Anwar Ma'ruf, - and Sarmanu, - and Nove Hidajati, - (2003) Studi Sekresi Leptin Sebagai Dasar Diet Penurunan Berat Badan Secara Fisiologis. Other thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (RINGKASAN)
RINGKASAN.pdf Download (1MB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
Anwar M., M.Kes., Drh., Prof. Dr. H. Sarmanu, MS.,MM., Nove H., .pdf Restricted to Registered users only Download (4MB) | Request a copy |
Abstract
Obesitas adalah peningkatan massa jaringan lemak akibat ketidakseimbangan sistemik antara asupan kalori dengan pemakaian energi. Keadaan obesitas akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler karena keterkaitannya dengan sindroma metabolik. Obesitas merupakan masalah kesehatan utama di negara maju. Di Amerika, setengah penduduk usia dewasa mempunyai kelebihan berat badan, bahkan 20% anak mengalami obesitas. Modernisasi dan industrialisasi pasti akan meningkatkan masalah obesitas di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan larisnya slimming center dan banyaknya iklan tentang cara-cara pengurusan badan. Masalah obesitas bukan hal sederhana yang kita duga selama ini. Kenyataan menunjukkan bahwa mekanisme obesitas sangat kompleks, melibatkan faktor genetik, sistemik, lingkungan, dan proses metabolisme yang rumit. Untuk itu, perlu adanya pemahaman tentang patogenesis, konsekuensi metabolik, endokrinologik, dan kardiovaskuler, baik di tingkat seluler maupun molekuler. Dari segi endokrinologik, ternyata obesitas sangat erat kaitannya dengan sekresi leptin yang ada dalam sirkulasi (Zhang, 1994). Leptin adalah suatu polipeptida dengan berat molekul 16 kD yang diproduksi oleh gen ob. Leptin disekresi oleh jaringan adiposa dan dilepaskan ke dalam sirkulasi. Adanya mutasi pada gen ob menyebabkan obesitas berat, peningkatan nafsu makan, penurunan penggunaan energi, dan resistensi insulin (Wijaya, 1997). Hal ini membuktikan bahwa leptin merupakan hormon penghancur lemak dengan cara mengurangi nafsu makan dan meningkatkan penggunaan energi. Kadar leptin meningkat pada manusia obes karena peningkatan massa lemak. Namun, peningkatan leptin ini tidak diimbangi dengan peningkatan penggunaan energi maupun penurunan nafsu makan. Hal ini menunjukkan bahwa obesitas merupakan keadaan resistensi leptin. Apakah resistensi ini disebabkan oleh kerusakan reseptor atau pascareseptor pada transduksi sinyal, dan apakah melibatkan neuropeptida Y sebagai target kerja leptin di otak atau tempat lain, ternyata sampai saat ini belum diketahui dengan jelas. Bahkan, penelitian mengenai hubungan antara mutasi pada gen leptin dengan obesitas telah gagal. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian dari segi fisioendokrinologi untuk mencari pola waktu dan jumlah pemberian makan yang dapat memengaruhi sekresi leptin sehingga terjadi penurunan berat badan secara fisiologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan pengaturan waktu dan jumlah pemberian pakan terhadap sekresi leptin sebagai dasar diet penurunan berat badan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratoris dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 3 × 3 sehingga diperoleh sembilan kelompok perlakuan dengan delapan kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pengaturan waktu pemberian pakan satu kali, dua kali, dan tiga kali, serta jumlah pakan standar, 10% lebih kecil dari standar, dan 10% lebih besar dari standar. Pemeriksaan kadar leptin serum dilakukan dengan ELISA, lemak daging dengan metode Soxhlet, dan protein daging dengan metode [Marcam Steel?]. Data hasil penelitian kemudian dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) dan apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji least significant difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar leptin serum, kadar lemak daging, dan kadar protein daging tikus yang mendapat pengaturan waktu pemberian pakan satu kali dan dua kali sehari dengan jumlah pakan standar dan 10% lebih kecil dari standar berbeda nyata dengan kelompok lainnya (P < 0,05). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa pengaturan waktu pemberian pakan satu kali dan dua kali sehari dengan jumlah pakan standar dan 10% lebih kecil dari standar memberikan hasil kadar leptin serum dan kadar lemak daging yang rendah serta kadar protein daging yang tinggi. Disarankan agar diet penurunan berat badan secara fisiologis dilakukan dengan cara waktu makan satu kali atau dua kali sehari dengan jumlah standar atau 10% lebih kecil dari standar.
| Item Type: | Thesis (Other) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Diet, Fisiologis | ||||||||
| Subjects: | R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology > RM214-258 Diet therapy. Dietary cookbooks | ||||||||
| Divisions: | 06. Fakultas Kedokteran Hewan | ||||||||
| Creators: |
|
||||||||
| Depositing User: | Fahimatun Nafisa Nafisa | ||||||||
| Date Deposited: | 30 Sep 2026 01:42 | ||||||||
| Last Modified: | 30 Sep 2026 01:42 | ||||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/148112 | ||||||||
| Sosial Share: | |||||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


