RICKY PEBRIANSYAH (2022) DETEKSI RISIKO GANGGUAN PERILAKU-PSIKOSOSIAL-EMOSI PADA ANAK YANG MENGALAMI PERPISAHAN MATERNAL SELAMA IBU MENEMPUH PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-1 DI RSUD DR. SOETOMO SURABAYA. Thesis thesis, Universitas Airlangga.
|
Text (HALAMAN JUDUL)
012115653192_HALAMAN JUDUL.pdf Download (1MB) |
|
|
Text (BAB I)
012115653192_BAB I.pdf Download (255kB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
012115653192_FULLTEXT.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Latar Belakang: Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja meliputi gangguan perilaku, emosi, dan psikososial. Faktor penyebab gangguan tersebut dapat berasal dari keluarga yaitu perpisahan maternal. Saat ini belum ada studi yang berfokus selama ibu menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi risiko gangguan perilaku-psikososial-emosi pada anak berdasarkan awitan anak mengalami perpisahan, tingkat tahun pendidikan residen, dan frekuensi bertemu ibu-anak yang mengalami perpisahan maternal selama ibu menempuh PPDS-1 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Metode: Studi analitik observasional dengan desain cross sectional dilakukan pada November 2021-Januari 2022. Sampel penelitian adalah anak-anak berumur 4-17 tahun yang mengalami perpisahan maternal selama ibu menempuh PPDS-1. Pengisian kuesioner biodata dan PSC-17 melalui google form oleh residen. Analisis pengaruh awitan perpisahan dan tingkat tahun pendidikan residen terhadap risiko gangguan perilaku-psikososial-emosi menggunakan uji Kruskall Wallis, lalu dilakukan uji Post Hoc menggunakan Mann-whitney. Untuk variabel frekuensi bertemu ibu-anak, dianalisis menggunakan uji Mann-whitney. Hasil: Terdapat 55 residen perempuan terpisah dengan anak akibat menempuh PPDS, tetapi 1 residen menolak untuk berpartisipasi. Anak yang mengalami perpisahan maternal berjumlah 104 anak, tetapi hanya 91 anak yang memenuhi kriteri inklusi. Anak yang mengalami awitan perpisahan sejak usia >5 tahun signifikan mengalami risiko gangguan skala internalisasi lebih berat dibandingkan sejak usia <2 tahun. Tingkat tahun pendidikan dan frekuensi bertemu ibu-anak tidak mempengaruhi risiko gangguan perilaku-psikososial-emosi anak. Kesimpulan: Semakin lambat awitan perpisahan maternal, semakin berat risiko gangguan skala internalisasi, tetapi tidak berpengaruh pada skala eksternalisasi dan atensi. Tingkat tahun pendidikan residen dan frekuensi bertemu ibu-anak tidak mempengaruhi risiko gangguan perilaku-psikososial-emosi. Penulis menyarankan orang tua (residen) harus lebih waspada terhadap risiko gangguan skala internalisasi jika terjadi perpisahan maternal saat anak berusia di atas 5 tahun.
| Item Type: | Thesis (Thesis) | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKA KK T.FK.KK 101 - 23 Ric d | ||||
| Uncontrolled Keywords: | Children Emotional-Psychosocial-Behavioral Disorders, Maternal Separation, Medical Residency Education Program. | ||||
| Subjects: | R Medicine > RJ Pediatrics > RJ370-550 Diseases of children and adolescents | ||||
| Divisions: | 01. Fakultas Kedokteran > S2 Ilmu Kedokteran Klinik | ||||
| Creators: |
|
||||
| Depositing User: | Ika Rudianto | ||||
| Date Deposited: | 10 Sep 2026 03:17 | ||||
| Last Modified: | 10 Sep 2026 03:17 | ||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/146138 | ||||
| Sosial Share: | |||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


