan terdapat perbaan pada pengguna aplikasi Tinder yang menjalin hubungan komitmen dan hubungan seksual. Bagi yang menjalani hubungan komitmen mendapatkan pengalaman dimana kebersamaan hadir meskipun jarak jauh karena pasangannya selalu hadir dan menemani meskipun di tengah waktu sibuk, dan bagi informan yang berdasar pada komitmen, kebersamaan ini sudah cukup bagi mereka. Sedangkan bagi informan yang berdasarkan pada hubungan seksual, sebuah interaksi secara daring tidak memenuhi pengalaman mereka untuk mendapatkan kebersamaan meskipun jarak jauh. Mereka membutuhkan kehadiran pasangannya langsung secara fisik untuk memenuhi kebutuhan seksual dan intimasi mereka. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) altruistik cinta hanya ditemukan pada orang yang benar-benar mencari pasangan untuk komitmen dan hubungan serius, (2) tiap individu memaknai cinta berdasarkan akumulasi pengalamannya masing-masing terutama bagaimana mereka diperlakukan oleh pasangannya (3) kebersamaan hanya dirasakan oleh individu yang menjalankan sebuah hubungan komitmen dengan pasangannya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 S.FISIP.S 54 - 23 Shi s
Uncontrolled Keywords: Tinder; Creative Altruistic Love; Sharing the World; Symbolic Interactionism; Online Dating
Subjects: H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform > HN1-995 Social history and conditions. Social problems. Social reform
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
Creators:
CreatorsNIM
SHIKHA SARIBANON SAOMY VENTRY KHOENIM071811433062
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorTUTI BUDIRAHAYUNIDN196805121992032002
Depositing User: Sulistiorini
Date Deposited: 21 Jul 2026 06:49
Last Modified: 21 Jul 2026 06:50
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/144076
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item