STUDI IN SILICO SENYAWA-SENYAWA ANTIBAKTERI DALAM EKSTRAK AIR KUNTUM BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP PBP2a DAN ESBL CTX-M-15

Marsha Fendria Prastika (2022) STUDI IN SILICO SENYAWA-SENYAWA ANTIBAKTERI DALAM EKSTRAK AIR KUNTUM BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP PBP2a DAN ESBL CTX-M-15. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
051811133068_HALAMAN JUDUL.pdf

Download (906kB)
[img] Text (BAB 1)
051811133068_BAB 1.pdf

Download (67kB)
[img] Text (FULLTEXT)
051811133068_FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (3MB) | Request a copy
Official URL: http://www.lib.unair.ac.id

Abstract

Meningkatnya jumlah resistensi terhadap antibiotik merupakan ancaman serius bagi kesehatan dunia. Di Indonesia terdapat bakteri resisten seperti Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan bakteri penghasil Extended-Spectrum Beta-Lactamases (ESBL). Untuk mengatasi resistensi terhadap antibiotik, pencarian senyawa dari Hibiscus sabdariffa L. atau dikenal dengan rosella sebagai aktivitas antibakteri terhadap MRSA dan bakteri penghasil ESBL dilakukan melalui uji in silico. Senyawa diuji dengan molekuler docking pada PBP2a (kode PDB: 1MWT) dan beta-laktamase CTX-M-15 (kode PDB: 4S2I) menggunakan Autodock dan afinitas reseptor ligan dinyatakan dalam energi ikat bebas (delta G0). Sebagai perbandingan, seftobiprol untuk docking pada PBP2a dan meropenem untuk docking pada beta-laktamase CTX-M-15. Hasil sifat fisikokimia menunjukkan bahwa dua senyawa flavonoid dan dua senyawa asam fenolik memenuhi persyaratan berdasarkan lima aturan Lipinski. Hasil docking menunjukkan bahwa semua senyawa memiliki delta G0 pada PBP2a yang lebih tinggi dibandingkan seftobiprol. 11 senyawa memiliki delta G0 dalam CTX-M-15 beta-laktamase, yang lebih rendah dari meropenem. Jumlah hidrogen dalam interaksi turunan flavonoid dan asam fenolik dengan ESBL lebih tinggi dibandingkan meropenem. Dari hasil Quantitative Structure Properties Relationship (QSPR) dengan melakukan analisis regresi linier, diperoleh 3 persamaan terbaik pada PBP2a dan 2 persamaan terbaik pada ?-laktamase CTX-M-15. Dari persamaan tersebut terlihat bahwa sifat fisikokimia yang paling berperan dalam menentukan afinitas delta G0 adalah CMR pada kedua reseptor. Namun karena variabel terikatnya adalah delta G0 yang bernilai negatif, maka nilai CMR negatif dapat meningkatkan nilai negatif delta G0 sehingga nilai delta G0 menjadi lebih rendah yang menunjukkan afinitas yang lebih tinggi. Sebelas senyawa berpotensi sebagai inhibitor ESBL berdasarkan afinitasnya yang lebih tinggi dibandingkan meropenem. Semua senyawa memiliki afinitas yang lebih rendah dari seftobiprol pada interaksi dengan PBP2a.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK S.FF 177 - 23 Mar s
Uncontrolled Keywords: flavonoid, roselle, PBP2a, ESBL, in silico
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS1-441 Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Ilmu Kefarmasian
Creators:
CreatorsNIM
Marsha Fendria PrastikaNIM051811133068
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorNUZUL WAHYUNING DIYAHNIDN196612281992032002
Thesis advisorBAMBANG TRI PURWANTONIDN195710061985031003
Depositing User: Sulistiorini
Date Deposited: 06 May 2026 04:00
Last Modified: 06 May 2026 04:00
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/140613
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item