FATIMAH AZIZAH SALSABILA, - (2022) PERBANDINGAN OTOACOUSTIC EMISSION DENGAN AUTOMATED AUDITORY BRAINSTEM RESPONSE SEBAGAI ALAT DETEKSI GANGGUAN PENDENGARAN PADA BAYI. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (HALAMAN I)
011911133037 HALAMAN I.pdf Download (639kB) |
|
|
Text (BAB I)
011911133037 BAB I.pdf Download (49kB) |
|
|
Text (FULL TEXT)
011911133037.pdf Restricted to Registered users only Download (3MB) | Request a copy |
Abstract
Latar belakang: Gangguan pendengaran bawaan pada anak dapat menyebabkan gangguan dalam memahami bahasa, kemampuan berbicara, bersosialisasi, dan mengasah kemampuan kognitifnya. Upaya pencegahannya adalah dengan melakukan skrining gangguan pendengaran pada bayi yang dikenal dengan program Universal Newborn Hearing Screening (UNHS). Teknik obyektif yang sering digunakan sebagai alat disebut otoacoustic emission (OAE) dan automatic auditory brainstem response (AABR). Kedua alat ini berbeda dalam hal prinsip kerjanya dan organ target spesifik yang dinilai, sehingga disarankan untuk dilakukan skrining dengan kedua alat tersebut. Namun, beberapa negara menerapkan skrining dengan OAE saja atau AABR saja dan masih sering terjadi mangkir pada tingkat skrining tahap kedua. Metode: Jenis penelitian analitik dengan menggunakan studi retrospektif. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis bayi yang diskrining OAE dan AABR di Unit Audiologi Rawat Jalan RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2016-2020 dengan menggunakan metode total sampling. 363 pasien memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Variabel yang diteliti meliputi: data dasar pasien meliputi usia dan jenis kelamin; bayi dengan dan tanpa faktor risiko; faktor risiko pasien; serta hasil pemeriksaan OAE dan AABR. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari total 363 sampel, sebagian besar bayi yang diperiksa OAE berusia > 1-3 bulan, yaitu sebanyak 208 (57,3%) pasien dengan rata-rata usia 2,2 bulan dan yang diperiksa AABR mayoritas berusia >1-3 bulan sebanyak 191 (52,6%) pasien dengan rata-rata usia 3,3 bulan; jenis kelamin bayi yang diskrining terbanyak adalah laki-laki sebanyak 183 (50,4%) pasien dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 1,1:1; mayoritas bayi yang dilakukan skrining adalah bayi dengan faktor risiko sebanyak 322 (88,7%) pasien; faktor risiko yang sering dijumpai pada bayi adalah prematuritas pada 287 (71,9%) pasien, dan hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan hasil antara OAE dan AABR. Kesimpulan: OAE dan AABR memiliki perbedaan, sehingga perlu dipertimbangkan untuk menggunakan kombinasi kedua alat tersebut.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKA KK S.FK.D 192 - 23 Fat p | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | UNHS, OAE, AABR, hearing impairment | |||||||||
| Subjects: | R Medicine > RZ Other systems of medicine | |||||||||
| Divisions: | 01. Fakultas Kedokteran > S1 Kedokteran | |||||||||
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Depositing User: | Dewi Puspita | |||||||||
| Date Deposited: | 11 Sep 2026 09:15 | |||||||||
| Last Modified: | 11 Sep 2026 09:15 | |||||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/146422 | |||||||||
| Sosial Share: | ||||||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


