Hubungan Frekuensi Pemberian Transfusi Dengan Kejadian Alloimunisasi Pada Pasien Thalasemia Tergantung Transfusi

AIMMATUL YUMNA NIHAYATUL WAFA, - (2022) Hubungan Frekuensi Pemberian Transfusi Dengan Kejadian Alloimunisasi Pada Pasien Thalasemia Tergantung Transfusi. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN I)
011911133165 HALAMAN I.pdf

Download (794kB)
[img] Text (BAB I)
011911133165 BAB I.pdf

Download (38kB)
[img] Text (FULL TEXT)
011911133165.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/

Abstract

Pendahuluan: Thalasemia merupakan penyakit kelainan sel darah merah yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin dan diturunkan secara genetik. Berdasarkan kebutuhan transfusinya, thalasemia dibagi menjadi thalasemia tergantung transfusi dan thalasemia tidak tergantung transfusi. Pasien thalasemia tergantung transfusi membutuhkan transfusi darah seumur hidup. Transfusi yang dilakukan akan menimbulkan reaksi komplikasi terhadap tubuh seperti reaksi imun, yaitu Alloimunisasi. Alloimunisasi yang merupakan reaksi imun terhadap paparan antigen sel darah merah yang berasal dari individu lain yang dianggap asing oleh tubuh. Mengetahui hubungan antara frekuensi pemberian transfusi dengan kejadian alloimunisasi pada pasien thalasemia tergantung transfusi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder berupa rekam medis di Instalasi Rawat Jalan Hematologi Onkologi Anak, Instalasi Transfusi Darah, dan Rekam Medis Pusat RSUD Dr. Soetomo 2019–2020. Hasil: Penelitian ini menggunakan 193 sampel penelitian, sebanyak 165 pasien (85,5%) tidak mengalami alloimunisasi dan alloimunisasi ditemukan pada 28 pasien (14,5%). Pada kelompok wanita, 21 dari 99 (21,2%) pasien dan pada kelompok pria 7 dari 94 (7,4%) pasien mengalami alloimunisasi. Usia terbanyak pada transfusi darah pertama pasien dengan alloimunisasi adalah 0–5 tahun (50%). Pasien thalasemia tergantung transfusi terbanyak mendapatkan frekuensi transfusi 1–10 kali transfusi (35,7%) sebelum terjadinya alloimunisasi. Hubungan antara frekuensi pemberian transfusi dengan kejadian alloimunisasi memiliki p value = 0.65 (>0.05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara frekuensi pemberian transfusi dengan kejadian alloimunisasi pada pasien thalasemia tergantung transfusi.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKA KK S.FK.D 226 - 23 Aim h
Uncontrolled Keywords: Alloimmunization, thalasemia, transfusion, alloantibodies
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine
Divisions: 01. Fakultas Kedokteran > S1 Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM
AIMMATUL YUMNA NIHAYATUL WAFA, -NIM011911133165
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorBETTY AGUSTINA TAMBUNAN, -NIP197608222016016201
Thesis advisorMIA RATWITA ANDARSINI, -NIP197301241999032002
Thesis advisorPRADANA ZAKY ROMADHON, -NIP198405292014041001
Depositing User: Dewi Puspita
Date Deposited: 30 Sep 2026 04:29
Last Modified: 30 Sep 2026 04:29
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/148036
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item