AJENG HAYU NAYASISTA (2022) EFEK LATIHAN LOKOMOTOR KOMBINASI DENGAN LATIHAN AEROBIK TERHADAP MASSA DAN KEKUATAN OTOT LANSIA PENDERITA SINDROMA LOKOMOTIF STADIUM 1 DI PANTI WREDA JAMBANGAN SURABAYA. Thesis thesis, Universitas Airlangga.
|
Text (HALAMAN JUDUL)
012115653120_HALAMAN JUDUL.pdf Download (1MB) |
|
|
Text (BAB I)
012115653120_BAB I.pdf Download (244kB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
012115653120_FULLTEXT.pdf Restricted to Registered users only Download (8MB) | Request a copy |
Abstract
Efek Latihan Lokomotor Kombinasi Dengan Latihan Aerobik Terhadap Massa Dan Kekuatan Otot Lansia Penderita Sindroma Lokomotif Stadium 1 Di Panti Wreda Jambangan Surabaya Ajeng Hayu Nayasista, Damayanti Tinduh, I Putu Alit Pawana ABSTRAK Latar Belakang: Lansia mengalami proses degeneratif yang berlangsung secara progresif di seluruh organ tubuh, salah satunya berupa penurunan massa dan kekuatan otot. Sindroma lokomotif (SL) merupakan penurunan fungsi mobilitas lansia dimana Sindroma Lokomotif stadium 1, lansia disarankan terapi latihan lokomotor (LL) dalam rangka meningkatkan fungsi mobilitas lansia. Panti Wreda umumnya memberikan latihan fisik berupa latihan aerobik (LA) untuk mempertahankan fungsi fisik lansia. Obyektif: Untuk menganalisis pengaruh kombinasi LL dan LA selama 8 minggu terhadap massa otot apendikular menggunakan BIA dan kekuatan otot lansia menggunakan handgrip dynamometer pada lansia penderita SL stadium 1 di panti wreda Jambangan. Metode: Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2020 hingga Februari 2021. Dua puluh empat orang penderita SL stadium 1, usia 60-80 tahun, yang tinggal di panti Wreda Jambangan Surabaya, direkrut dan diacak ke dalam kelompok kontrol dan perlakuan. Kedua kelompok diberikan LA 30 menit per sesi, 7 sesi per minggu. Kelompok perlakuan mendapatkan tambahan LL 3 sesi per minggu, 3 set per sesi yang ditingkatkan bertahap sampai 5 set per sesi sesuai toleransi subjek penelitian. Kedua kelompok mendapatkan intervensi selama selama 8 minggu. Hasil: Terdapat peningkatan ASMI (p 0,001) dan HGS (p 0,030) secara bermakna pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah latihan. Terdapat perbedaan bermakna pada massa otot kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol (p 0,000) begitupun dengan kekuatan otot (p 0,000) . Namun tidak terdapat hubungan antara massa otot dan kekuatan otot pada lansia. Tidak terdapat hubungan antara ASMI dan HGS (r 0,129). Kesimpulan: LL dapat dijadikan tambahan latihan fisik untuk lansia dengan SL stadium 1 di panti wreda dalam peningkatan massa dan kekuatan otot lansia penderita sindroma lokomotif stadium 1. Kata Kunci: Lansia, massa otot, kekuatan otot, sindroma lokomotif
| Item Type: | Thesis (Thesis) | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKA KK T.FK.KK 89 - 23 Aje e | ||||
| Uncontrolled Keywords: | Elderly, muscle mass, muscle strength, aerobic exercise, locomotion training, locomotive syndrome. | ||||
| Subjects: | R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology > Including massage, exercise, occupational therapy, hydrotherapy, phototherapy, radiotherapy, thermotherapy, electrotherapy | ||||
| Divisions: | 01. Fakultas Kedokteran > S2 Ilmu Kedokteran Klinik | ||||
| Creators: |
|
||||
| Depositing User: | Ika Rudianto | ||||
| Date Deposited: | 09 Sep 2026 04:20 | ||||
| Last Modified: | 09 Sep 2026 04:20 | ||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/146021 | ||||
| Sosial Share: | |||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


