Nanizar Zaman-Joenoes (1973) Obat dan Kecelakaan Lalu Lintas. [Pidato Guru Besar] (Unpublished)
|
Text
145. 09.4.PGB.FK 4 26 SEP 1973.pdf Download (22MB) |
Abstract
Obat dan kesehatan adalah dua pengertian yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Bahasa Yunani untuk obat ialah “pharmacon”; awalan pharmaco dari cabang-cabang ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tersebut ada sangkut pautnya dengan obat. Farmacodynamics — atau ditulis dengan ejaan bahasa Indonesia Farmakodinami — ialah ilmu mengenai cara bekerjanya obat; Farmakognosi ilmu mengenai bahan-bahan obat terutama yang berasal dari alam; Farmakologi ilmu mengenai asal, sifat dan daya kerja obat (dalam arti yang luas, Farmakologi juga mencakup kedua ilmu diatas); Farmakoterapi ialah ilmu mengenai usaha menyembuhkan penyakit dengan mempergunakan bahan-bahan obat; dan Farmasi, asalnya dari bahasa Yunani Pharmaceia berarti ilmu penggunaan obat. Farmasi juga mencakup pembuatan obat. Apabila dalam pendidikannya seorang calon dokter pertama kali diperkenalkan dengan bahan yang dinamakan “obat” ini? Sebetulnya bagian dari pendidikannya yang mengenai obat-obatan, sudah dimulai dari Tingkat Persiapan, dimana kuliah-kuliah Kimia Organik sudah dijuruskan ke arah itu. Diajarkan misalnya kimia dari benzene terus ke asam benzoat selanjutnya ke asam salilat dan ke asam asetilsalisilat; semua bahan-bahan itu dipakai di dunia pengobatan, yang akhir dikenal dengan nama Aspirin atau Asetosal. Banyak sekali contoh-contoh yang lain yang dapat diberikan, tetapi rasanya contoh yang di atas sudah memberikan gambaran. Pengetahuan daya kerja obat erat sekali hubungannya dengan pengetahuan mengenai tubuh manusia, ini diajarkan di Farmakologi dan Farmakodinami. Di tingkat klinik para calon dokter sudah menghadapi penderita, oleh sebab itu maka diperlukan pengetahuan Farmakoterapi dan Farmasi, yaitu penggunaan obat dan juga cara dan bentuk yang paling baik buat pemberian sesuatu obat yang harus disesuaikan pula dengan sifat-sifat fisiko-kimia serta bioavailability dari bahan obat yang dipergunakan. Demikian pengetahuan mengenai bahan obat merupakan pengetahuan yang integral dengan pengetahuan-pengetahuan ilmu kedokteran yang lain yang nanti dapat dipakai sebagai dokter bila menghadapi penderita-penderita. Kalau “obat” dan “kesehatan” tidak dapat dipisah-pisahkan, maka “obat” dan “resep” hampir merupakan satu pengertian. Bagaimana pentingnya keahlian menuliskan resep bagi seorang dokter, yaitu memberikan bahan obat yang tepat dengan dosis yang tepat pada waktu yang tepat pula dalam pengobatan penderitanya, ditegaskan oleh Bernard Fantus seorang ahli Farmakologi, sebagai berikut: “The prescription is the keystone to the entire arch of therapeutic endeavor. It rests on the diagnosis and prognosis of the case on the one side, and the physician's knowledge of Pharmacology and Therapeutics on the other. Any weakness on either side of the arch reflects itself in the setting of the keystone”.
| Item Type: | Pidato Guru Besar | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology |
||||
| Divisions: | 01. Fakultas Kedokteran > Ilmu Farmasi | ||||
| Creators: |
|
||||
| Depositing User: | Ika Rudianto | ||||
| Date Deposited: | 21 May 2026 01:09 | ||||
| Last Modified: | 21 May 2026 01:09 | ||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/141078 | ||||
| Sosial Share: | |||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


