Dentogingival junction sebagai alternatif pertahanan tubuh terhadap penyakit sistemik: Disampaikan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Periodonsia pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga di Surabaya pada Hari Rabu, Tanggal 24 Agustus 2022

Agung Krismariono, - (2022) Dentogingival junction sebagai alternatif pertahanan tubuh terhadap penyakit sistemik: Disampaikan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Periodonsia pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga di Surabaya pada Hari Rabu, Tanggal 24 Agustus 2022. [Pidato Guru Besar] (Unpublished)

[img] Text (PIDATO GURU BESAR)
65. 02.43.PGB.FKG Gubes Agung Kris_arsip.pdf

Download (2MB)
Official URL: http://library@lib.unair.ac.id

Abstract

Saat ini layanan kesehatan semakin meningkat, akses kesehatan untuk masyarakat juga semakin mudah. Data WHO tahun 2000-2019 menunjukkan bahwa seiring dengan peningkatan SDI (socio-demographic index), secara global terjadi peningkatan angka harapan hidup (life expectancy), dan healthy life expectancy (HALE). Di Indonesia, HALE saat lahir meningkat, dari 59 pada tahun 2000 menjadi 62,8 pada tahun 2019. Seiring dengan peningkatan tersebut, terjadi pula pergeseran dari communicable diasease (penyakit menular) ke non-communicable disease (penyakit tidak menular). Pada tahun 1990 penyakit yang banyak dijumpai adalah penyakit menular (51,30%), sedangkan pada tahun 2017 penyakit terbanyak adalah penyakit tidak menular (69,9%). Selain itu, peningkatan usia juga mempengaruhi pergesaran. Seiring dengan bertambahnya usia, prevalensi penyakit tidak menular makin meningkat. Penyakit jantung iskemik, stroke, diabetes, penyakit paru obstruktif khronis (PPOK) merupakan penyakit tidak menular terbanyak pada rentang usia 50-74 tahun. WHO menyatakan bahwa ada keterkaitan antara non-communicable disease dengan penyakit periodontal, khususnya periodontitis. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 oleh Badan Litbangkes Kemenkes RI, prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai angka 74,1%. Prevalensi tertinggi ditemukan pada rentang usia 45-54 tahun. Awal serangan penyakit periodontal tidak menimbulkan rasa sakit sehingga individu yang terkena tidak menyadari bahwa dirinya sudah terkena penyakit periodontal. Penyakit periodontal yang paling ringan ditandai dengan perubahan warna kemerahan pada margin gingiva, kondisi ini bisa ditemukan pada sebagian besar populasi tanpa disadari. Oleh karenanya penyakit periodontal telah dianggap sebagai silent pandemic. Periodontitis cenderung menjadi silent disease karena penyakit ini timbul hampir tanpa disertai keluhan hingga terjadi kerusakan jaringan periodontal yang menghasilkan gejala pada rongga mulut. Sebagian besar pasien, tidak mengenali potensi infeksi yang telah berkembang. Periodontitis cenderung bersifat irreversible. Hal inilah yang menyebabkan pasien dengan penyakit periodontitis yang telah berlangsung lama, berpotensi terjadi gangguan sistemik karena terjadi penyebaran infeksi terus menerus ke seluruh tubuh.

Item Type: Pidato Guru Besar
Uncontrolled Keywords: Dentogingival junction
Subjects: R Medicine > RK Dentistry > RK1-715 Dentistry
Divisions: 02. Fakultas Kedokteran Gigi > Periodontics
Creators:
CreatorsNIM
Agung Krismariono, --
Depositing User: Tatik Poedjijarti
Date Deposited: 12 May 2026 07:42
Last Modified: 01 Jul 2026 01:49
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/140897
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item