KONSTRUKSI IDENTITAS KE-CINA-AN DI KALANGAN PEMUDA ETNIS CINA

DWI NURHAYATI, 079414457 (2003) KONSTRUKSI IDENTITAS KE-CINA-AN DI KALANGAN PEMUDA ETNIS CINA. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (Abstrak)
gdlhub-gdl-s1-2010-nurhayatid-12064-fiss01-k.pdf

Download (321kB) | Preview
[img] Text (Full text)
gdlhub-gdl-s1-2010-nurhayatid-10807-fiss01-9.pdf
Restricted to Registered users only

Download (676kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Kehidupan Etnis Cina di Indonesia memang sangat menarik untuk dikaji. Pertama, karena sensitif menyangkut pembicaraan SARA. Kedua, latar belakang historis dan cara pandang mereka serta pengalaman hidup di bumi nusantara ini, tidak biasa begitu saja digeneralisasi. Identitas ke-Cina-an adalah sesuatu hal yang yang amat rumit, sebuah isu yang bisa diperdebatkan dan tidak akan hilang selama masih ada orang-orang yang mengklaim dirinya, ataupun dapat diidentifikasikan sebagai “Cina”. Adalah kenyataan pula bahwa isu identitas ini telah diabaikan dalam kasus kelompok etnis Cina di Indonesia, paling tidak selama masa pemerintahan orde baru. Masalah identitas ke-Cina-an ini perlu mendapat perhatian serius karena pengakuan tentang keberadaan identitas ke-Cina-an pada kelompok etnis Cina adalah langkah awal yang perlu dilakukan sebelum ‘masalah Cina’ dibicarakan lagi. Berdasarkan temuan dan analisis data, maka dapat diambil kesimpulan bahwa identitas ke-Cina-an adalah segala tanda atau atribut yang melekat pada seseorang yang mengkaitkan mereka dengan negeri Cina. Hal tersebut bisa meliputi ciri-ciri fisik/biologis, penggunaan nama Cina, bahasa Cina, adat istiadat dan kepercayaan Cina. Pemuda etnis Cina Surabaya memandang bahwa identitas ke-Cina-an yang mereka miliki hanya terbatas pada hubungan darah, ciri fisik atau biologis, nama Cina yang jarang digunakan dalam pergaulan, penguasaan bahasa yang sangat minim dan kepercayaan pada nilai-nilai yang sangat terbatas, seperti nilai kepatuhan pada orang tua, etos kerja yang tinggi dan ikatan kekerabatan yang kuat. Konstruksi identitas ke-Cina-an di kalangan pemuda etnis Cina, selanjutnya dapat dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu: Pertama, memandang identitas ke-Cina-an bukan sebagai suatu beban. Pada kelompok ini identitas ke-Cina-an yang mereka miliki tidak dirasakan sebagai kendala/hambatan dalam interaksi baik dengan sesama etnis Cina maupun dengan pribumi. Kelompok ini bisa dibagi lagi dalam dua kategori yaitu yang mendapat keuntungan karena identitas ke-Cina-an dan yang tidak memperoleh keuntungan darinya. Kelompok yang menyatakan mendapat keuntungan adalah mereka yang pernah/sering melakukan transaksi bisnis dengan sesama etnis Cina. Mereka menyatakan kemudahan-kemudahan akan mereka dapatkan ketika berbisnis dengan sesama etnis atau ketika mencari dan bekerja di lingkungan etnis Cina. Sedangkan mereka yang menyatakan tidak merasakan keuntungan dari identitas ke-Cina-an mereka adalah mereka yang belum pernah melalakukan transaksi bisnis atau hubungan kerja dengan etnis Cina. Kedua, memandang identitas ke-Cina-an sebagai beban dan keuntungan sekaligus. Keuntungan diperoleh dalam hubungan bisnis atau kerja disamping bantuan yang tak terduga ketika mendapat masalah dan kerugian dirasakan ketika berhubungan dengan pribumi di lingkungan birokrasi. Pilihan/alternatif perilaku berdasarkan konstruksi identitas ke-Cina-an kemudian dikategorikan dalam perilaku di bidang sosial budaya, ekonomi dan politik. Perbedaan dalam konstruksi identitas ke-Cina-an tidak menyebabkan perbedaan dalam pilihan perilaku di bidang sosial. Seluruh informan menyatakan dapat berinteraksi secara baik dengan pribumi seperti halnya dengan sesama