ASADULLAH (2022) KORELASI ANTARA MORFOLOGI TULANG OCCIPITAL (KETEBALAN DAN SUDUT KEMIRINGAN) DENGAN JENIS KELAMIN DAN UMUR DI RS DR SOETOMO BERDASARKAN PENCITRAAN RADIOLOGIS. Other thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (HALAMAN JUDUL)
011628206306_HALAMAN JUDUL.pdf Download (803kB) |
|
|
Text (BAB I)
011628206306_BAB I.pdf Download (559kB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
011628206306_FULLTEXT.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Objek: Meskipun fusi oksipitoservikal merupakan tindakan yang cukup langka dan menantang, prosedur ini masih merupakan salah satu pengobatan pilihan untuk instabilitas kranioservikal yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknik lain. Untuk menghindari komplikasi dan melakukan pemasangan instrumen oksipital yang efektif, diperlukan studi morfologi tulang oksipital. Beberapa studi anatomi morfologi tulang oksipital telah dilaporkan tetapi anatomi morfologi tulang oksipital ini dapat bervariasi dalam ras yang berbeda. Sampai saat ini studi tentang tulang oksipital pada populasi Indonesia masih belum didokumentasikan dalam literatur. Penelitian ini menyajikan anatomi morfologi yang akan membantu menentukan area penempatan instrumen untuk fiksasi internal yang optimal pada populasi Indonesia. Metode: Subjek dari studi ini adalah 115 individu dengan morfologi tulang oksipital normal yang menjalani pencitraan Ct Scan di rumah sakit Dr Soetomo. Terdapat 64 laki-laki dan 51 perempuan, dengan usia rata-rata 43,8 tahun (kisaran 20-77 tahun). Pengukuran menggunakan Ct diambil menurut matriks 44 titik mengikuti pola dengan interval 1 cm yang diambil dari protuberansia oksipital eksternal (POE). Hasil: Area dengan ketebalan > 8 mm ditemukan pada level EOP dari median sampai 1 cm lateral ke segala arah, di bawah area EOP dengan ketebalan > 8 mm terdapat pada garis tengah sampai 2 cm inferior. Laki-laki memiliki area yang lebih luas dengan ketebalan tulang > 8 mm, yaitu pada tingkat EOP dari garis tengah hingga 1 cm lateral ke segala arah dan 3 cm di bawah EOP pada garis tengah. Laki-laki memiliki tulang yang lebih tebal dibandingkan perempuan pada tingkat di bawah EOP. Usia 40-60 memiliki tulang yang lebih tebal pada tingkat EOP. Kesimpulan: Instrumentasi sepanjang delapan milimeter atau lebih dapat ditempatkan pada garis tengah dan memanjang 1 cm lateral setinggi EOP dan kira-kira 2 cm lebih rendah dari EOP di garis tengah. Laki-laki memiliki area aman yang lebih luas yaitu pada tingkat EOP dari garis tengah hingga 1 cm lateral ke segala arah dan 3 cm di bawah EOP di garis tengah. Pelat oksipital garis tengah tunggal dan konfigurasi instrumentasi mungkin sesuai untuk mencapai fiksasi yang aman dan kuat.
| Item Type: | Thesis (Other) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKA KK Sp.FK.BS 04 - 23 Asa k | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | morphological analysis; occipital bone; occipitocervical fusion; occipital screw; occipital thickness | |||||||||
| Subjects: | R Medicine > RC Internal medicine > RC0321 Neuroscience. Biological psychiatry. Neuropsychiatry | |||||||||
| Divisions: | 01. Fakultas Kedokteran > Ilmu Bedah Saraf | |||||||||
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Depositing User: | Sulistiorini | |||||||||
| Date Deposited: | 20 Aug 2026 04:06 | |||||||||
| Last Modified: | 20 Aug 2026 04:06 | |||||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/144904 | |||||||||
| Sosial Share: | ||||||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


