PENGARUH KINERJA STRATEGI INVESTASITERHADAP PROFITABILITAS BAGI PEMILIK PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS BAGI MANAJEMEN PERUSAHAAN DI PASAR MODAL INDONESIA PENELITIAN : EXPOST FACTO

FAUZY AGAM, 099512016D (2002) PENGARUH KINERJA STRATEGI INVESTASITERHADAP PROFITABILITAS BAGI PEMILIK PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS BAGI MANAJEMEN PERUSAHAAN DI PASAR MODAL INDONESIA PENELITIAN : EXPOST FACTO. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
agamfauzy.pdf

Download (474kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-agamfauzy-3468-disekk-3.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Tesis yang mengungkapkan pemisahaan antara manajemen perusahaan selaku pengendali perusahaan dan pemilik perusahaan, pertama kali dikemukakan oleh Berle dan Means (1932) merupakan titik awal dari bertumbuhnya penelitian yang menghasilkan literatur - literatur dalam bidang ekonomi manajerial, keuangan, dan manajemen. Pusat perhatian dari penelitian - penelitian tersebut, adalah adanya proposisi bahwa kepentingan manajeemen perusahaan dan para pemilik perusahaan sangat berbeda, kepentingan para pemilik perusahaan yang berada di luar manajemen perusahaan atau external shareholders, umumnya mengharapkan memperoleh profitabilitas yang memberikan kemakmuran maksimum yang diperoleh melalui Capital Gain = (Shareholders Value less by Initial Investment) dari investasinya dalam saham perusahaan yang bersagkutan dengan Shareholders Value dimaksudkan sebagai (Stock Price Appreciation + Dividend per Share), sementara kepentingan manajemen perusahaan menghendaki tercapainya likuiditas yang tinggi, sehingga nilai atas kemanfaatan maksimum dari fungsi utilitas mereka yang termasuk di dalamnya memperoleh peningkatan dalam power, keamanan, dan status mereka. Sumber konflik antara kedua pihak tersebut, berada pada strategi investasi yang diputuskan oleh pihak manajemen untuk dilaksanakan, umumnya hasil pelaksanaan strategi investasi tersebut bertujuan memaksimumkan ukuran dan keragaman perusahaan atau mengutamakan likuiditas perusahaan, sehingga cenderung mengorbankan prifitabilitas yang diinginkan external shareholders, oleh karena itu untuk menyeimbangkan pencapaian kepentingan kedua pihak, maka diperlukan suatu landasan teori yang mampu mewujudkan suatu rancangan keputusan strategi investasi yang dapat mencakup kepentingan kedua pihak (Maths, 1964; Suad Husnan, 1987). Hal inilah yang menjadi latar belakang dari penelitian dalam penyusunan disertasi ini dengan obyek penelitian pada perusahaan - perusahaan yang go - public di pasar modal Indonesia, yang berdasarkan tinjauan teoritis dan tinjauan penelitian terdahulu maka penelitian ini disusun dalam kerangka konseptual penelitian dengan berlandaskan pada lima buah kriteria stratejik, yaitu : Kriteria Stratejik I, adalah pengelompokkan perusahaan - perusahaan go public dengan didasarkan atas kesamaan kelompok usaha (ISIC), yaitu sebagaimana yang dimuat oleh Institute for Economic and Financial Research (ICFIN) dalam bukunya yang berjudul Indonesian Capital Market Directory (1995), Kriteria Stratejik II, adalah Standardized Models yang secara luas dikenal sebagai Growth/Share Matrix Analysis yang untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Boston Consulting Group (BCG), karena itu model ini selanjutnya lebih dikenal sebagai BCG Growth/Share Matrix Analysis (Lilien Kotler, 1983; (Lilien Kotler, 1983; Cravens, 1991; Panglaykim dkk, 1987; Pawitra, 1987; Fabozzi, 1995), untuk memperoleh nilai dari garis horizontal dan nilai garis vertikal dari matriks ini dalam penelitian ini dikembangkan formulasi yang didasarkan atas formulasi