Perilaku sosial Remaja Pengguna Minuman Beralkohol (Studi Deskriptif Tentang Perilaku Remaja Pengguna Minuman Beralkohol dalam Tinjauan Teori Dramaturgi di Kota Surabaya)

Derri Huby Prasetya, 071211433051 (2017) Perilaku sosial Remaja Pengguna Minuman Beralkohol (Studi Deskriptif Tentang Perilaku Remaja Pengguna Minuman Beralkohol dalam Tinjauan Teori Dramaturgi di Kota Surabaya). Komunitas, 6 (1). pp. 143-163. ISSN 2303-1166

[img]
Preview
Text (FULL ARTICLE)
Fis.S.08.17 . Pra.p - JURNAL.pdf

Download (135kB) | Preview
Official URL: http://journal.unair.ac.id/Kmnts@perilaku-sosial-r...

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku sosial remaja pengguna minuman beralkohol dalam tinjauan teori dramaturgi di Surabaya. Awal mula keterkaitan peneliti mengkaji dramaturgi perilaku sosial remaja pengguna minuman beralkohol berawal dari semakin banyak remaja-remaja yang menyalahgunakan minuman beralkohol. Perkembangan yang dilalui remaja mencakup hal kognitif maupun psikososial yang dapat mempengaruhi kehidupan remaja dalam bertindak dan berperilaku. Dinamika psikososial pada kehidupan remaja dapat mempengaruhi perilaku dan pergaulannya. Pergaulan dikalangan remaja pada umumnya mempunyai dampak yang positif ataupun negatif bagi remaja tersebut. Bila remaja dapat memilih teman yang memberikan dampak positif dalam berperilaku maka remaja akan berperilaku sesuai dengan norma sosial yang ada, namun sebaliknya pergaulan yang dipilih oleh remaja tersebut memiliki dampak negatif maka akan memberikan dampak yang buruk pula dalam kehidupan sosial remaja tersebut. Dramaturgis perilaku penggunan minuman beralkohol berawal dari semakin banyak orang-orang yang menyalahgunakan minuman beralkohol dan menyimpang dari lingkungan sosialnya serta melakukan sebuah proses kehidupan dramaturgis untuk berkamuflase dari dua sisi kehidupan yang berbeda, dari sisi panggung depan (front stage) yaitu tentang bagaimana perilaku remaja ketika berhadapan dengan lingkungan sosial. Dimana ketika remaja tersebut berada di lingkungan sosial maka sikap terhadap lingkunganya akan berubah yang dimana perilaku minum minuman beralkohol akan di sembunyikan sehingga lingkungan sosial yang memandang remaja tersebut akan berubah pikiran yang dimana mereka akan bersikap selayaknya orang normal dan tidak menunjukan jati dirinya sebagai orang yang suka minum minuman beralkohol tersebut. Sedangkan dari panggung belakang (back stage) yang dimana remaja tersebut berada dilingkungan pribadi sehingga remaja tersebut merasa bebas karena dia merasa nyaman ketika berada di lingkungan pribadinya dan ia tidak malu untuk mununjukan jati diri sebagai orang yang suka minum minuman beralkohol tersebut dan ia akan mengajak teman-temannya untuk mengkonsumsi minuman beralkohol secara bersamaan. Maka dari itu peniliti tertarik untuk lebih meneliti, dan mengkajinya. Terkait dengan tujuan tersebut penelitian ini membutuhkan subyek yang sesuai, subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah para remaja yang berusia 15 tahun hingga 21 tahun yang mengkonsumsi minuman beralkohol secara bersama-sama dengan teman. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu pendekatan kualitatif, Tipe deskriptif dapat menggambarkan situasi, keadaan sosial, atau hubungan tertentu secara tertentu (Neuman,2000:20). Jadi dalam penelitian ini menyajikan gambaran secara lengkap mengenai bagaimana perilaku remaja pengguna minuman beralkohol. Metode kualitatif adalah metode yang mengutamakan bahan-bahan yang sukar diukur dengan angka-angka atau dengan ukuran-ukuran lain yang (matematis), meskipun bahan-bahan nyata terdapat dalam masyarakat. Peneliti menggunakan teknik penentuan subyek pada subjek penelitian Perilaku Remaja Pengguna Minuman Beralkohol Di Surabaya, secara purposive yakni peneliti langsung memilih subjek penelitian yang sebelumnya telah ditentukan oleh peneliti dengan mempertimbangkan kesesuaian dengan beberapa kriteria. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dramaturgi dari Erving Goffman (1959). Goffman mengistilahkan tindakan di atas dalam istilah “Impression Management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan acting yang besar saat aktor berada diatas panggung (front stage) dan dibelakang panggung (back stage) drama kehidupan. Kondis akting di front stage adalah adanya penonton yang melihat kita dan kita sedang berada dalam kegiatan pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh konsep-konsep drama bertujuan untuk membuat drama yang berhasil. Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa memperdulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan. Beliau menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari diri, Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (front stage) dan di belakang panggung (back stage) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan. Peneliti memilih lokasi di Surabaya, karena kota Surabaya juga merupakan kota yang terbuka, dimana masyarakat sudah berani melakukan hal-hal yang seharusnya disembunyikan. Begitu juga yang terjadi pada para remaja pengguna minuman beralkohol, dimana mereka sekarang sudah berani melakukan di tempat umum, contohnya banyak terjadi di café dan mall-mall yang menyediakan minuman beralkohol. Lokasi penelitian ini dilakukan dimana tempat remaja melakukan kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol. Ada beberapa tempat yang digunakan kelompok subyek untuk melakukan kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol yaitu Sutos. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang sudah biasa sebagai tempat berkumpul dan melakukan kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol. Dimana peneliti melakukan wanawancara ketika berada di sutos ketikan para subyek sedang mengkonsumsi minuman beralkahol tersebut. Dalam Penelitian ini dihasilkan beberapa kesimpulan antara lain : Dalam proses berperilaku sosial biasanya seseorang bisa memiliki dua kepribadian di dua lingkungan yang berbeda. Dua lingkungan tersebut yaitu lingkungan sosial dan lingkungan pribadi. Lingkungan sosial disini yaitu bagaimana seseorang di lingkungan ini mampu lebih terbuka terhadap perilaku yang diinginkan, berbanding terbalik dengan lingkungan pribadi dimana mereka lebih bisa tertutup akan perilaku sosial yang biasa dijalani. Lingkungan sosial adalah seperti lingkungan pertemanan di sekolah dan di kampus yang menjadi lingkungan keseharian mereka. Lingkungan pribadi yaitu seperti lingkungan keluarga yang lebih memiliki norma dan aturan didalamnya, itu mengapa para pengguna jauh lebih tertutup di dalam lingkungan pribadi. Faktor usia juga mempengaruhi perilaku sosial remaja pengguna minuman beralkohol karena pada dasarnya remaja adalah tindakan individu yang sedang mengalami masa perahlian dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, dalam masa perahlian itu para remaja biasanya mempunyai rasa ingin coba-coba untuk mengkonsumsi minuman beralkohol dan mudahnya terpengaruh terhadap lingkungan yang di sekitarnya.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Perilaku, Minuman Keras, Panggung Depan dan Panggung Belakang
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
Creators:
CreatorsNIM
Derri Huby Prasetya, 071211433051UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorSepti Ariadi, Drs., MA.UNSPECIFIED
Depositing User: Mr Binkol1 1
Date Deposited: 14 Jan 2018 19:18
Last Modified: 14 Jan 2018 19:18
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/68116
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item