Hubungan Efektivitas Bufer Saliva Dengan Intensitas Karies

Kun Ismiyatin, - (2002) Hubungan Efektivitas Bufer Saliva Dengan Intensitas Karies. Other thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (RINGKASAN)
RINGKASAN.pdf

Download (1MB)
[img] Text (FULLTEXT)
Drg. Kun Ismiyatin, M.Kes..pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/wplib/

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab permasalahan: (1) Apakah ada perbedaan efektivitas bufer saliva pada penderita karies rendah dan tinggi. Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang dapat mengenai email, dentin maupun sementum yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan sehingga akan menurunkan pH menjadi asam dan berakibat melarutkan mineral dan menyebabkan kerusakan bagian organik gigi. (Kidd dan Bechal, 1987, Willet dkk, 1991, Bratthall, 2001). Konsep lain dari karies adalah proses demineralisasi-remineralisasi, berarti bila lingkungan menjadi lebih asam maka terjadi proses demineralisasi sehingga hidroksiapatit akan larut, tetapi dengan meningkatnya pH akan terjadi proses remineralisasi (Mount dan Hume, 1998, Bratthall, 2001). Rongga mulut dilindungi oleh saliva yang merupakan bahan alkaline dan melindungi jaringan mulut terhadap sifat asam dari makanan dan plak, karena saliva berfungsi sebagai bufer dan netralisasi yang sangat efektif untuk mengurangi sifat kariogenik dari makanan (Amerongen dkk, 1992, Edgar, 1992). Sukrosa merupakan jenis gula yang paling kariogenik, sedangkan streptococcus mutans adalah bakteri yang paling kariogenik. Sukrosa akan disintesa oleh streptococcus mutans membentuk glukan yang merupakan massa yang bersifat lengket pada permukaan gigi sehingga menjadi tempat perlekatan kuman dan terbentuk plak. Dari dalam plak, sukrosa akan dimetabolisme oleh streptococcus mutans menjadi asam. (Slots dan Taubman, 1992, Davenport, 1990). Derajat keasaman (pH) saliva dan kapasitas bufer ditentukan oleh susunan kuantitatif dan kualitatif elektrolit di dalam saliva, sedangkan pH saliva tergantung dari perbandingan antara asam dan konjugasi basanya. Kapasitas bufer saliva adalah kemampuan menyangga dan menetralkan kembali penurunan pH saliva saat bakteri plak sedang memetabolisme gula, terutama ditentukan oleh kandungan bikarbonat, sedangkan fosfat, protein, amoniak dan urea merupakan tambahan sekunder pada kapasitas bufer (Roth dan Calmes, 1981, Amerongen dkk, 1992). Menurut Mount dan Hume (1998), penderita dengan karies aktif, jumlah streptococcus mutans dan lactobacillus lebih banyak dari penderita karies rendah dan bebas karies. Tujuan Penelitian ini adalah mempelajari perbedaan efektivitas bufer saliva pada penderita karies rendah dan tinggi. Penelitian dilakukan pada penderita laki-laki yang datang di klinik FKG Unair yang mempunyai karies kelas I, karies media dengan diagnosa pulpitis reversibel dengan nilai Decay (D) = 2 (karies rendah), sedangkan karies tinggi nilai Decay (D) = 6. Bila didapatkan karang gigi maka dilakukan pembersihan karang gigi terlebih dahulu, dilakukan pemulasan pada gigi-geliginya untuk membersihkan sisa sisa makanan dan plak. Penderita diajari cara menyikat gigi dengan metode roll. Esok hari, penderita diinstruksikan menggosok gigi setelah sarapan pagi, dan tidak boleh makan dan minum selama 2 jam (untuk menetralisir asam), setelah itu dilakukan pengukuran pH saliva. Sebelum menggunakan pH meter, alat pH meter harus dikalibrasi terlebih dahulu agar pengukurannya akurat. Dilakukan pengukuran pH saliva sebelum diberi perlakuan (pH awal) sebagai kontrol dengan cara saliva dari penderita ditampung dalam pot plastik sebanyak 1 ml dengan terlebih dahulu menganjurkan penderita untuk mengumpulkan saliva di bawah lidah. Pengukuran pH saliva dengan cara memasukkan pen test ke dalam saliva yang telah ditampung kira-kira 1 menit sampai angka pada pH meter menunjukkan angka yang stabil. Selanjutnya penderita diinstruksikan untuk kumur selama 2 menit dengan 15 ml larutan sukrosa 10%. Pengukuran pH saliva dilakukan pada menit ke 2, 12, 22, 32, 42, 52 dan 62 dengan cara seperti yang telah dijelaskan di atas. Untuk menghilangkan sisa sukrosa yang ada di dalam rongga mulut setiap kali selesai pengambilan sampel, penderita diinstruksikan menyikat giginya. Dari hasil penelitian terlihat gambaran mengenai perubahan pH saliva pada kelompok karies rendah dan tinggi setelah kumur larutan sukrosa 10%. Pada kelompok karies rendah terjadi penurunan pH saliva pada menit ke 0-2, pH paling rendah pada menit ke 2 yaitu 5,93, masih di atas titik kritis dan pada menit ke 12 telah terjadi peningkatan pH dan kembali ke pH awal pada menit ke 32. Pada kelompok karies tinggi, terjadi penurunan pH pada menit ke 0-2, dan paling rendah pada menit ke 12 yaitu 4,3038, berarti di bawah titik kritis. Dan pada menit ke 12 masih terjadi penurunan pH saliva. Pada menit ke 62, pH saliva belum kembali ke pH awal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kapasitas bufer saliva lebih efektif pada kelompok karies rendah dibanding dengan kelompok karies tinggi.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: Intensitas Karies
Subjects: R Medicine > RK Dentistry > RK1-715 Dentistry
Divisions: 02. Fakultas Kedokteran Gigi > S1 Kedokteran Gigi
Creators:
CreatorsNIM
Kun Ismiyatin, --
Depositing User: Fahimatun Nafisa Nafisa
Date Deposited: 02 Oct 2026 08:00
Last Modified: 02 Oct 2026 08:00
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/148405
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item