Perbandingan Profil Uji Kelarutan dan Laju Disolusi Kokristal Asam-p-Metoksisinamat (APMS)-Kafein Perbandingan Molar 1:1 Antara Metode Penguapan Pelarut dan Radiasi Microwave

SUCIATI FITRI, - (2022) Perbandingan Profil Uji Kelarutan dan Laju Disolusi Kokristal Asam-p-Metoksisinamat (APMS)-Kafein Perbandingan Molar 1:1 Antara Metode Penguapan Pelarut dan Radiasi Microwave. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text
cover.pdf

Download (385kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (52kB)
[img] Text (full text)
051811133097.pdf
Restricted to Registered users only

Download (5MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/

Abstract

Kelarutan dan disolusi merupakan parameter dasar yang berkaitan dengan proses pengaturan laju absorbsi dan biovailabilitas suatu obat sediaan oral. Laju disolusi yang rendah akibat kelarutan yang buruk merupakan faktor yang menyebabkan suatu obat yang diberikan secara oral memiliki bioavailabilitas yang rendah, sehingga efek terapeutik yang dihasilkan kurang optimal. Asam p-metoksisinamat (APMS) adalah senyawa turunan dari etil p-metoksisinamat yang berasal dari tanaman kencur (Kaempferia galanga Linn.), dan memiliki efek analgesik dan antiinflamasi dengan cara menghambat aktivitas enzim siklooksigenase (COX-1 dan COX-2) sehingga produksi dari prostaglandin mejadi terhambat. Namun, APMS memiliki kelarutan yang rendah dalam air yaitu 0,712 mg/mL pada suhu 25°C, sehingga tergolong sebagai bahan aktif yang sukar larut. Karena tergolong bahan aktif yang sukar larut, maka diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi dari APMS. Kokristalisasi adalah salah satu metode yang dapat diandalkan untuk memodifikasi sifat fisik dari bahan aktif farmasi seperti kelarutan, laju disolusi, dan stabilitas. Dalam beberapa tahun terakhir, teknik pembentukan kokristal sudah banyak digunakan di bidang farmasi. Kokristal adalah bahan kristal yang tersusun atas dua atau lebih molekul berbeda terdiri atas BAF (Bahan Aktif Farmasi) dan koformer yang pada perbandingan stoikiometri tertentu membentuk ikatan non-ionik atau ikatan non-kovalen. Koformer yang digunakan adalah kafein karena bersifat non-toxic, dan masuk Generally Recognize As Safe (GRAS), Setelah dilakukan prediksi ikatan antara APMS dan kafein secara in silico, diketahui bahwa interaksi yang terbentuk adalah ikatan ?-?* dan gaya Van der Waals. Terdapat dua metode yang digunakan untuk pembuatan kokristal dalam penelitian ini yaitu metode penguapan pelarut dan metode radiasi microwave. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan profil kelarutan dan laju disolusi antara kokristal APMS-kafein 1:1 yang dibuat dengan metode penguapan pelarut dan metode radiasi microwave. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakterisasi pada kokristal menggunakan FTIR (Fourier Transform Infrared) menunjukkan adanya puncak baru, pergeseran puncak, dan adanya puncak yang hilang pada spektra dibandingkan dengan bahan penyusunnya, hal tersebut menunjukkan adanya interaksi antara bahan penyusun. Hasil karakterisasi menggunakan DSC (Differential Scanning Calorymetri) menunjukkan titik lebur kokristal metode penguapan pelarut (155,00 0C) dan metode radiasi microwave (156,68 0C) lebih rendah dibandingkan dengan titik lebur dari APMS (173,56 0C) dam kafein (235,87 0C), senyawa yang memiliki titik lebur lebih rendah maka akan memiliki kelarutan yang lebih tinggi. Karakterisasi menggunakan XRD (X-Ray Diffraction) menunjukkan bahwa untuk kokristal kedua metode memiliki hasil puncak difraktogram yang berbeda dari komponen penyusunnya dan campuran fisik sehingga ini menunjukkan bahwa terbentuk fase kristalin baru. Fase kristal yang terbentuk merupakan hasil interaksi dari kedua bahan penyusun yang berbeda. Hasil karakterisasi dengan SEM (Scanning Electron Microscope) menunjukkan bahwa kokristal yang dibuat dengan metode penguapan pelarut dan metode radiasi microwave menghasilkan morfologi campuran agregat yang berbeda dibandingkan dengan morfologi dari komponen penyusunnya yaitu APMS dan kafein. Hasil pemeriksaan profil kelarutan dari kokristal APMS-kafein metode radiasi microwave lebih tinggi 3,30 dibandingkan dengan APMS murni, sedangkan profil laju disolusi meningkat 2,50 kali dibandingkan dengan APMS murni. Pembentukan kokristal metode penguapan pelarut memiliki profil kelarutan yang lebih tinggi 3,12 kali dibandingkan dengan APMS murni, sedangkan profil laju disolusi meningkat 2,39 kali dibandingkan dengan APMS murni. Sehingga pembentukan kokristal metode radiasi microwave memiliki kelarutan yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode penguapan pelarut. Namun, laju disolusi antara kokristal metode radiasi microwave dan metode penguapan pelarut tidak berbeda bermakna secara statistik.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK S.FF 26 - 23 Suc p
Uncontrolled Keywords: para-methoxy cinnamic acid, caffeine, cocrystal, solubility, dissolution.
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS1-441 Pharmacy and materia medica
Divisions: 01. Fakultas Kedokteran > Ilmu Farmasi
Creators:
CreatorsNIM
SUCIATI FITRI, -NIM051811133097
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorDWI SETYAWAN, -NIDN-
Depositing User: Indah Fatma
Date Deposited: 28 Aug 2026 08:06
Last Modified: 28 Aug 2026 08:06
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/145210
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item