Pharmasinta Putri Hapsari, - (2004) Uji Aktivitas Antikanker Fraksi Kloroform Daun Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Kultur Sel Mieloma Mencit. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (Fulltext)
050012298.pdf Download (1MB) |
Abstract
Kanker merupakan penyakit urutan kedua di dunia yang menyebabkan lebih dari 500.000 kematian di Amerika Serikat per tahun dan di Indonesia diperkirakan setiap tahun terdapat 100 penderita kanker baru dari 100.000 penduduk. Manajemen kanker umumnya menggabungkan pembedahan dan radiasi dengan pengobatan kemoterapi. Namun, belum ada obat kemoterapi yang memenuhi kriteria ideal, yang hanya dapat membunuh sel kanker saja tanpa membahayakan sel normal. Maka dari itu, pencarian obat-obatan kemoterapi yang selektif masih terus dikembangkan. Salah satu sumber obat-obatan kemoterapi berasal dari tumbuh-tumbuhan. Secara tradisional, daun pepaya ternyata telah digunakan untuk mengobati kanker oleh masyarakat Australia dan Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian Sukardiman, 2000, ekstrak metanol daun pepaya memiliki aktivitas inhibisi terhadap enzim DNA Topoisomerase II. Pada tahun 2001, ekstrak metanol daun pepaya juga terbukti memiliki aktivitas antikanker terhadap kultur sel mieloma mencit. Atas dasar penggunaan daun pepaya secara etnomedisin dan hasil penelitian ilmiah, diduga ada kandungan dalam daun pepaya yang memiliki aktivitas antikanker. Alkaloid sebagai kandungan mayoritas dalam daun pepaya diduga sebagai senyawa yang memiliki aktivitas antikanker. Beberapa senyawa antikanker telah berhasil diisolasi dari tumbuhan asalnya dan beberapa di antaranya termasuk ke dalam golongan senyawa alkaloid. Beberapa senyawa tersebut antara lain campothecin, ellipticine, harringtonine, serta vinkristin dan vinblastin. Maka dari itu, dilakukan penelitian terhadap fraksi kloroform daun pepaya karena diharapkan di dalam fraksi tersebut terkandung alkaloid yang diduga memiliki aktivitas antikanker. Penelitian ini dilakukan terhadap kultur sel mieloma mencit dengan metode viabilitas sel. Metode ini didasarkan pada kemampuan sel bertahan hidup terhadap bahan-bahan toksik. Serbuk daun pepaya diekstraksi dengan pelarut heksan untuk menghilangkan kandungan lemaknya. Setelah itu ampas diekstraksi dengan pelarut metanol-asam tartrat 1% yang dilanjutkan dengan pembasaan dengan NH4OH ad pH 9 dan diekstraksi dengan pelarut kloroform. Fraksi kloroform yang dihasilkan diuapkan di lemari asam dan didapat ekstrak kental kehitaman. Berdasarkan hasil analisis KLT, fraksi kloroform mengandung alkaloid. Fraksi yang diperoleh dibuat larutan uji dengan konsentrasi 25,1 ppm; 50,2 ppm; 75,3 ppm; 100,4 ppm; 150,6 ppm dan 200,8 ppm. Sebagai kontrol positif digunakan larutan Etoposida dengan konsentrasi 1 ppm; 10 ppm dan 20 ppm. Larutan uji dan kontrol positif ditambahkan ke dalam sumuran microwell plate yang nantinya akan diisi suspensi sel mieloma mencit dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C, pH 7,4-7,7 dengan komposisi udara 95% O2 / 5% O2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi larutan uji, persen viabilitas sel mieloma semakin menurun. Potensi aktivitas antikanker larutan uji ditentukan dengan harga LC50 dengan uji analisis probit dan didapat harga LC50 sebesar 104, 4053 ppm dimana ketetapan National Cancer Institute (NCI) menyatakan bahwa suatu ekstrak tanaman dianggap berpotensi memiliki aktivitas antikanker bila LC50 < 20 ppm. Dari analisis data dengan Anava satu arah, diketahui bahwa ada perbedaan hambatan pertumbuhan terhadap kultur sel mieloma mencit secara bermakna antar minimal 1 pasang kelompok perlakuan. Setelah dianalisis dengan HSD, diketahui bahwa kelompok uji dengan konsentrasi 50,2 ppm; 75,3 ppm; 100,4 ppm; 150,6 ppm dan 200,8 ppm memiliki perbedaan hambatan pertumbuhan terhadap kultur sel mieloma mencit secara bermakna dibandingkan dengan kontrol negatif sedangkan kelompok uji dengan konsentrasi 25,1 ppm tidak berbeda bermakna dengan kontrol negatif. Jadi berdasarkan harga LC50-nya fraksi kloroform kurang berpotensi sebagai antikanker tetapi masih memiliki aktivitas dilihat dari adanya perbedaan hambatan pertumbuhan yang bermakna dari kelompok uji dengan konsentrasi 50,2 ppm; 75,3 ppm; 100,4 ppm; 150,6 ppm dan 200,8 ppm dibandingkan dengan kontrol negatif. Atas dasar tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fraksi kloroform daun pepaya (Carica papaya L.) terbukti memiliki aktivitas antikanker, namun tergolong rendah. Dari hasil penelitian ini disarankan agar penelitian dilanjutkan dengan mengisolasi kandungan fraksi kloroform daun pepaya (Carica papaya L.) yang memiliki aktivitas antikanker. Selain itu, dapat pula dilakukan penelitian atau uji aktivitas antikanker dengan jenis sel kanker yang lain, dengan metode yang lain, atau secara in vivo.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Carica papaya L., cell viability method, culture of mieloma cell of mice | ||||
| Subjects: | R Medicine > RS Pharmacy and materia medica | ||||
| Divisions: | 05. Fakultas Farmasi > S1 Farmasi | ||||
| Creators: |
|
||||
| Depositing User: | Nurma Harumiaty | ||||
| Date Deposited: | 12 Mar 2025 05:01 | ||||
| Last Modified: | 12 Mar 2025 05:01 | ||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/136803 | ||||
| Sosial Share: | |||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


