PUSPITA HAPSARI SITORASMI, - (2022) PENGARUH ENZIM TRANSGLUTAMINASE SEBAGAI CORNEAL COLLAGEN CROSSLINKING TERHADAP KETEBALAN KORNEA SENTRAL DAN DENSITAS KERATOSIT KORNEA. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (HALAMAN I)
012115653093 HALAMAN I.pdf Download (6MB) |
|
|
Text (BAB I)
012115653093 BAB I.pdf Download (1MB) |
|
|
Text (FULL TEXT)
012115653093.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) | Request a copy |
Abstract
Corneal collagen crosslinking merupakan suatu prosedur untuk membuat ikatan yang menghubungkan rantai polimer satu dengan lainnya. Corneal collagen crosslinking bertujuan memperlambat atau menghentikan progresi keratokonus dengan menggunakan terapi fotooksidatif sehingga dapat meningkatkan rigiditas stroma. Corneal collagen crosslinking konvensional menggunakan riboflavin dan ultraviolet-A (UVA) akan menghasilkan ikatan silang melalui dua jaras, yatu jaras oksidatif dan glikosilasi. Enzim transglutaminase saat ini banyak digunakan pada industri makanan. Studi-studi terkini menunjukkan bahwa mRNA, fibronectin, dan transglutaminase ditemukan lebih banyak pada keratosit kornea manusia yang diterapi dengan UVA dan riboflavin. Saat ini terdapat suatu bahan enzimatik yang dapat digunakan sebagai salah satu pilihan untuk melakukan CXL, yaitu enzim transglutaminase. Produk enzimatik, berupa transglutaminase dinilai dapat mengurangi rasa tidak nyaman akibat penyinaran UVA, serta dapat menghambat kematian sel keratosit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh enzim transglutaminase sebagai corneal collagen crosslinking terhadap ketebalan kornea sentral dan densitas keratosit. Penelitian ini merupakan penelitian penelitian true experimental dengan post-testonly design pada hewan coba kelinci untuk membandingkan respon pemberian enzim transglutaminase dengan riboflavin/UVA epithelial-off dan transepithelial. Pada penelitian ini menggukan mata kelinci putih New Zealand (Oryctolagus cuniculus) dewasa, jenis kelamin jantan, usia 3-4 bulan dengan berat badan 3-4 kg. Penelitian ini memerlukan masing-masing 7 mata untuk kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif, sehingga dibutuhkan total kelinci sebanyak 28 ekor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan signifikan pada ketebalan kornea sentral antar kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p-value 0.990). Penelitian ini juga menilai densitas keratosit, dimana terdapat perbedaan bermakna antar kelompok dengan p-value 0.009. Tidak didapatkan perbedaan signifikan pada ketebalan kornea sentral antar kelompok, hal ini dapat disebabkan oleh remodeling epitel dan edema stroma terjadi beberapa hari setelah perlakuan, maka peningkatan ketebalan kornea akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Penelitian ini juga didapatkan perbedaan densitas keratosit yang signifikan pada kelompok perlakuan, hal ini dapat disebabkan oleh UVA yang merupakan salah satu prosedur dari CXL konvensional dapat menginduksi reaksi fotokimia yang dapat mengurangi densitas keratosit. UVA dapat menginduksi reaktif oxygen species (ROS) yang tidak hanya mengakibatkan terjadinya crosslinking pada kolagen, tetapi juga dapat mengakibatkan nekrosis maupun apoptosis dari sel-sel pada bola mata, salah satunya adalah keratosit pada stroma kornea.
| Item Type: | Thesis (Thesis) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKA KK T.FK.KK 48 - 23 Pus p | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Transglutaminase, Corneal Collagen Crosslinking, Central Corneal Thickness, Keratocyte Density | |||||||||
| Subjects: | R Medicine > RE Ophthalmology | |||||||||
| Divisions: | 01. Fakultas Kedokteran > S2 Ilmu Kedokteran Klinik | |||||||||
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Depositing User: | Dewi Puspita | |||||||||
| Date Deposited: | 14 Sep 2026 07:41 | |||||||||
| Last Modified: | 14 Sep 2026 07:41 | |||||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/146402 | |||||||||
| Sosial Share: | ||||||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


