Pola Penggunaan Bronkodilator Pada PPOK (Penelitian di Instalasi Rawat Inap RS.Bhayangkara H. S. Samsoeri Mertojoso Surabaya)

LEONARD SUSANTO, - (2022) Pola Penggunaan Bronkodilator Pada PPOK (Penelitian di Instalasi Rawat Inap RS.Bhayangkara H. S. Samsoeri Mertojoso Surabaya). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HAL JUDUL)
HAL JUDUL.pdf

Download (457kB)
[img] Text (BAB 1)
BAB 1.pdf

Download (45kB)
[img] Text (FULLTEXT)
051811133024.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit yang memiliki karakteristik berupa gejala pernapasan persisten dan keterbatasan aliran udara yang disebabkan oleh kelainan pada saluran pernapasan maupun kelainan alveolar akibat paparan terhadap partikel atau gas yang berbahaya. Lebih dari 3 juta orang telah meninggal akibat PPOK pada tahun 2019, yang menjadikan PPOK sebagai penyebab kematian peringkat ketiga didunia. Dengan meningkatnya prevalensi perokok dan orang dengan usia lanjut disetiap negara, prevalensi dari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) diperkirakan akan terus meningkat, dan pada 2060 akan mencapai 5,4 juta kematian setiap tahunnya. Terapi farmakologi untuk pasien PPOK dapat berupa berbagai obat seperti, antibiotik, kortikosteroid, bronkodilator, dan terapi antimikroba. Bronkodilator adalah pengobatan yang meningkatkan nilai FEV1 dan atau mengubah variabel spirometer. Bronkodilator bekerja dengan mempengaruhi otot polos saluran pernapasan dan meningkatkan aliran ekspirasi dengan memperlebar saluran pernapasan. Terdapat potensi penggunaan oral yang berlebihan dari bronkodilator, terutama Metilxantin dan beta agonis, hal ini dapat terjadi karena harga bronkodilator oral lebih murah dibandingkan dengan inhalasi dan cara pakai nya yang lebih mudah (Dong, 2015) Penelitian dilakukan menggunakan metode observasional dengan metode deskriptif retrospektif berdasarkan data Rekam Medik Kesehatan (RMK) pada pasien rawat inap periode 1 Maret 2018 sampai 31 Maret 2022. Kriteria inklusi meliputi pasien rawat inap yang menggunakan bronkodilator dengan diagnosis PPOK di RS Bhayangkara. Kriteria eksklusi yaitu pasien yang menderita PPOK beserta Tuberkulosis atau Pneumonia. Berdasarkan hasil penelitian secara retrospektif dari Rekam Medik Kesehatan rawat inap pasien PPOK, diperoleh 34 pasien yang lulus kriteria inklusi yaitu 24 pasien laki-laki (71%) dan 10 pasien perempuan (29%), dengan rentang usia antara 40-59 tahun sebanyak 13 pasien (38%), dan > 60 tahun dengan jumlah 21 pasien (62%). Manajemen terapi Bronkodilator yang paling banyak digunakan adalah terapi Kombinasi yang dilakukan pada 34 pasien (100%). Terapi kombinasi tersebut terdiri dari fixed dose combination ( Salbutamol sulfat 2,5 mg - Ipratropium Sulfat 500 mg) (2x1), (3x1), (4x1), dan (6x1) secara nebulasi yang dalam pemberiannya dilakukan tapering digunakan pada 24 pasien (70%), diikuti oleh penggunaan Aminofilin (2x240 mg) dan (3x240 mg) secara IV drip bersamaan dengan fixed dose combination (Salbutamol sulfat 2,5 mg - Ipratropium Sulfat 500 mg) (2x1), (3x1), dan(4x1) dengan pemberian secara tapering yang digunakan pada 6 pasien (18%), lalu ada fixed dose combination (Salmaterol xinafoate 50 mcg – fluticasone propionate 250 mcg) (2x1) secara nebulasi dan ( Salbutamol sulfat 2,5 mg - Ipratropium Sulfat 500 mg) (3x1) dan (4x1) secara nebulasi yang digunakan pada 2 pasien (6%), dan Aminofilin dengan dosis (2x240 mg) IV drip dan Terbutalin sulfat (3x5 mg) secara nebulasi yang digunakan pada 1 pasien (3%) serta Teofilin SR (2x300 mg) secara peroral dan Terbutalin sulfat (3x5 mg) yang digunakan secara nebulasi, digunakan pada 1 pasien (3%). Berdasarkan data klinis pasien, didapatkan Sebanyak 30 pasien (88%) mencapai nilai Respiratory Rate normal, dan 4 pasien (12%) masih memiliki nilai Respiratory Rate diatas nilai normal dan untuk nilai saturasi oksigen pada 34 pasien (100%) telah mencapai nilai saturasi oksigen normal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pola terapi Bronkodilator yang paling banyak digunakan adalah kombinasi 2 Bronkodilator yaitu pemberian fixed-dose combination (Salbutamol sulfat 2,5 mg - Ipratropium Bromida 500 mg) (2x1) neb, (3x1) neb, (4x1) neb, dan (6x1) neb yang dalam pemberiannya dilakukan tapering, digunakan pada 24 pasien (70%), serta aminofilin (2x240 mg) IV drip dan (3x240 mg) IV drip dengan pemberian fixed-dose combination (Salbutamol sulfat 2,5 mg - Ipratropium Sulfat 500 mg) (2x1) neb, (3x1) neb, dan (4x1) neb secara nebulasi yang pemberiannya dilakukan dengan tapering yang digunakan pada 6 pasien (18%), Capaian Respiratory Rate mencapai target pada 30 pasien (88%), Saturasi oksigen mencapai target pada 34 pasien (100%)

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK S.FF 40 - 23 Leo p
Uncontrolled Keywords: Bronkodilator, DUS, PPOK
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > S1 Farmasi
Creators:
CreatorsNIM
LEONARD SUSANTO, -NIM051811133024
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorDIDIK HASMONO, --
Depositing User: Indah Fatma
Date Deposited: 08 Sep 2026 01:40
Last Modified: 08 Sep 2026 01:40
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/145534
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item