yang dikembangkan oleh Hansen Hill (1991) dan Donald D. Bergh (1995). Kriteria stratejik II ini dipergunakan untuk menganalisa kinerja perusahaan dalam kelompok usahanya, sehingga daripadanya dapat diketahui kondisi awal (initial stage) dari kinerja masing - masing perusahaan sebelum go-public dalam setiap kelompok usaha, Kriteria Stratejik III, adalah mengelompokkan perusahaan - perusahaan go-public atas dasar kesamaan strategi investasinya yang oleh Hoskisson et al. (1993) disebut sebagai Entropy, kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi setiap Entropy apakah sesuai (Suitable) atau tidak sesuai (Unsuitable) dengan model normatif pilihan strategi investasi sebagaimana yang dikembangkan oleh Panglaykim dkk. (1987). Kriteria Stratejik IV, adalah pengelompokkan perusahaan - perusahaan go-public baik yang tergabung dalam kelompok Suitable dan kelompok Unsuitable berdasarkan sumber pembelanjaan yang diemisikan guna membiayai pelaksanaan strategi investasinya, masing - masing dikelompokkan menjadi : (1) Kelompok I, yaitu perusahaan yang strategi investasinya tergolong Suitable yang membiayai strategi investasinya melalui emisi saham biasa, (2) Kelompok II, yaitu perusahaan yang strategi investasinya tergolong Suitable yang membiayai strategi investasinya melalui emisi saham biasa dan obligasi, (3) Kelompok III, yaitu perusahaan yang strategi investasinya tergolong Unsuitable yang membiayai strategi investasinya melalui emisi saham biasa, (4) Kelompok IV, yaitu perusahaan yang strategi investasinya tergolong Unsuitable yang membiayai strategi investasinya melalui emisi saham biasa dan obligasi. Pengelompokkan ini didasarkan pada adanya perbedaan besaran per lembar saham biasa (earning per Share = EPS), yang akan diterima oleh para pemegang saham biasa dari perusahaan yang membelanjai strategi investasinya dengan melakukan penambahan modal sendiri, melalui penambahan jumlah lembar saham biasa dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan dua sumber pembalanjaan, yaitu penambahan modal sendiri dan penambahan modal asing (Lukman, 2000; Abas, 1983; Cottle et al., 1989), Kriteria Stratejik V, adalah melakukan pengukuran Shareholders Value (Rappaport, 1983) yang dapat diperoleh oleh para pemegang saham biasa Bari Kondisi Akhir (Ultimate Stage) dari setiap perusahaan dalam setiap kelompok usaha. Jenis penelitian ini, adalah penelitian Observasional dengan rancangan penelitian Expost Facto, dan data dianalisa secara Cross-sectional and Longitudinal analysis. Dari 87 buah perusahaan yang menjadi populasi survei, hanya 71 buah perusahaan yang dapat diperoleh datanya dan dari hasil analisa dengan menggunakan kriteria stratejik II, yaitu Growth/Share Matrix Analysis dapat diketahui bahwa : (1) Kondisi awal dari 71 buah perusahaan tersebut terdiri dari kuadran : (a) Star sebanyak 19 perusahaan, (b) Cash Cows sebanyak 12 perusahaan, (c)Problem Children sebanyak 35 perusahaan, dan (d) Dog sebanyak 5 buah perusahaan. (2) Dari 19 perusahaan yang kondisi awalnya berada dalam kuadran Star, yang tergabung dalam : (a) kelompok I sebanyak 4 perusahaan, (b) kelompok II sebanyak I perusahaan, (c) kelompok III sebanyak 11 perusahaan, (d) kelompok IV sebanyak 3 perusahaan. (3) Dari 12 perusahaan yang kondisi awalnya berada dalam kuadran Cash Cows, yang tergabung dalam : (a) kelompok I sebanyak 1 perusahaan, (b) kelompok III sebanyak 8 perusahaan, (c) kelompok IV sebanyak 3 perusahaan. (4) Dari 35 perusahaan yang kondisi awalnya berada dalam kuadran Problem Children, yang tergabung dalam : (a) kelompok I sebanyak 17 perusahaan, (b) kelompok IH sebanyak 18 perusahaan. (5) Dari 5 perusahaan yang kondisi awalnya berada