Kun Ismiyatin, - (2020) Prospek Epigallocatechin-Gallate dan Laser Dioda Sebagai Inovasi Perawatan di Bidang Konservasi Gigi: Disampaikan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Konservasi Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga di Surabaya pada Hari Rabu, Tanggal 21 Oktober 2020. [Pidato Guru Besar] (Unpublished)
|
Text (PIDATO GURU BESAR)
78. 02.58 Pidato Kun Ismiyatin_ebook.pdf Download (2MB) |
Abstract
Di dalam rongga mulut manusia dihuni lebih dari 600 spesies yang berbeda yang bersifat komensal dan dapat menjadi patogen, dan setetes saliva mengandung 50.000 bakteri yang berpotensi patogen. Mikrobiota komensal rongga mulut beragam dan bermanfaat bagi host, namun stabilitas dapat terganggu karena stres, diet yang buruk, malnutrisi, oral hygine yang tidak baik, konsumsi rokok, alkohol, adanya penyakit sistemik, serta konsumsi obat-obatan. Faktor tersebut dapat menyebabkan immunosupresi dan/atau gangguan kelenjar saliva. Karies gigi adalah suatu penyakit infeksi pada jaringan keras gigi yang melibatkan enamel, dentin, dan sementum yang disebabkan aktifitas bakteri flora mulut. Etiologi utama karies gigi adalah biofilm bakteri spesifik Streptococcus mutans (S. mutans), S. salivarius, S. viridians, peptostreptococcus, Lactobacillus, dan didukung faktor lain seperti host immune system, morfologi gigi, konsumsi sukrosa dan glukosa yang berlebih, kebersihan mulut yang buruk, penurunan aliran saliva, derajat keasaman (pH) saliva dibawah 5,5, defisiensi vitamin A, B, C, D, defisiensi mineral seperti fluor dan seng, serta faktor waktu. Bakteri S. mutans dapat menyebabkan fermentasi sisa makanan seperti zat gula yang terkandung di dalam karbohidrat menjadi asam laktat sehingga dapat menghancurkan mineral-mineral gigi maka terjadi karies atau gigi berlubang. Gigi berlubang tidak dapat sembuh dengan sendirinya, lubang akan semakin besar dan semakin dalam, dan merupakan jalan masuk bakteri ke-dalam pulpa gigi. Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011 menunjukkan penyakit jaringan pulpa dan periapikal termasuk sepuluh penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit umum di seluruh Indonesia, dapat menyerang seluruh lapisan masyarakat dalam semua kelompok umur, jenis kelamin dan status sosial. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, kategori prevalensi karies usia 35 -44 tahun sebesar 92,2%, usia 65 keatas sebesar 95%, sedangkan prevalensi gigi rusak, berlubang ataupun sakit usia 35-44 tahun sebesar 48,8%, usia lebih dari 65 tahun sebesar 38,6%. Sebanyak 77% penduduk Indonesia tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah dengan giginya, dan hanya 10,2% yang berobat ke dokter gigi. Data ini menunjukkan sebagian besar masyarakat masih kurang pengetahuan tentang efek yang merugikan yang berasal dari gigi berlubang, sehingga menyebabkan kurangnya perhatian dan dianggap jarang membahayakan jiwa. Gigi berlubang, peradangan pulpa gigi dan periapikal dapat menjadi fokal infeksi di rongga mulut yang dapat menyebabkan sejumlah penyakit dan kondisi sistemik, dan dapat menurunkan kekebalan tubuh. Berbagai upaya telah dilakukan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif, namun prevalensi karies gigi di Indonesia masih tetap tinggi.
| Item Type: | Pidato Guru Besar | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Epigallocatechin-Gallate, Laser Dioda, Inovasi Perawatan, Konservasi Gigi | ||||
| Subjects: | R Medicine > RK Dentistry > RK1-715 Dentistry | ||||
| Divisions: | 02. Fakultas Kedokteran Gigi > Ilmu Konservasi Gigi (Spesialis) | ||||
| Creators: |
|
||||
| Depositing User: | Tatik Poedjijarti | ||||
| Date Deposited: | 19 May 2026 07:20 | ||||
| Last Modified: | 22 Jun 2026 01:20 | ||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/141122 | ||||
| Sosial Share: | |||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