etnis Cina di lingkungan sosialnya. Meskipun tidak semua informan bisa intens berhubungan dengan lingkungan tempat tinggal, kampus maupun lingkungan kerja sekaligus, tetapi mereka mengaku paling tidak dapat menciptakan hubungan yang harmonis di salah satu tempat umum tersebut. Kendala tidak intensnya interaksi di salah satu lingkungan tersebut misalnya karena aktifitas luar rumah mereka yang sangat tinggi sehingga tidak bisa bergaul dengan lingkungan tetangga sekitar. Atau tidak bisa intens dengan teman kampus atau rekan kerja yang pribumi karena kampus atau lingkungan kerja mayoritas diisi oleh etnis Cina. Tidak ada informan yang menjadi anggota perkumpulan etnis Cina, bahkan ada di antara mereka yang tidak mengetahui keberadaan perkumpulan etnis Cina. Sebagian besar (8 informan) memandang perkumpulan tersebut sebagai hal yang positif, sedang 2 lainnya menganggap adanya perkumpulan tersebut justru bisa menimbulkan kesan eksklusivisme. Dalam memilih pasangan hidup, sebagian besar informan mengatakan bahwa pilihan mereka bersifat bebas, artinya bisa dari pribumi maupun etnis Cina. Hanya 2 informan yang memilih untuk mencari pasangan yang berasal dari sesama etnis. Orang tua mereka lebih menyarankan mereka memilih dari sesama etnis, kecuali Bagus yang disarankan ibunya untuk memilih pasangan dari pribumi. Di bidang ekonomi, informan menyatakan lebih suka melakukan transaksi bisnis atau hubungan kerja dengan sesama etnis Cina. Kemudahan-kemudahan dalam bisnis dan pembagian keuntungan yang adil adalah hasil yang mereka peroleh dalam bisnis dengan sesama etnis. Demikian pula dalam hubungan kerja, perlakuan yang pantas dalam pemberian gaji dan peluang mendapatkan pekerjaan lebih mudah didapatkan dari sesama etnis. Dalam bidang politik, tidak ada informan yang aktif atau terjun langsung dalam partai politik. Tetapi meskipun demikian dapat dilihat orientasi politik mereka berdasarkan identitas ke-Cina-annya. Sebagian besar informan lebih menyukai etnis Cina berafiliasi dengan partai-partai politik yang pluralis daripada bergabung dengan partai-partai yang berbasis etnis Cina. Pendapat ini didasari oleh sikap untuk tidak mau mengelompok dalam satu wadah etnis sehingga bisa menimbulkan kesan eksklusivisme. Kondisi kota surabaya juga dirasakan cukup kondusif bagi terciptanya hubungan antar etnis yang harmonis. Seluruh informan menyatakan bahwa kondisi sudah memperlihatkan pembauran antar kelompok pribumi dan etnis Cina karena terbukti tidak pernah timbul ledakan sosial yang massif. Penerimaan kelompok pribumi pada mereka juga menyebabkan mereka merasa aman untuk melakukan aktifitas-aktifitas di luar rumah tanpa harus menghindari tempat-tempat tertentu yang dirasa rentan bagi timbulnya konflik etnis. Jadi terdapat kesenjangan antara prasangka rasial di tingkat makro dan tingkat mikro. Mereka merasa dirugikan dan mendapat perlakuan rasis ketika harus berhadapan dengan birokrasi atau lembaga-lembaga formal, tetapi di tingkat pergaulan di lingkungan tempat tinggal, kampus dan lingkungan kerja dan lain-lain tidak terdapat hambatan yang berarti.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 Fis S.01/09 Nur k
Uncontrolled Keywords: etnis cina
Subjects: H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV3176-3199 Special classes. By race or ethnic group
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
Creators:
CreatorsNIM
DWI NURHAYATI, 079414457UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorMusta'in, Dr., MsiUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 09 Jun 2010 12:00
Last Modified: 29 Sep 2016 14:47
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/18182
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item