dalam kuadran Dog seluruhnya tergabung dalam kelompok III Dengan demikian pada kondisi awal, jumlah perusahaan yang tergabung dalam : (1) kelompok I sebanyak 22 perusahaan yang terdiri dan kuadran : (a) Star sebanyak 4 perusahaan, (b) Cash Cows sebanyak I perusahaan, (c) Problem Children, sebanyak 17 perusahaan. (2) kelompok II dari kuadran Star sebanyak 1 perusahaan. (3) kelompok HI sebanyak 42 perusahaan yang terdiri dan kuadran : (a) Star sebanyak 11 perusahaan, (b) Cash Cows sebanyak 8 perusahaan, (c) Problem Children, sebanyak 18 perusahaan, (d) Dog sebanyak 5 perusahaan. (4) kelompok IV sebanyak 6 perusahaan yang terdiri dari kuadran : (a) Star sebanyak 3 perusahaan, (b) Cash Cows sebanyak 3 perusahaan. Hasil analisis yang dilakukan dengan kritena stratejik II terhadap data cross-sectional hasil pelaksanaan strategi investasi, diperoleh keadaan kondisi akhir dari 71 buah perusahaan tersebut, yaitu yang berada dalam kuadran : (a) Star sebanyak 27 perusahaan, (b) Cash Cows sebanyak 12 perusahaan, (c) Problem Children sebanyak 15 perusahaan, dan (d) Dog sebanyak 17 perusahaan. Dari 27 perusahaan dengan kondisi akhir dalam kuadran Star yang berasal dan perusahaan : (a) kelompok I sebanyak 12 perusahaan, (b) kelompok II sebanyak 1 perusahaan, (c) kelompok III sebanyak 10 perusahaan, (d) kelompok IV sebanyak 4 perusahaan. Dan 12 perusahaan dengan kondisi akhir dalam kuadran Cash Cows yang berasal dari perusahaan : (a) kelompok I sebanyak 7 perusahaan, (b) kelompok HI sebanyak 4 perusahaan, (c) kelompok IV sebanyak 1 perusahaan. Dari 15 perusahaan dengan kondisi akhir berada dalam kuadran Problem Children yang berasal dan perusahaan : (a) kelompok I sebanyak 2 perusahaan, (b) kelompok IH sebanyak 13 perusahaan. Dari 17 perusahaan dengan kondisi akhir berada dalam kuadran Dog yang berasal dari perusahaan : (a) kelompok I sebanyak 1 perusahaan, (b) kelompok IH sebanyak 15 perusahaan, (c) kelompok IV sebanyak 1 perusahaan. Dengan demikian pada kondisi akhir dari jumlah perusahaan yang tergabung dalam : (1) kelompok I sebanyak 22 perusahaan yang terdiri dari kuadran : (a) Star sebanyak 12 perusahaan, (b) Cash Cows sebanyak 7 perusahaan, (c) Problem Children, sebanyak 2 perusahaan. (d) Dog sebanyak 1 perusahaan. (2) kelompok II dari kuadran Star sebanyak 1 perusahaan. (3) kelompok III sebanyak 42 perusahaan yang terdiri dari kuadran : (a) Star sebanyak 10 perusahaan, (b) Cash Cows sebanyak 4 perusahaan, (c) Problem Children, sebanyak 13 perusahaan, (d) Dog sebanyak 15 perusahaan. (4) kelompok IV sebanyak 6 perusahaan yang terdiri dari kuadran : (a) Star sebanyak 4 perusahaan, (b) Cash Cows sebanyak 1 perusahaan, (c) Dog sebanyak 1 perusahaan. Dari 22 perusahaan yang tergabung dalam kelompok I dengan kondisi akhir yang berada dalam kuadran : (1) Star sebanyak 12 perusahaan, adalah terdiri dari perusahaan yang mengalami skenario : (a) sukses sebanyak 10 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Problem Children, (b) konstan sebanyak 2 perusahaan. (2) Cash Cows sebanyak 7 perusahaan, adalah terdiri dari perusahaan yang mengalami skenario : (a) sukses sebanyak 6 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Problem Children, (b) konstan sebanyak 1 perusahaan. (3) Problem Children sebanyak 2 perusahaan, adalah terdiri dari perusahaan yang mengalami skenario : (a) konstan sebanyak 1 perusahaan, (b) gagal sebanyak 1 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Star. (4) Dog sebanyak 1 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Star. Dari 42 perusahaan yang tergabung dalam kelompok III dengan kondisi akhir yang berada dalam kuadran : Star sebanyak 10 perusahaan, adalah terdiri dari