RESI PRASTIKARUNIA, - (2022) FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIDROSEFALUS PASCAOPERASI PENUTUPAN DEFEK MENINGOMIELOKEL DI RSUD DR. SOETOMO TAHUN 2012 - 2020. Masters thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (HALAMAN I)
011628206301 HALAMAN I.pdf Download (219kB) |
|
|
Text (BAB I)
011628206301 BAB I.pdf Download (47kB) |
|
|
Text (FULL TEXT)
011628206301.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) | Request a copy |
Abstract
Pada pasien anak dengan meningomielokel (MMC), hidrosefalus merupakan suatu masalah utama pada kebanyakan kasus. Hidrosefalus dapat tidak terlihat secara klinis saat lahir dan dapat berkembang beberapa waktu kemudian setelah pasien dilakukan tindakan penutupan defek MMC. Apabila kejadian hidrosefalus dapat diprediksi, diharapkan pasien anak dapat menjalani operasi satu tahap penutupan defek MMC dengan atau tanpa shunt yang dapat mengurangi resiko, komplikasi, dan morbiditas pada pasien. Selama periode 9 tahun, kami melakukan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional retrospektif untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian hidrosefalus pascaoperasi penutupan defek MMC di RSUD Dr. Soetomo. Faktor yang kami analisis adalah usia saat operasi, karakteristik fontanella mayor, lingkar kepala, infeksi sistemik dan lokal, lokasi MMC, dan fronto-occipital horn ratio (FOHR) pada CT Scan, menggunakan analisis bivariat dan kurva ROC untuk cut-off FOHR. Terdapat 33 pasien yang menjalani operasi penutupan defek MMC, 14 pasien (42,4%) mengalami hidrosefalus pascaoperasi dan dilakukan pemasangan VP shunt. Tidak didapatkan hubungan yang signifikan pada faktor usia saat operasi, infeksi lokal, karakteristik fontanella mayor dan lingkar kepala. Didapatkan hubungan yang signifikan secara statistik pada faktor infeksi sistemik, lokasi MMC, dan FOHR. Pasien dengan cut-off FOHR di bawah 0,355 cenderung tidak mengalami hidrosefalus pascaoperasi penutupan defek MMC. Hidrosefalus dapat terjadi pascaoperasi penutupan defek MMC. Pada penelitian ini, ada tidaknya infeksi sistemik, lokasi MMC yang tinggi atau rendah, dan cut-off 0,355 pada FOHR dapat dijadikan patokan dalam menentukan apakah pasien membutuhkan pemasangan VP shunt satu tahap bersamaan dengan operasi penutupan defek MMC.
| Item Type: | Thesis (Masters) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKA KK Sp.FK.BS 07 - 23 Res f | ||||||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Meningomyelocele, Hydrocephalus, Defect closure | ||||||||||||
| Subjects: | R Medicine > RD Surgery R Medicine > RD Surgery > RD520-599.5 Surgery by region, system, or organ |
||||||||||||
| Divisions: | 01. Fakultas Kedokteran > Ilmu Bedah Umum | ||||||||||||
| Creators: |
|
||||||||||||
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Depositing User: | Dewi Puspita | ||||||||||||
| Date Deposited: | 04 Sep 2026 09:26 | ||||||||||||
| Last Modified: | 04 Sep 2026 09:26 | ||||||||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/145466 | ||||||||||||
| Sosial Share: | |||||||||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


