Determinan Kejadian Penetrasi-Aspirasi Pada Pasien Karsinoma Nasofaring Pasca Radioterapi

LALU ADITYA HARIS PRATAMA, - (2022) Determinan Kejadian Penetrasi-Aspirasi Pada Pasien Karsinoma Nasofaring Pasca Radioterapi. Masters thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN I)
011728056301 HALAMAN I.pdf

Download (289kB)
[img] Text (BAB I)
011728056301 BAB I.pdf

Download (47kB)
[img] Text (FULL TEXT)
011728056301.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/

Abstract

Latar belakang: Penetrasi-aspirasi merupakan komplikasi paling serius yang dapat terjadi pada pasien karsinoma nasofaring (KNF) pasca radioterapi. Radioterapi terbukti meningkatkan angka harapan hidup pasien namun juga sering menyebabkan keluhan yang berat pada pasien. Disfagia orofaring merupakan salah satu efek samping radioterapi yang paling umum yang dapat mengakibatkan residu faring. Residu faring dapat menyebabkan penetrasi-aspirasi dan berlanjut menjadi pneumonia aspirasi, sepsis, hingga kematian bila tidak ditangani dengan baik. Beberapa determinan yang menyebabkan kejadian penetrasi-aspirasi antara lain adalah lokasi residu faring, stadium KNF, dan lama pasca radioterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari determinan terjadinya penetrasi aspirasi pada pasien KNF pasca radioterapi. Metode: Observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling. Data dasar berupa umur, jenis kelamin, stadium KNF, dan lama pasca radioterapi diambil dari rekam medik. Dilakukan pemeriksaan Fiberoptic endoscopic evaluation of swallowing (FEES) pada pasien KNF pasca radioterapi untuk menilai residu faring dan penetrasi aspirasi. Penilaian residu faring dilakukan dengan menggunakan skala The Yale Pharyngeal Residue Severity Rating Scale (YPR-SRS), sedangkan penilaian penetrasi-aspirasi menggunakan Penetration-Aspiration Scale (PAS). Analisis statistik menggunakan regresi logistik ganda (p<0,05) dan statistik Wald untuk mencari hubungan yang lebih kuat antar variabel. Hasil: Total sampel yang diperoleh adalah 24 pasien. Regresi logistik ganda menunjukkan hubungan yang bermakna antara stadium KNF dan lama pasca radioterapi dengan penetrasi-aspirasi pada pemberian bolus lunak (p<0,05). Statistik Wald menunjukkan hubungan yang lebih kuat antara lama pasca radioterapi (328,686) dan penetrasi-aspirasi dibandingkan hubungan antara stadium KNF dan penetrasi aspirasi (298,118). Kesimpulan: Stadium KNF dan lama pasca radioterapi merupakan determinan kejadian penetrasi-aspirasi pada pasien KNF pasca radioterapi. Lama pasca radioterapi merupakan determinan paling dominan. Lokasi residu (valekula dan sinus piriformis) bukan merupakan determinan kejadian penetrasi-aspirasi pada pasien KNF pasca radioterapi.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information: KKA KK Sp.FK.THT 11 - 23 Lal d
Uncontrolled Keywords: nasopharyngeal carcinoma, radiotherapy, pharyngeal residue, penetration-aspiration, life expectancy
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine > RC31-1245 Internal medicine
Divisions: 01. Fakultas Kedokteran > Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher (Spesialis)
Creators:
CreatorsNIM
LALU ADITYA HARIS PRATAMA, -NIM011728056301
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorSRI HERAWATI JUNIATI, -NIP194906012020046201
Thesis advisorACHMAD CHUSNU ROMDHONI, -NIP197609022008011009
Depositing User: Dewi Puspita
Date Deposited: 14 Sep 2026 04:11
Last Modified: 14 Sep 2026 04:11
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/146540
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item