perusahaan yang mengalami skenario : (a) gagal sebanyak 2 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Cash Cows, (b) konstan sebanyak 8 perusahaan. Cash Cows sebanyak 4 perusahaan, adalah terdiri dari perusahaan yang mengalami skenario : (a) sukses sebanyak 2 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Star sebanyak 1 perusahaan, dan kondisi awal Dog sebanyak 1 perusahaan, (b) konstan sebanyak 2 perusahaan. Problem Children sebanyak 13 perusahaan, adalah terdiri dari perusahaan yang mengalami skenario : (a) konstan sebanyak 9 perusahaan, (b) gagal sebanyak 2 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Star, 2 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Cash Cows. Dog sebanyak 15 perusahaan, adalah terdiri dari perusahaan yang mengalami skenario : (a) gagal sebanyak 7 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Problem Children, sebanyak 3 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Star, sebanyak 2 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Cash Cows, (b) konstan sebanyak 3 perusahaan. Dari 6 perusahaan yang tergabung dalam kelompok IV dengan kondisi akhir berada dalam kuadran : (1) Star sebanyak 4 perusahaan , adalah terdiri dari dari perusahaan yang mengalami skenario : (a) gagal sebanyak 2 perusahaan yang berasal dari kondisi awal Cash Cows, (b) konstan sebanyak 2 perusahaan. (2) Cash Cows sebanyak 1 perusahaan yang mengalami skenario konstan. (3) Dog sebanyak 1 perusahaan yang mengalami skenario gagal yang berasal dari kondisi awal Star. Sampai pada tahap ini dapat diketahui bahwa, secara empiris terjadi kontradiksi antara hasil penelitian ini dengan teori yang dikemukakan oleh Panglaykim dkk. (1987) bahwa perusahaan yang melaksanakan strategi investasi yang tergolong : (1) Suitable dihipotesiskan akan mencapai skenario sukses, secara empiris terjadi perbedaan yang ditunjukkan dari hasil penelitian ini, yaitu dari 23 perusahaan yang strategi investasinya tergolong suitable (kelompok I dan II), hanya 16 perusahaan yang mengalami skenario sukses, 2 perusahaan mengalami skenario gagal, dan sisanya 5 perusahaan mengalami skenario konstan. (2) Unsuitable dihipotesiskan akan mencapai skenario gagal, secara empiris terjadi perbedaan yang ditunjukkan dari hash penelitian ini, yaitu dari 48 perusahaan yang strategi investasinya tergolong unsuitable (kelompok III dan IV), hanya 21 perusahaan yang mengalami skenario gagal, 2 perusahaan mengalami skenario sukses, dan sisanya 25 perusahaan mengalami skenario konstan. (3) Juga dapat ditemukan adanya skneario konstan, yaitu yang dialami oleh 5 perusahaan dari kelompok strategi investasi yang tergolong suitable dan 25 perusahaan dari kelompok strategi investasi yang tergolong unsuitable. Hasil analisis yang dilakukan dengan kriteria stratejik V, yaitu pengukuran kinerja keuangan secara cross-sectional, ditemukan 4 kondisi yang berkaitan dengan aspek profitabilitas bagi kepentingan pemilik perusahaan dan aspek likuiditas bagi kepentingan manajemen perusahaan dari 71 buah perusahaan tersebut, yaitu kinerja keuangan yang : (1) Liquid dan Profitable dialami oleh : (a) 13 perusahaan kelompok I, (b) 1 perusahaan kelompok II, (c) 27 perusahaan kelompok III, dan (d) 3 perusahaan kelompok IV. (2) Liquid dan Improfitable dialami oleh : (a) 2 perusahaan kelompok I, (b) 6 perusahaan kelompok III. (3) Illiquid dan Profitable dialami oleh : (a) 6 perusahaan kelompok I, (b) 7 perusahaan kelompok III, dan (c) 3 perusahaan kelompok IV. (4) Illiquid dan Improfitable dialami oleh : (a) 1 perusahaan kelompok I, (b) 2 perusahaan kelompok III. Perusahaan yang mengalami kinerja keuangan yang liquid dan profitable dari hasil pelaksanaan