BAJO DAN BUKAN BAJO Studi Tentang Perubahan Makna Sama dan Bagai pada Masyarakat Bajo di Desa Sulaho Kecamatan Lasusua Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara

NASRUDDIN (2004) BAJO DAN BUKAN BAJO Studi Tentang Perubahan Makna Sama dan Bagai pada Masyarakat Bajo di Desa Sulaho Kecamatan Lasusua Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (285kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-nasruddin-3564-diss08-%29.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pada masyarakat Bajo dikenal dua konsep yang berbeda yakni sama dan bagai. Mereka menyebut dirinya sama (orang Bajo) yang membedakannya dengan orang “bukan Bajo yakni bagai. Konsep sama dan bagai bukan hanya merupakan simbol Bajo dan “bukan Bajo , tetapi juga merupakan simbol antara kehidupan di “laut dan kehidupan di “darat . Dalam perkembangannya, orang Bajo selalu berada dalam sikap yang mendua, khususnya dalam interaksinya dengan orang bagai. Pada satu pihak mereka tetap ingin mempertahankan ke Bajo annya yang identik dengan kehidupan di laut, namun di pihak lain ketergantungannya dengan orang bagai, mengharuskan mereka berinteraksi dengan kehidupan di darat. Sehubungan dengan penomena tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan memahami perubahan makna sama dan bagai pada masyarakat Bajo di Desa Sulaho. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah Bagaimana proses perubahan identitas budaya Masyarakat Bajo dan implikasinya terhadap kehidupan masyarakat tersebut? Mengapa terjadi perubahan dan bagaimana adaptasi masyarakat Bajo terhadap lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya, dalam menghadapi perubahan tersebut? Penelitian ini menggunakan metoda etnografi, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori interaksionisme simbolik, teori adaptasi, dan teori perubahan social budaya (akulturasi), untuk menjelaskan masyarakat penomena social yang terjadi dalam masyarakat. Teori interaksionisme simbolik digunakan untuk mengkaji makna hubungan antar individu dalam masyarakat, sedangkan teori adaptasi dimaksudkan untuk memahami berbagai bentuk penyesuaian dan upaya memecahkan masalah yang dihadapi oleh individu maupun kelompok. Teori perubahan sosial budaya(akulturasi) digunakan untuk memahami dan menjelaskan berbagai bentuk perubahan yang dialami oleh masyarakat Bajo sebagai implikasi perubahan makna sama dan bagai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan makna sama dan bagai pada masyarakat Bajo telah melalui proses yang panjang, berdasarkan priodisasi kehidupan yang pernah dilaluinya. Proses tersebut dimulai dengan periode awal kehidupan masyarakat Bajo, yang berasal dari Kampung Ussu, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan berdasarkan mitos Sawerigading. Banjir yang menghanyutkannya ke laut, sehingga mereka memulai kehidupannya sebagai orang laut, dengan cara hidup mengembara (nomaden). Untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, mereka tetap berinteraksi dengan orang bagai khususnya orang Bugis. Interaksi yang semakin intensif, menyebabkan pola Budaya orang Bugis mulai diadaptasi oleh orang Bajo, termasuk pola pemukiman menetap di pinggir pantai hingga bermukim di darat. Faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahan makna sama dan bagai pada masyarakat Bajo adalah (1) karena adanya ikatan geneologis yaitu asal usul yang sama dengan orang Bugis berdasarkan mitos Sawerigading, (2) orientasi ekonomi yaitu ketergantungan orang Bajo terhadap orang Bugis dalam memenuhi berbagai kebutuhannya, (3) keunggulan komparatif yaitu keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh orang Bugis terhadap orang Bajo, dalam berbagai aspek kehidupan social ekonomi, (4) upaya meningkatkan status sosialnya, sebagai masyarakat terasing yang melekat pada diri orang Bajo selama ini , menyebabkan mereka ingin tampil seperti orang Bugis. Proses perubahan makna sama dan bagai menunjukkan perubahan kehidupan masyarakat Bajo dari laut ke darat yang tidak lagi membedakan dirinya (sama) dengan orang Bugis (bagai). Perubahan makna sama dan bagai berimplikasi pada perubahan berbagai aspek kehidupan masyarakat Bajo, yang berorientasi pada budaya orang Bugis (akulturasi). Perubahan tersebut disebabkan karena adanya pelaku perubahan (pendukung kebudayaan) melakukan adaptasi, yang secara kasuistik dengan berbagai kebutuhan telah membawa kolektivitas masyarakatnya berubah. Berdasarkan temuan penelitian tersebut di atas, maka dapat dirumuskan beberapa proposisi sebagai berikut: Proposisi 1 Perubahan makna simbol identitas budaya dalam masyarakat, dapat berimplikasi pada perubahan perilaku. Proposisi 2 Perubahan kebudayaan dapat terjadi apabila para pendukung kebudayaan dengan berbagai kebutuhan, mampu beradaptasi terhadap perkembangan obyektif dalam kehidupan sosialnya.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis S 08/04 Nas b (FILE FULL TEXT TIDAK LENGKAP)
Uncontrolled Keywords: sama, bagai, socio-cultural change, social interaction, and adaptation.
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM831-901 Social change
H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV3176-3199 Special classes. By race or ethnic group
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsNIM
NASRUDDINUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorKodiranUNSPECIFIED
Thesis advisorJ GlinkaUNSPECIFIED
Thesis advisorL DysonUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 21 Oct 2016 01:07
Last Modified: 09 Jul 2017 19:20
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32583
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item