ACHMAD RHEZA (2022) KORELASI KADAR KISSPEPTIN SERUM, EKSPRESI KISPEPTIN OVARIUM DAN EKSPRESI BMP15 OVARIUM PADA TIKUS MODEL SINDROMA OVARIUM POLIKISTIK (SOPK). Other thesis, Universitas Airlangga.
|
Text (HALAMAN JUDUL)
011829069301_HALAMAN JUDUL.pdf Download (246kB) |
|
|
Text (BAB I)
011829069301_BAB I.pdf Download (42kB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
011829069301_FULLTEXT.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Sindroma ovarium polikistik yang didefinisikan dengan didapatkannya keadaan hiperandrogen yang berhubungan dengan anovulasi kronik pada wanita tanpa adanya kelainan adrenal atau kelenjar hipofisa (Azziz et al. 2016, Speroff et al., 2020 ) hingga saat ini masih jelas penyebab utamanya. World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 116 juta wanita (3,4%) mengalami SOPK di seluruh dunia (Azzis et al., 2016). SOPK secara luas dianggap sebagai penyebab utama infertilitas pada wanita usia subur dengan kejadian sekitar 6% - 21%, dengan penyebab infertilitas antara lain faktor ovulasi (20-40%), faktor tuba dan peritoneal (30–40%), faktor pria (30–40%), dan sisanya sebagian besar tidak dapat dijelaskan (Navqi, et al., 2020, Bulsara et al., 2021). Kisspeptin merupakan suatu kelompok neuropeptida yang memegang peranan penting di fungsi aksis hipotalamus – pituitari – gonad (HPG axis), dimana ekspresi maupun reseptornya dapat ditemukan di berbagai organ tubuh, antara lain di pusat hingga jaringan perifer seperti ovarium, terutama di sel granulosa, sel teka, kompleks cumulus oosit, dan corpus luteum (Harter et al., 2018). Gangguan pada jalur umpan balik HPG yang mengakibatkan meningkatnya rasio LH/FSH, diduga berhubungan dengan timbulnya SOPK pada sekitar 35-90% penderita (Hameed et al., 2011). Bone Morphogenic Factor (BMP15) memiliki fungsi penting sebagai penanda fertilitas pada manusia dan memegang peranan penting pada sel granulosa, perkembangan folikel dan kualitas embryo sehingga terganggunya ekspresi faktor tersebut berakibat pada infertilitas (Sanfins et al., 2019). BMP15 mendorong pertumbuhan dan pematangan folikel, pengaturan sensitivitas sel granulosa folikel terhadap aksi FSH dan penentuan ovulasi, pencegahan apoptosis sel granulosa dan peningkatan kompetensi perkembangan oosit (Persani et al., 2014). Oosit yang diambil dari folikel dengan kadar BMP15 yang tinggi, memiliki tingkat pembuahan yang lebih tinggi, pembelahan yang lebih baik serta memiliki potensi perkembangan embrio yang lebih baik dan berkualitas daripada oosit dari folikel dengan kadar BMP15 yang relatif rendah, sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas oosit merupakan faktor kunci dalam menentukan perkembangan embrio (Wu et al., 2007). Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh kisspeptin terhadap kualitas oosit pada tikus model SOPK serta apakah kadar kisspeptin serum dapat mewakili kisspeptin ovarium. Sebanyak 32 ekor tikus Rattus Novergicus berumur sekitar 3 bulan dengan berat badan sekitar 160-180 gram dibagi dalam dua kelompok. Kelompok kontrol yang diberikan suntikan prophylen glycol dan kelompok perlakuan yang diberikan suntikan testosterim propionate 1mg/100g BB tikus, kedua kelompok diberikan suntikan selama 28 hari. Sebelum memulai suntikan semua tikus dipastikan siklus estrousnya yaitu fase proestrous yang dibuktikan melalui hapusan vagina dan diakhir penelitian sebelum dikorbankan tikus juga dipastikan siklus estrousnya yaitu fase anestrous / diestrous. Untuk melihat kadar kisspeptin serum diambil melalui sampel darah serum melalui intra cardial yang kemudian diperiksakan dengan metode ELISA (menggunakan Rat Kisspeptin 1 ELISA Kit (Kit Cat. No. E0905Ra, Bioassay Technology Laboratory)) dari kedua kelompok sedangkan untuk ekspresi kisspeptin ovarium dan ekspresi BMP15 ovarium diambilkan sampel ovarium dari kedua kelompok kemudian di periksakan Immunihistokimia Dari hasil analisa deskriptif, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna kadar kisspeptin serum, ekspresi kisspeptin ovarium dan ekspresi BMP15 ovarium antara kedua kelompok. Dari hasil uji korelasi tidak didapatkan korelasi yang bermakna antara kadar kisspeptin serum dengan ekspresi kisspeptin ovarium dan ekspresi BMP15 ovarium sedangkan antara ekspresi kisspeptin ovarium dengan ekspresi BMP15 ovarium didapatkan hubungan yang bermakna (p<0,021) Berbeda dengan data – data penelitian sebelumnya, pada penelitian ini kadar kisspeptin serum dan ekspresi kisspeptin ovarium kelompok tikus model SOPK tidak lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Ekspresi BMP15 ovarium kelompok tikus model SOPK tidak lebih rendah dibanding kelompok kontrol. Tidak didapatkan korelasi antara kadar kisspeptin serum dengan ekspresi kisspeptin ovarium dan ekspresi BMP15 ovarium sedangka antara ekspresi kisspeptin ovarium dengan ekspresi BMP15 ovarium didapatkan korelasi. Kadar kisspeptin serum dan ekspresi kisspeptin ovarium tidak lebih tinggi serta ekspresi BMP15 ovarium tidak lebih rendah. Tidak didapatkan korelasi antara kadar kisspeptin serum dengan ekspresi kisspeptin ovarium dan ekspresi BMP15 ovarium sedangkan antara ekspresi kisspeptin ovarium dan ekspresi BMP15 ovarium didapatkan korelasi.
| Item Type: | Thesis (Other) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKA KK Sp.FK.OG 28 - 23 ACH k | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Kisspeptin, BMP15, SOPK, Quality of Oosit | |||||||||
| Subjects: | R Medicine > RG Gynecology and obstetrics > RG1-991 Gynecology and obstetrics | |||||||||
| Divisions: | 01. Fakultas Kedokteran > Obstetri Dan Ginekologi (Sub Spesialis) | |||||||||
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Depositing User: | Ika Rudianto | |||||||||
| Date Deposited: | 29 Sep 2026 07:15 | |||||||||
| Last Modified: | 29 Sep 2026 07:15 | |||||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/148080 | |||||||||
| Sosial Share: | ||||||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


