Status Perkawinan Penghayat Kepercayaan Yang Tidak Dilangsungkan Di Hadapan Pemuka Penghayat Kepercayaan Dan Akibat Hukumnya

Regina Yusticia Nababan, S.H. (2022) Status Perkawinan Penghayat Kepercayaan Yang Tidak Dilangsungkan Di Hadapan Pemuka Penghayat Kepercayaan Dan Akibat Hukumnya. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA,.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
032014253014 COV.pdf

Download (487kB)
[img] Text (BAB 1)
032014253014 BAB.pdf

Download (236kB)
[img] Text (FULLTEXT)
032014253014.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/

Abstract

Hak untuk berkeluarga merupakan hak konstitusional setiap warga negara, termasuk warga penganut penghayat kepercayaan. Tata cara pencatatan perkawinan bagi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diatur dalam Pasal 39 dan Pasal 40 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013. Sebelumnya pengaturan mengenai perkawinan penghayat kepercayaan belum diatur di Indonesia. Menurut Peraturan Pemerintah tersebut, perkawinan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Masa Esa dilakukan di hadapan pemuka penghayat kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa. Permasalahannya terdapat aliran penghayat kepercayaan yang tidak mensyaratkan kehadiran dari pemuka penghayat kepercayaan disesi perkawinan. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis keabsahan perkawinan penghayat kepercayaan yang tidak dilangsungkan oleh pemuka penghayat kepercayaan serta untuk menganalisis akibat hukum dari peristiwa tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konsep (conceptual approach) dan pendekatan kasus (case approach). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dilihat dari pendekatan secara perundang-undangan perkawinan penghayat kepercayaan yang tidak dilangsungkan di hadapan pemuka penghayat kepercayaan dapat dikatakan tidak sah. Selain itu perkawinan penghayat yang tidak dilangsungkan di hadapan penghayat kepercayaan dapat membawa akibat hukum seperti tidak terpenuhinya hak dan kewajiban suami-istri, harta perkawinan dan tidak terjaminnya status anak. Penelitian ini juga menemukan bahwa pengaturan tata cara perkawinan di dalam peraturan pemerintah tersebut berpotensi melanggar hak asasi manusia bagi warga penghayat kepercayaan.

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKB KK-2 T.FH.K.66/22 Reg s
Uncontrolled Keywords: Akibat Hukum, Keabsahan Perkawinan, Penghayat Kepercayaan.
Subjects: K Law > K Law (General) > K1-7720 Law in general. Comparative and uniform law. Jurisprudence > K7000-7720 Private international law. Conflict of laws > K7120-7197 Persons > K7155-7197 Domestic relations. Family law > K7157-7179 Marriage. Husband and wife
K Law > KB Religious law in general > KB1-4855 Religious law in general. Comparative religious law. Jurisprudence
Divisions: 03. Fakultas Hukum > Magister Kenotariatan
Creators:
CreatorsNIM
Regina Yusticia Nababan, S.H.032014253014
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorAGUS YUDHA HERNOKO196504191990021001
Thesis advisorHAIDAR ADAM198204192008121003
Depositing User: mat sjafi'i
Date Deposited: 06 Oct 2026 08:20
Last Modified: 06 Oct 2026 08:20
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/148721
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item