Mustikoweni Poernomohadi, - and Wahju Tjahjaningsih, - and Suwarno, - and Muhammad Arief, - (1993) Deteksi Residu Antibiotika Pada Udang Dari Beberapa Daerah Di Jawa Timur. Other thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (RINGKASAN)
RINGKASAN.pdf Download (2MB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
MUSTIKOWENI POERNOMOHADI.pdf Restricted to Registered users only Download (6MB) | Request a copy |
Abstract
Pemberian antibiotika untuk mengobati udang yang dilakukan menjelang udang dipanen dapat menyebabkan residu antibiotika pada udang yang membahayakan konsumen. Jawa Timur merupakan produsen udang beku dan mampu mengekspor produknya, maka perlu dilakukan pengujian residu antibiotika agar tidak mendapat klaim dari pihak importir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi dan mengukur kadar residu antibiotika pada udang yang diproduksi dari tambak di Jawa Timur. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan kadar residu antibiotika sampai pada batas yang diperbolehkan. Pengujian residu antibiotika pada udang dilakukan secara mikrobiologis dengan diffusion test. Sampel udang diambil dari Banyuwangi, Jember, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Sampang, dan Lumajang. Ekstrak residu dibuat dengan menggunakan pelarut metanol asam (1 liter metanol + 20 ml HCl pekat), aseton asam (1 volume 4 N HCl + 13 volume aseton + 6 volume H₂O), dan isoamil alkohol. Sebagai indikator digunakan kuman Escherichia coli ATCC 15221, Sarcina lutea NCIB 8553, dan Bacillus cereus ATCC 1178, sebesar 1.200 juta per mililiter yang setara dengan standar McFarland No. 4. Zona hambatan yang terbentuk di sekitar disc blanko diukur diameternya dengan jangka sorong dan dibandingkan dengan kurva baku antibiotika. Kurva baku diperoleh dengan cara membuat kurva yang menghubungkan antara diameter hambatan dengan berbagai pengenceran antibiotika murni. Bentuk kurva baku ditentukan melalui pengujian polinomial ortogonal. Usaha menurunkan residu antibiotika dilakukan dengan menyimpan udang dalam freezer, dalam keadaan dikupas dan tidak dikupas, selama dua minggu dan setiap minggu diukur kadar residunya. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi. Pengolahan data menggunakan metode analisis varian dan dilanjutkan dengan Duncan's Multiple Range Test. Dari 12 daerah yang diambil sampel udang, ternyata 8 daerah menunjukkan adanya residu antibiotika. Antibiotika yang terdeteksi adalah tetrasiklin (Situbondo, Sidoarjo, dan Banyuwangi), klortetrasiklin (Sidoarjo, Gresik, Situbondo, Probolinggo, dan Banyuwangi), serta oksitetrasiklin (Sidoarjo dan Situbondo). Udang yang diduga mengandung residu oksitetrasiklin atau tetrasiklin berasal dari daerah Surabaya, Pasuruan, dan Sampang. Udang yang disimpan dalam freezer selama dua minggu dapat menurunkan kadar residu antibiotika, terutama pada udang yang disimpan dalam keadaan dikupas, yang lebih cepat mengalami penurunan kadar residu antibiotika. Disarankan kepada petani tambak agar tidak menggunakan antibiotika pada saat menjelang panen (±25 hari) atau menggunakan antibiotika sesuai dengan aturan pemakaian. Bagi pihak cold storage harus selalu melakukan pengujian residu antibiotika pada udang yang akan disimpan dalam cold storage dan menjelang diekspor untuk menghindari klaim dari pihak importir. Sumber: L.P. Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, No. 457/P4H/DPPM/L-3311/BBI/1992, 17 Juni 1992.
| Item Type: | Thesis (Other) | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Antibiotika, Udang | ||||||||||
| Subjects: | S Agriculture > S Agriculture (General) | ||||||||||
| Divisions: | 06. Fakultas Kedokteran Hewan | ||||||||||
| Creators: |
|
||||||||||
| Depositing User: | Fahimatun Nafisa Nafisa | ||||||||||
| Date Deposited: | 30 Sep 2026 04:56 | ||||||||||
| Last Modified: | 30 Sep 2026 04:56 | ||||||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/148147 | ||||||||||
| Sosial Share: | |||||||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