strategi investasinya setelah beberapa tahun go public sebanyak 44 buah perusahaan yang terdiri dari 3 skenario, yaitu : (a) skenario sukses sebanyak 11 perusahaan, (b) skenario konstan sebanyak 20 perusahaan, dan (c) skenario gagal 13 perusahaan. Perusahaan yang mengalami kinerja keuangan yang liquid dan improfitable dari hasil pelaksanaan strategi investasinya setelah beberapa tahun go-public sebanyak 8 buah perusahaan yang terdiri dari 3 skenario, yaitu : (a) skenario sukses sebanyak 1 perusahaan, (b) skenario konstan sebanyak 4 perusahaan, dan (c) skenario gagal 3 perusahaan. Perusahaan yang mengalami kinerja keuangan yang illiquid dan profitable dari hasil pelaksanaan strategi investasinya setelah beberapa tahun go-public sebanyak 16 buah perusahaan yang terdiri dari 3 skenario, yaitu : (a) kenario sukses sebanyak 5 perusahaan, (b) skenario konstan sebanyak 8 perusahaan, dan (c) skenario gagal 3 perusahaan. Perusahaan yang mengalami kinerja keuangan yang illiquid dan improfitable dari hasil pelaksanaan strategi investasinya setelah beberapa tahun go-public sebanyak 3 buah perusahaan yang terdiri dari 2 skenario, yaitu : (a) skenario sukses sebanyak 2 perusahaan, (b) skenario konstan sebanyak 1 perusahaan. Sampai pada tahap ini dapat diketahui, bahwa secara empiris skenario yang merupakan kondisi akhir yang dialami perusahaan, dari kinerja pelaksanaan strategi investasinya setelah beberapa tahun go public tidak dapat dijadikan ukuran bahwa skenario yang dialami mencerminkan kinerja keuangannya, selain itu, berdasarkan kinerja keuangan tersebut dapat pula diketahui, bahwa dari 71 perusahaan yang menjadi obyek observasi sebanyak : (a) 44 perusahaan yang menghasilkan kinerja keuangan yang liquid dan profitable yang berarti memenuhi kepentingan manajemen perusahaan dan kepentingan pemilik perusahaan, (b) 8 perusahaan yang menghasilkan kinerja keuangan yang liquid dan improfitable yang berarti memenuhi kepentingan manajemen perusahaan dan merugikan kepentingan pemilik perusahaan, (c) 16 perusahaan yang menghasilkan kinerja keuangan yang illiquid dan profitable yang berarti merugikan kepentingan manajemen perusahaan dan mememnuhi kepentingan pemilik perusahaan, (d) 3 perusahaan yang menghasilkan kinerja keuangan yang illiquid dan improfitable yang berarti merugikan kepentingan manajemen perusahaan dan merugikan kepentingan pemilik perusahaan. Berdasarkan uji statistik terhadap keadaan di atas dilakukan pengujian terhadap pengaruh dari satu set independent variables yang terdiri dari periode go-public (X1) dan kinerja strategi investasi (X2) terhadap satu set dependent variables yang terdiri dari Earnings per Share (Y1) dan Current Ratio (Y2) dengan menggunakan statistik parametrik dengan alat uji Canonical Correlations yang merupakan bagian dari Multivariate Analysis of Variances (MANOVA), diperoleh hasil pengujian berikut : (1) Pengujian hipotesis 1 Pengujian ini dilakukan terhadap 19 perusahaan dari kelompok I, II, III, dan IV yang kondisi awalnya berada dalam kuadran Star, yang terdiri dari 5 strategi investasi, yaitu : (1) Related Diversification (RD), (2) Product Development and Market Expansion (PD+ME), (3) Product Development (PD), (4) Unrelated Diversification (URD), (5) Market Expansion (ME). Dari hasil uji dengan Multivariate Test yang merupakan output utama dari Canonical Correlation diperoleh besaran Wilks&#039;s Lambda dengan probabilitas (sig of E) &gt; 0,05 untuk strategi investasi : (a) RD, (b) PD+ME, (c) URD, (d) ME yang menyatakan bahwa pengaruh independent variables secara bersama – sama tidak berbeda terhadap dependent variables yang dihasilkan dari kinerja kelima strategi investasi