Patricia Marchelina Hamel (2021) Penolakan Kiribati Terhadap Pemberian Program Climate Refugee Visa Oleh Selandia Baru. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (HALAMAN JUDUL)
1. HALAMAN JUDUL.pdf Download (720kB) |
|
|
Text (ABSTRAK)
2. ABSTRAK.pdf Download (99kB) |
|
|
Text (BAB 1)
3. BAB I.pdf Download (198kB) |
|
|
Text (BAB 2)
4. BAB II.pdf Restricted to Registered users only until 8 August 2024. Download (332kB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 3)
5. BAB III.pdf Restricted to Registered users only until 8 August 2024. Download (382kB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 4)
6. BAB IV.pdf Restricted to Registered users only until 8 August 2024. Download (180kB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 5)
7. BAB V.pdf Restricted to Registered users only until 8 August 2024. Download (146kB) | Request a copy |
|
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
8. DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (167kB) |
|
|
Text (PERMOHONAN EMBARGO)
Permohonan Embargo.pdf Restricted to Registered users only Download (299kB) | Request a copy |
Abstract
Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis alasan dibalik penolakan Kiribati terhadap pemberian program climate refugee visa oleh Selandia Baru, meskipun mereka mengalami dampak terparah dari perubahan iklim. Skripsi ini dilatarbelakangi oleh keberadaan Kiribati sebagai atolls nations yang telah mengalami serangkain dampak perubahan iklim berskala besar, seperti kenaikan permukaan air laut dan terganggunya ketersediaan air bersih. Ditengah situasi yang demikian, masyarakat Kiribati menyatakan bahwa ingin tetap berada di tanah airnya dan enggan bermigrasi dalam kerangka program climate refugee visa. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa masyarakat Kiribati (I-Kiribati) menolak program tersebut karena memandang migrasi sebagai langkah terakhir dalam menghadapi perubahan iklim. I-Kiribati lebih memilih untuk bertahan di tempat tinggalnya serta meningkatkan ketahanan sosialnya (social resilience) terhadap perubahan iklim, karena mereka memiliki keterikatan yang kuat dengan tanah dan tempat tinggal mereka (attachment to homeland). Tanah air atau tempat tinggal memuat identitas, budaya, serta tradisi leluhur yang sangat krusial dalam kehidupan sehari-hari I-Kiribati. Sehingga opsi bermigrasi ke negara lain cenderung dipandang sebagai bentuk cultural loss karena I-Kiribati harus meninggalkan tanah air mereka. Skripsi ini juga bertujuan untuk memandang diskursus migrasi akibat perubahan iklim dari sudut pandang yang berbeda, yaitu perspektif masyarakat lokal.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKB KK-2 Fis HI 57/21 Ham p | ||||||
| Uncontrolled Keywords: | Kiribati, climate refugee visa, attachment to homeland, cultural loss, Selandia Baru, ketahanan sosial, climate change | ||||||
| Subjects: | J Political Science > JZ International relations | ||||||
| Divisions: | 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional | ||||||
| Creators: |
|
||||||
| Contributors: |
|
||||||
| Depositing User: | sugiati | ||||||
| Date Deposited: | 08 Aug 2021 04:10 | ||||||
| Last Modified: | 08 Aug 2021 04:10 | ||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/109166 | ||||||
| Sosial Share: | |||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


