Suwarno, Prof. Dr., M.Si., drh.
(2014)
PENGGUNAAN MIKROBA ISOLAT LOKAL SEBAGAI SEED VAKSIN DAN KIT DIAGNOSTIK DALAM UPAYA PENINGKATAN KEWASPADAAN PENANGGULANGAN PENYAKIT HEWAN DI INDONESIA.
[Pidato Guru Besar]
(Unpublished)
Abstract
Munculnya emerging disease, seperti Bovine Spongioform Encephalopathy (BSE), virus Ebola, virus Nipah, Rift Valley Fever (RVF), alveolar echinococcus, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Monkeypox, dapat dipicu oleh pertambahan jumlah populasi manusia, globalisasi perdagangan, intensif ikasi pemeliharaan satwa liar, mikroba yang berkaitan dengan satwa liar, lalu lintas hewan, gangguan ekologi, mikroorganisme yang tidak dapat ditumbuhkan, penyakit kronis, peningkatan surveilans dan terorisme. Sementara itu kemuculan re-emerging disease, seperti rabies, virus Marburg, Tuberculosis, Brucellosis pada satwa liar, Tularemia, Plaque dan Leptospirosis, dipicu oleh perubahan iklim, habitat, faktor kepadatan populsi host, pathogen atau vektor. Indonesia, seperti juga negara berkembang lainnya, saat ini dihadapkan pada tiga ancaman besar dengan munculnya penyakit menular. Pertama, penyebaran geografis penyakit endemik yang sebelumnya terbatas pada dunia ketiga, telah diprediksi menyebar ke daerah tropis lainnya, sebagai akibat global warming. Ini terbukti dengan masuknya virus West Nile dan Japanese Encephalitis ke Indonesia (sebelumnya telah ada virus Dengue Haemorrhagic Fever dan Chikungunya), yang bersumber pada vektor nyamuk. Kedua, kita dihadapkan pada kebangkitan penyakit lama yang muncul kembali, seperti Tuberculosis yang resisten terhadap antibiotik dan telah banyak mengalami perubahan genetik. Ketiga, munculnya HIV/AIDS, SARS atau Avian Influenza (AI), yang secara tidak terduga dan kurang bisa dipahami merupakan bagian dari "mata gergaji yang menakutkan" yang timbul karena beban penyakit global. Pendeknya, dunia di awal abad ke-21 telah terancam oleh sejumlah besar penyakit yang sangat beragam dan mematikan.
Actions (login required)
 |
View Item |