tersebut setelah beberapa tahun go-public. Hasil Multivariate Test ini diuji dengan menggunakan output ke dua dari canonical correlation, yaitu Univarlate F Test yang menjelaskan pengaruh satu set independent variables secara bersama – sama terhadap dependent variables secara individual dengan tujuan untuk mengetahui kepada dependent variables yang mana satu set independent variables tersebut lebih berpengaruh, hasilnya menunjukkan bahwa strategi investasi yang kinerjanya setelah beberapa tahun go-public mempunyai pengaruh yang tidak berbeda terhadap dependent variables secara individual, adalah strategi investasi : (a) PD+ME, (b) URD, dan (c) ME, selanjutnya melalui pengujian dengan Univariate T Test yang merupakan output ke tiga dari canonical correlation yang menjelaskan pengaruh independent variables secara individual terhadap dependent variables secara individual, hasilnya menunjukkan bahwa strategi investasi yang kinerjanya setelah beberapa tahun go-public tidak berpengaruh secara individual terhadap dependent variables secara individual, adalah : (a) PD+ME, dan (b)URD. Hal ini menyatakan bahwa kedua strategi investasi tersebut, merupakan strategi investasi yang seharusnya dilaksanakan bagi perusahaan yang berada dalam kuadran Star, karena dapat mengakomodasi kepentingan pemilik perusahaan (profitable) dan kepentingan manajemen perusahaan (liquid), melalui garis regresi : EPS = - 122,722 X1 – 34,574 X2 dan CR = 0,02877 X1 + 0,8905 X2 untuk strategi investasi PD+ME, dan EPS = - 71,558 Xl + 2,969 X2 dan CR = - 0,8012 X1 – 0,2184 X2 untuk strategi investasi URD, dengan demikian hipotesis 1 tidak terbukti. (2) Pengujian Hipotesis 2 Melalui prosedur pengujian yang sama terhadap 12 perusahaan yang kondisi awalnya berada dalam kuadran Cash Cows, dapat diketahui bahwa strategi investasi yang kinerjanya setelah beberapa tahun go-public tidak berpengaruh secara individual terhadap dependent variables secara individual, adalah RD. Hal ini menyatakan bahwa strategi investasi ini, merupakan strategi investasi yang seharusnya dilaksanakan oleh perusahaan yang berada dalam kuadran Cash Cows, karena dapat mengakomodasi kepentingan pemilik perusahaan (profitable) dan kepentingan manajemen perusahaan (liquid), melalui garis regresi : EPS = - 32,228 X1 + 0,007 X2 dan CR = - 0,189 XI + 0,00001 X2, dengan demikian hipotesis 2 tidak terbukti. (3) Pengujian Hipotesis 3 Melalui prosedur pengujian yang sama terhadap 35 perusahaan yang kondisi awalnya berada dalam kuadran Problem Children, dapat diketahui bahwa strategi investasi yang kinerjanya setelah beberapa tahun go-public tidak berpengaruh secara individual terhadap dependent variables secara individual, adalah : (a) Vertical Merger (ice, (b) Product Development, (c) Unrelated Diversification. Hal ini menyatakan bahwa ketiga strategi investasi ini, merupakan strategi investasi yang seharusnya dilaksanakan oleh perusahaan yang berada dalam kuadran Problem Children, karena dapat mengakomodasi kepentingan pemilik perusahaan (profitable) dan kepentingan manajemen perusahaan (liquid), melalui garis regresi : EPS = - 416,830 X1 - 60,6207 X2 dan CR = - 4,8171 Xl - 0,3140 X2 untuk strategi investasi VM, EPS = 1,813 X1 + 2,6531 X2 dan CR = 0,142 Xl + 0,02 X2 untuk strategi investasi PD, dan EPS = - 26,279 X1 – 13,413 X2 dan CR = - 4,2752 X1 – 2,738 X2 untuk strategi investasi URD, dengan demikian hipotesis 3 tidak terbukti. (4) Pengujian Hipotesis 4 Melalui prosedur pengujian yang sama terhadap 5 perusahaan yang kondisi awalnya berada dalam kuadran Dog, dapat diketahui bahwa strategi investasi yang kinerjanya setelah beberapa tahun go public tidak berpengaruh secara individual terhadap