Naina Haniyyah Rezza, -
(2026)
Peran Regulasi Emosi terhadap Psychological Well-Being pada Orang Tua dengan Anak Down Syndrome.
Repository Universitas Airlangga.
(Unpublished)
![[img]](https://repository.unair.ac.id/style/images/fileicons/text.png) |
Text (Artikel Ilmiah)
Artikel Ilmiah_Naina Haniyyah Rezza.docx.pdf
Download (189kB)
|
Abstract
Orang tua yang memiliki anak dengan Down Syndrome menghadapi tekanan pengasuhan yang bersifat kronis dan berlapis, mulai dari tuntutan perawatan sehari-hari, kebutuhan terapi dan pendidikan khusus, hingga kekhawatiran terhadap masa depan anak. Kondisi tersebut berkaitan dengan tingginya stres pengasuhan yang dapat memengaruhi psychological well-being orang tua, terutama ketika tidak diimbangi dengan kemampuan meregulasi emosi yang adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran regulasi emosi terhadap psychological well-being pada orang tua yang memiliki anak dengan Down Syndrome. Partisipan penelitian berjumlah 101 orang tua yang memiliki anak dengan diagnosis Down Syndrome berusia 0–5 tahun. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) adaptasi Bahasa Indonesia (Radde dkk., 2021) dan Short-form Ryff's Psychological Well-Being Scale adaptasi Bahasa Indonesia (Humaidah & Mulyono, 2025). Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi secara simultan berperan signifikan terhadap psychological well-being (F = 6,722; p = 0,002; Adjusted R² = 0,103). Secara parsial, expressive suppression berpengaruh signifikan dengan arah negatif (β = -0,358; p < 0,001), sedangkan cognitive reappraisal tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (β = 0,122; p = 0,215). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecenderungan orang tua untuk menahan ekspresi emosi, semakin rendah psychological well-being yang mereka miliki.
Actions (login required)
 |
View Item |