UJARAN KEBENCIAN DI MEDIA SOSIAL PASCA PILPRES RI 2019 (Studi Netnografi Pada Akun-Akun Facebook Dan Instagram)

Ita Nurlita (2022) UJARAN KEBENCIAN DI MEDIA SOSIAL PASCA PILPRES RI 2019 (Studi Netnografi Pada Akun-Akun Facebook Dan Instagram). Disertasi thesis, Universitas Airlangga.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
071517047312_HALAMAN JUDUL.pdf

Download (184kB)
[img] Text (BAB I)
071517047312_BAB I.pdf

Download (135kB)
[img] Text (FULLTEXT)
071517047312_FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (4MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id

Abstract

Tujuan penelitian ini menganalisis penyebaran informasi yang menimbulkan ujaran kebencian oleh akun-akun di media sosial pasca Pilpres RI 2019, Oleh karena hampir tiap hari banyak akun-akun di media sosial dengan mudah dan bebas menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian di masyarakat, seperti saat “Pilpres RI 2019”, yaitu berupa unggahan status, tautan, berita, dan gambar-gambar yang dapat dikategorikan sebagai ujaran kebencian. Meskipun kontestasi politik “Pilpres RI 2019” telah selesai, ujaran kebencian di media sosial masih tetap berlanjut bahkan semakin panas meramaikan jagad dunia maya. Adapun media sosial yang banyak terpapar ujaran kebencian menurut Survey Daily Sosial Indonedia pada tahun 2019 adalah Facebook dan Instagram. Ujaran kebencian ini dapat menjadi pemicu perang di media sosial yang membentuk dua kelompok yang saling berseberangan secara aktif memproduksi informasi atau isu yang digunakan sebagai alat perang. Alat perang ini dalam teori Singer dikatakan sebagai “The Weaponization of Social Media”, tujuannya untuk mendapatkan dukungan dari pengguna media sosial maupun pengikut mereka (followers), alat perang ini digerakkan oleh aktor yang mempunyai peran sangat penting dalam memenangkan perang di media sosial, dengan menstimulasi isu yang menarik. Pada era Post -Truth sekarang ini alat perang tersebut merupakan informasi yang kebenarannya masih ada diluar (The Truth Is Out There) menurut Singer dan kebenaran yang masih semu (False Truth) menurut Siva, sehingga sang aktor dapat memainkan narasi, berbagai pilihan informasi, sensasi berita bahkan propaganda dengan menggunakan teknologi komunikasi untuk menarik dan mendapatkan dukungan dari pengguna media sosial. Dalam perspektif Teori Tekonologi Komunikasi terdapat ada dua teori saling bertolak belakang, pertama Teori Determinisme Teknologi (TDT) dari Mc Luhan dan Harold Adam menyatakan bahwa pengguna media sosial dibuat menjadi pasif sehingga dapat dikendalikan dan dipengaruhi selanjutnya dikritik oleh William dalam Teori Social Shaping Of Technology (SST) bahwa pengguna media sosial tidak hanya pasif dikendalikan oleh platform media sosial namun dapat menjadi aktif dengan pilihan informasinya sendiri. Untuk lebih mendalam mengungkap suatu fenomena di atas, digunakan metode Netnografi, yaitu menurut Kozinet merupakan metode peneltian untuk memahami interaksi antar individu, masyarakat maupun kelompok sosial serta budayanya melalui jaringan internet. Jadi metode Netnografi disini untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan mengungkap dan menelaah berbagai aktivitas akun-akun di media sosial yang terhubung oleh kelompok akun yang saling berseberangan dengan menyebarkan informasi yang menimbulkan ujaran kebencian hingga perang di media sosial, terutama dimedia sosial facebook dan instagram. Melalui proses analisis netnografi, penelitian ini menemukan: 1) Terdapat beberapa akun, yaitu akun pribadi, akun centang biru, akun admin dan akun bots yang terhubung dan diidentifikasi sebagai kelompok akun kontra pemerintah dan kelompok akun pro pemerintah yang sama-sama menngunggah informasi yang menimbulkan ujaran kebencian, dengan pola unggahan offensive dan defensive 2) Terdapat jaringan aktor yang kuat melalui isu-isu yang dikendalikan oleh aktor dari kedua kelompok untuk menarik serta mencari dukungan follower dan pengguna media sosial dengan tujuan untuk memenangkan perang di media sosial. Di dapat fakta bahwa kelompok pro pemerintah lebih dominan oleh karena aktivitas kelompok itu masih aktif dengan jumlah follower yang masih banyak (tidak berkurang). Sedangkan akun kontra pemerintah banyak yang tumbang (dinonaktifkan platform media sosial) sehingga aktivitas dan followernya juga berkurang. 3) Pengguna media sosial pada era Post Truth saat ini cenderung mencari sendiri kebenaran informasi sesuai dengan keyakinannya, mereka saat ini sudah tidak begitu fanatik serta tidak dapat dikendalikan oleh narasi dan propaganda aktor (perspektif teori SST). Hal ini berbeda saat Pilpres RI 2019 lalu, dimana pengguna media sosial dapat dipengaruhi hingga menjadi fanatik (perspektif teori TDT) dengan saling melemparkan serta menyerang berbagai ujaran kebencian. Selain itu saat ini pengguna media sosial juga tidak lagi percaya pada aktor akibat seringnya aktor menggunggah isu-isu serupa yang berulang-ulang dengan dukungan ratusan akun-akun bots yang membabi buta sehingga menurunkan kepercayaan follower nya yang pada akhirnya banyak yang un-follow dan bahkan ada yang berpindah kelompok.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 D.FISIP.S 14 - 23 Ita u
Uncontrolled Keywords: Hate Speech, Social Media, After The Indonesian Presidential Election in 2019, Netnographic Method, Information of Post-truth Era
Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics > P87-96 Communication. Mass media
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Doktor Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsNIM
Ita NurlitaNIM071517047312
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorHenri SubiaktoUNSPECIFIED
Thesis advisorTitik Puji RahayuNIDN0022117901
Depositing User: Ika Rudianto
Date Deposited: 10 Sep 2026 02:31
Last Modified: 10 Sep 2026 02:31
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/146129
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item