dependent variables secara individual, adalah : (a) Product Development and Market Expansion (PD+ME), (b) Related Diversification, (c) Unrelated Diversification. Hal ini menyatakan bahwa ketiga strategi investasi ini, merupakan strategi investasi yang seharusnya dilaksanakan oleh perusahaan yang berada dalam kuadran Dog, karena dapat mengakomodasi kepentingan pemilik perusahaan (profitable) dan kepentingan manajemen perusahaan (liquid), melalui garis regresi : EPS = - - 165,80 Xl + 115,8 X2 dan CR = - 0,314 Xl - 0,045 X2 untuk strategi investasi PD+ME, EPS = - 416,18 X1 – 0,75 X2 dan CR = 0,019 XI - 0,002 X2 untuk strategi investasi RD, dan EPS = 5,434 X1 + 30,466 X2 dan CR = - 0,236 X1 – 0,402 X2 untuk strategi investasi URD, dengan demikian hipotesis 4 tidak terbukti. (5) Pengujian Hipotesis 5 Pengujian hipotesis 5 dilakukan denganmenggunakan Net Present Value (NPV) yang merupakan salah satu dari analisa Time Value of Money yang menguji besaran ilai sekarang (present value) dari Capital Gain (Loss) = (Cash in Flows less by Cash out Flows). Besaran dari Offering Price, yaitu harga perlembar saham biasa di pasar sekunder pada saat perusahaan yang bersangkutan go public merupakan nilai investasi atau Cash out Flows, sedangkan besaran dari Cash in Flows diperoleh dari Total Shareholders Value = ( Stock Price-appreciation plus Dividend per Share). Besaran dari Stoc Price-appreciation = Equity per Share = (Shareholders Equity divided by Paid Up Capital) yang merupakan perkembangan harga per lembar saham biasa. Hasil pengujiannya menunjukkan bahwa NPV positip (+) atas investasi dalam saham biasa dapat diperoleh dari kelompok perusahaan yang membiayai strategi investasinya dengan melakukan emisi saham biasa dan dari kelompok perusahaan yang membiayai strategi investasinya dengan melakukan emisi saham biasa dan obligasi, hal ini menyatakan bahwa Hipotesis 5 tidak terbukti, namun demikian bila diukur dari rasio Net Present Value terhadap Offering Price menunjukkan bahwa investasi dalam saham perusahaan kelompok III yang membiayai strategi investasinya dengan emisi saham biasa, menghasilkan pendapatan atas investasi dengan rasio NPV sebesar 66,40 % dai setiap Rp. 1,-Offering Price. (6) Pengujian Hipotesis 6 Pengujian hipotesis 6 dilakukan dengan menggunakan Independent Sample T Tests yang terdiri dari dua tahap pengujian, yaitu : (a) Levene Test, dan (b) T Test. Berdasarkan Levene Test dapat diketahui bahwa tidak terjadi perbedaan dalam besaran varian Earnings per Share (EPS) antara perusahaan yang menggunakan sumber pembelanjaan melalui emisi saham biasa dan perusahaan dengan emisi saham biasa dan obligasi, kesimpulan ini didasarkan dari besaran F test = 0,021 dengan probabilitas (sig. of F) = 0,884 &gt; 0,05, demikian pula tidak terjadi perbedaan dalam besaran varian Current Ratio (CR) dengan didasarkan dari besaran F test = 2,109 dengan probabilitas (sig. of F) = 0,147 &gt; 0,05. Dui basil uji t dapat diketahui bahwa tidak terjadi perbedaan dalam besaran rata – rata EPS dengan didasarkan besaran t test = - 0,0992 dengan probabilitas (sig. of T)= 0,322 &gt; 0,05, demikian pula dengan besaran rata – rata CR menunjukkan tidak ada perbedaan dengan didasarkan besaran t test = 1,098 dengan probabilitas (sig. of T) = 0,273 &gt; 0,05, dari basil pengujian ini dapat diputuskan bahwa hipotesis 6 tidak terbukti, karena bila ditinjau dari sisi profitabilitas perusahaan yang menggunakan sumber pembelanjaan dengan emisi saham biasa dan obligasi menghasilkkan kinerja yang sama dengan perusahaan yang menggunakan sumber pembelanjaan dengan emisi saham biasa. Keadaan ini menyatakan bahwa, secara statistik terhadap pengujian data empiris menunjukkan adanya perbedaan dengan teori mengenai pengungkit keuangan (Financial Leverage) yang mengatakan bahwa penggunaan sumber pembelanjaan yang diperoleh dari penambahan modal sendiri dan penambahan modal asing (utang jangka panjang), menghasilkan besaranEarnings per Share (EPS) yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan sumber pembelanjaan yang diperoleh dari penambahan modal sendiri Arthur et al. (1996). Berdasarkan hasil pengujian – pengujian tersebut di atas, terdapat suatu keterbatasan dalam rangka pengujian hipotesis, yaitu dalam hal jumlah periode data yang menjadi independent variable Xi yang berkisar antara 5 sampai 8 tahun, jumlah periode tersebut meskipun sudah melampaui jumlah periode yang disarankan dari pengamatan laporan studi terdahulu (Lubatkin Chatterje, 1991; Lubatkin Rogers, 1989; Bergh, 1993 Bergh, 1996), yang menyatakan bahwa hubungan antara kinerja perusahaan dan strategi investasi merupakan hubungan Longitudinal, karena itu, mengukur kinerja perusahaan dari hasil pelaksanaan strategi investasi memerlukan data lebih dari 3 tahun setelah strategi investasi itu dilaksanakan namun masih memperlihatkan adanya kontradiksi dengan teori yang ada, yaitu yang berkenaan dengan adanya perusahaan yang melaksanakan strategi investasi yang tergolong Suitable mengalami skenario gagal, dan sebaliknya dengan strategi investasi yang tergolong Unsuitable justru mengalami skenario sukses, keterbatasan lainnya adalah berkenaan dengan laporan keuangan yang dilaporkan oleh semua popolasi survei bukan dari hasil penjualan produk intinya, karena di dalam laporan keuangan tersebut dicantumkan adanya Other Income (Expenses) yang besarannya secara akuntansi mempengaruhi Net Profit After Taxes (NPAT) yang pada gilirannya berpengaruh terhadap besaran Earnings per Share, sehingga ditemukan adanya perusahaan yang meraih skenario sukses namun mengalami kinerja keuangan yang improfitable, sebaliknya mengalami skenario gagal namun dengan kinerja keuangan yang profitable, oleh karena itu, agar temuan penelitian ini yang telah disusun dalam Model Lima Langkah Kebijakan Strategi Investasi Perusahaan (Five Steps of Corporate Investment Strategi Policy Model) yang diharapkan dapat memberi sumbangan yang berarti dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam rangka strategi investasi perusahaan yang akomodatif baik terhadap kepentingan pemilik perusahaan ( Shareholders), maupun terhadap kepentingan pihak manajemen perusahaan, sehingga konflik diantara keduanya dapat dihindara, maka agar dapat lebih dipertanggung jawabkan ditinjau dari persektif ilmu, temuanpenelitian ini masih memerlukanpengujian lebih lanjut dengan rancangan penelitian longitudinal dan dengan mempergunakan periode data 20 tahun karena semakin panjang periode data yang dianalisis, maka hasil penelitian dengan rancangan penelitian longitudinal semakin akurat ( Garson 2002). </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis E 05/03 Aga p
Uncontrolled Keywords: Five Steps of Corporate Investment Strategy Policy
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD2709-2930.7 Corporations
H Social Sciences > HG Finance > HG4001-4285 Finance management. Business finance.Corporation finance
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Ekonomi
Creators:
CreatorsNIM
FAUZY AGAM, 099512016DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorV. Henky Supit, Prof.,SE.,AkUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Yusuf Jailani
Date Deposited: 05 Oct 2016 04:43
Last Modified: 19 Jun 2017 17:22
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32282
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item